Beragama dan Berbudaya: Wujud Cinta Tanah Air

Beragama dan Berbudaya: Wujud Cinta Tanah Air

- in Suara Kita
158
0

Hubungan antara agama dengan kebudayaan merupakan sesuatu yang ambivalen. Di dalam menggunakan Tuhan dan di dalam mengungkapkan rasa indah akan hubungan manusia dengan “Sang Khalik”, agama-agama kerap menggunakan kebudayaan secara massif. Kita dapat melihat hal ini, umpamanya, ikon-ikon, patung-patung, lukisan-lukisan, atau prosesi-prosesi pada saat penyaliban Isa al-Masih. Bahkan, drama politik biasa seperti terbunuhnya Sayyidina Hussein, cucu Nabi Muhammad di tangan Yazid, yaitu Muslim bin Aqil, di kota Karbala (sekitar 150 km sebelah Baghdad), kadang-kadang diangkat menjadi peristiwa agama. Pada tanggal 10 Muharram setiap tahun, peristiwa itu dirayakan secara besar-besaran dan jutaan orang datang untuk menyaksikan diperagkannya drama (prosesi) berbagai tahap kehidupan Sayyidina Hussein (termasuk ketika dia dibunuh) di berbagai bagian kota itu.

Kita dapat pula melihat jenis prosesi lain seperti barongsai, yang sesungguhnya juga merupakan peristiwa agama. Ketika Sang Naga (dalam kepercayaan Kongfusian) berusaha menguber pusaka Cuk yang bulat kecil dan kaya mutiara. Maka, di situ diperlambangkan sebuah pergulatan antara kerangka murkaan dengan kearifan penguasa. Sementara itu, di Bali atau Malaysia, orang-orang Hindu selalu menggunakan salah satu unsur budaya, yakni seni, di dalam upacara keagamaannya.

Dari semua contoh di atas, jelas sekali bahwa aspek keindahan sengaja dierlihatkan sebagai upaya manusia untuk mengabadikan hal-hal yang dianggapnya paling menentukan di dalam kehidupannya. Dapatlah dikatakan bahwa unsur kebudayaan yang paling utama dalam kehidupan manusia ialah seni.

Peran Seni

“Seni Islami tidak harus bicara tentang Islam atau hanya dalam bentuk kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an (Quraish Shihab, 2015)”.

Peryataan Quraish Shihab ini menanggapi umat Islam yang membid’ah-kan seni. Padahal seni adalah ekspresi ruh yang mengandung dan mengungkap keindahan. Syair, nyanyian, tarian dan peragaan di pentas, lukisan atau pahatan, semuanya adalah seni, selama terpenuhi  unsur keindahan. Hal inilah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari 1340 jenis suku.

Seni adalah keindahan. Ia dapat tampil dalam beragam bentuk dan cara. Apa pun bentuk dan caranya, selama  arah yang ditujunya mengantar manusia ke nilai-nilai luhur, maka ia adalah seni Islami. Karena itu, Islam dapat menerima aneka ekspresi keindahan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai al-Khair dan al-Ma’ruf, yakni nilai-nilai universal yang diajarkan Islam serta nilai lokal dan temporal yang sejalan dengan budaya masyarakat selama tidak bertentangan dengan  al-Khair tersebut. “Allah Maha-indah menyukai  keindahan,” sabda Rasul saw. Dia menganugerahi manusia fitrah menyenangi keindahan. Karena itu, mustahil seni dilarang-Nya, kecuali jika ada unsur luar yang menyertai seni itu. Siapa yang tidak tergerak hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya atau oleh alat musik dengan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati. Demikian kata al-Ghazaly.

Sunan Kalijaga misalnya, ketika beliau berdakwah, beliau akan menggelar pertunjukan wayang dan memainkannya untuk mengundang banyak orang datang. Dalam pertunjukan itu, beliau menyisipkan pesan moril dan dakwah islam secara perlahan agar masyarakat yang mayoritas masih memeluk Hindu dan Budha itu tertarik untuk mengetahui Islam lebih dalam.

Ki Enthus Susmono sebagai Bupati Tegal priode 2014-2019 dan seorang dalang, dengan segala kiprahnya yang kreatif di dunia seni pewayangan, inovatif serta intensitas eksplorasi yang tinggi, telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu dalang kondang, kharismatik dan terbaik yang dimiliki Indonesia. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan dan tuntutan yang disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan.

Kekuatan mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya pakeliran-nya menjadi hidup dan interaktif. Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan Ki Enthus Susmono, bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual dan menghibur.

Ribuan penonton selalu membanjiri saat ia mendalang Ki Enthus Susmono. Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, media dakwah, melainkan juga sebagai media alternatif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Hal seperti inilah yang perlu dicontoh dan diamalkan oleh para seniman Indonesia.

Di sisi lain “teologia” dalam usaha Ki Enthus Susmono menerangkan adanya Tuhan dan memfungsikan hubungan manusia dengan Tuhan, juga memakai unsur lain dari kebudayaan, yaitu pemikiran-pemikiran filosofis. Refleksi filosofis (mengenai agama) adalah sesuatu yang bersifat keagamaan. Di situ terlihat bahwa kebudayaan dimanfaatkan oleh agama dan di situ juga terjadi proses penyesuaian antara kebudayaan dan agama secara utuh.

Dengan demikian Islam Nusantara sebagai sumbangsih pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga bukan anti terhadap budaya Arab. Hanya saja Islam Nusantara ingin merepresentasikan ciri khasnya sendiri. Tentu saja penting untuk membedakan antara islamisasi (nilai-nilai Islam) dengan arabisasi (budaya bangsa Arab), karena Islam dilahirkan di Arab saja sehingga orang pada umunya memandang Islam identik dengan Arab, pandangan seperti itu kurang benar dan tidak baik.

Islam Nusantara berpijak bahwa arabisasi tidak selalu cocok diterapkan di Nusantara karena perbedaan iklim, geografis, kultur dan cara pandang masyarakat Arab. Apalagi saat ini dunia Arab sedang mengalami krisis degradasi nilai (mulai dari peperangan, pertikaian antar kelompok atas nama agama, krisis identitas, krisis politik, dan krisi ekonomi). Selain itu, posisi dunia saat ini yang tidak bisa dipisahkan oleh derasnya arus globalisasi, baik antara ruang, waktu, dan informasi tak terbatas tanpa sekat. Adanya identitas diri (dalam bentuk budaya) penting untuk dipertahankan sebagai bentuk eksistensi suatu peradaban.

Perlu kita cermati bersama, bahwasanya budaya tidak bisa lepas dari keagamaan. Apalagi bangsa kita Indonesia ini memiliki ribuan suku yang terdiri dari sub suku dan memiliki enam agama yang diakui mengharuskan sikap toleransi antar sesama umat. Toleransi di sini meliputi cara beribadat masing-masing agama, ritual-ritual suku maupun agama dan pertunjukan seni budaya yang lahir dari suku yang ada di Indonesia.

Usaha merawat budaya sebagai wujud cinta tanah air, untuk membangun negara yang arif dengan kebudayaan lokal. Harapan kita para penerus bangsa memiliki kewajiban merawat, melestarikan dan menjaga warisan leluhur supaya tidak diklaim oleh negara lain. Kasus “Reog Ponorogo” yang diklaim Malaysia sudah cukup untuk menjadi pembelajaran.

 

Facebook Comments