Budaya ‘Gotong-Royong’ sebagai Strategi Menangkal Radikalisme

Budaya ‘Gotong-Royong’ sebagai Strategi Menangkal Radikalisme

- in Narasi
6
0
Budaya ‘Gotong-Royong’ sebagai Strategi Menangkal Radikalisme

Virus dan gerakan radikalisme di Indonesia sudah tak bisa dianggap remeh lagi. Setiap harinya ia mampu menginfeksi banyak kalangan yang imun kebangsaanannya lemah. Bahkan, beberapa kasus menunjukkan bahwa gerakan radikalisme di Indonesia juga menyasar kalangan santri cerdas (dengan rangking 1-10) untuk direkrut sebagai anggota teroris.

Kelompk atau pelaku perekrutan santri-santri cerdas itu adalah kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI). Pada 2021 lalu, total sudah ada 95 orang yang telah dilatih mulai dari keterampilan dasar (dari pengajaran ilmu bela diri, penggunaan senjata tajam) hingga kemampuan khusus seperti (teknik merakit bom dan penyergapan).

Data sekaligus fakta di atas membuka mata kita lebar-lebar, bahwa gerakan dan indoktrinasisi gerakan radikalisme itu sudah ada di sekitar kita, pun kita adalah orang pesantren yang notabene akrab dengan pelajaran-pelajaran keagamaan yang damai dan ramah. Juga, hal itu memberitahu kita bahwa gerakan radikalisme di Indonesia bisa menyasar siapa saja, termasuk mereka yang cerdas secara ilmu keagamaan.

Begitulah gerakan virus radikalisme yang kerap kali menipu kita. Ia selalu tampil memukau di depan semua orang sehingga mampu menginfeksi hampir setiap orang yang berkontak fisik atau bersentuhan tidak langsung di dunia maya dengannya.

Oleh karena itu, di tengah semakin mewabahnya virus radikalisme di tengah masyarakat kita, meneguhkan semangat bergotong-royong untuk bersama-sama melakukan deteksi dini wabah radikalisme di sekitar kita sangatlah penting. Kita semua harus menjadi detektif sekaligus spesialis wabah radikalisme ini.

Bendera perlawanan terhadap gerakan radikalisme harus selalu kita kibarkan secara kolektif di seluruh penjuru Indonesia. Hal itu tiada lain, karena kita sudah sama-sama menyadari bahwa wabah radikalisme ini sangatlah mengancam terhadap kehidupan kita di bumi Indonesia. Anak cucu kita harus terbebas dari wabah yang dilahirkan oleh orang-orang yang salah dalam memahami agama ini.

Semangat gotong royong dalam mendeteksi gerakan radikalisme sejak dini itu bisa kita lakukan secara kolektif dari hal yang terkecil. Misalnya, mulai dari keluarga kita, teman kita, saudara-saudara kita, hingga ke karib kerabat kita. Di sela-sela kesibukan kita dalam menjalani aktivitas kehidupan kita, kita harus memastikan bahwa keluarga dan yang lainnya terbebas dari pengaruh dan doktrin gerakan radikalisme ini.

Jikapun misal, kita menemukan anggota keluarga kita, atau teman kita yang menunjukkan gejala tidak baik, dalam artian telah terinfeksi wabah gerakan radikalisme, maka secepatnya kita harus mengingatkannya. Atau alangkah lebih baiknya melaporkannya kepada pemerintahan setempat, atau ke pihak keamanan setempat agar ia bisa diamankan dan tidak menularkan virus berbahaya itu kepada yang lainnya. Juga, agar ia segera mendapat penanganan dan secepatnya bisa divaksinasi.

Hal semacam itu harus dilakukan oleh kita. Demi percepatan pengananan wabah radikalisme di Idonesia. Pekerjaan yang dilakukan secara bergotong-royong akan lebih mudah untuk diselesaikan. Termasuk dalam menangani wabah radikalisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Semangat gotong-royong ini sebenarnya adalah ciri khas dari masyarakat kita, namun dalam hal melakukan deteksi dini gerakan radikalisme, semangat gotong royong ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Karena itu, dalam dalam praktiknya, semangat gotong-royong untuk melawan radikalisme ini harus kita teguhkan kembali.

Facebook Comments