Merawat Kearifan Lokal, Memperkokoh Karakter Bangsa

Merawat Kearifan Lokal, Memperkokoh Karakter Bangsa

- in Editorial
250
0

Dengan beragamnya suku bangsa dan etnis di negeri ini, banyak sekali kekayaan khazanah pengetahuan dan tradisi lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penguatan wawasan dan ideologi kebangsaan. Pengetahuan dan kearifan tersebut telah lama dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia yang telah membentuk nilai dan karakter dalam berhubungan antar individu, antar masyarakat maupun antara manusia dengan alam sekitar.

Kearifan lokal merupakan seperangkat nilai tentang kebijaksaaan, kearifan dan keluhuran yang menjadi cara pandang masyarakat dalam memandang lingkungannya. Kearifan lokal telah menjadi sumber moral, nilai dan pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup dinamis dan saling berdampingan. Dalam prakteknya, kearifan lokal dapat ditemukan dalam semboyan, pepatah, nyanyian, pepatah, kitab-kitab kuno ataupun perilaku yang melekat di masyarakat seperti saling tolong menolong, gotong royong, guyub, tegur sapa, dan toleransi.

Karakter kearifan lokal bangsa ini sangat fleksibel, adaptif dan dinamis. Bangsa ini mudah melarutkan nilai baru dan menyerapnya dalam bingkai keIndonesiaan. Sehingga apapun nilai, kepercayaan dan keyakinan yang masuk ke nusantara selalu melebur dalam khas dan karakter nusantara. Namun, karakter ini akan menjadi boomerang apabila masyarakat tidak mempunyai imunitas kultural yang kuat dalam menghadapi pembaharuan dan perubahan.

Dewasa ini, kearifan lokal mulai memudar seiring dengan perubahan zaman dan munculnya pergeseran nilai di tengah masyarakat. Ketidakmampuan masyarakat dalam melestarikan kearifan tersebut sejalan dengan serbuan nilai baru yang mengimpit masyarakat melalui berbagai isntrumen dan media. Sajian nilai baru yang massif telah menggerus nilai dan pengatuan kearifan lokal hingga karakter berbangsa pun menjadi berubah.

Sikap individualis, apatis, asosial, intoleran, dan praktek kekerasan menjadi nilai baru sebagai cara pandang melihat realitas sosial di sekitarnya. Masyarakat Indonesia dengan budi daya tinggi dan sangat menghargai keragaman, sopan, santun, ramah dikejutkan dengan hadirnya wajah baru masyarakat yang senang menghibur dengan fitnah, hasutan, cemohan dan gampang mencaci maki.

Kearifan lokal yang menjadi karakter dan jati diri bangsa mulai pudar. Muncul wajah baru manusia Indonesia yang gampang menyalahkan, mencaci maki, melecehkan dan mudah tersulut provokasi dalam tindakan kekerasan. Anak kecil sudah tidak menghormati yang tua dan yang tua sudah tidak menghargai yang muda. Norma kesantunan menjadi pudar digantikan dengan sikap kasar dan saling menyalahkan.

Kearifan lokal sejatinya bukan hanya warisan para pendahulu, tetapi telah menjadi nilai dan karakter bangsa. Merusak kearifan tersebut sama halnya merubah cara kita berbangsa. Kearifan tersebut akan terjaga dan terawat apabila nilai tersebut dipertahankan dalam perilaku dan sikap kita sehari-hari.

Kearifan lokal harus hidup dan terus dihidupkan sebagai benteng menjaga karakter dan jati diri bangsa.  Kearifan lokal merupakan sumber rujukan aspek-aspek moral, sosial, dan spiritual dari perilaku yang diperlukan bagi pribadi dan sosial dalam kehidupan berbangsa yang penuh tantangan seperti saat ini.

Banyak negara dan masyarakat yang terkulai lemas karena konflik dan kekerasan karena mereka gagal dalam mewujudkan persamaan perspesi dan visi bermasyarakat. Indonesia sepatutnya bersyukur dengan ragam kearifan lokal yang telah lama menjadi sumber nilai bagi masyarakat. Kearifan lokal inilah yang selama ini membentengi masyarakat Indonesia yang beradab. Mari rawat kearifan lokal sebagai benteng memperkokoh karakter dan jati diri bangsa.

Facebook Comments