Bukan Sekedar Menasehati

Bukan Sekedar Menasehati

- in Editorial
3188
0

Satu ketika, cucu Nabi Hasan dan Husein bertemu seorang kakek tua yang sedang berwudhu. Dalam pandangan mereka cara berwudhu yang dilakukan si kakek tidak tepat dan banyak salahnya. Hasan dan Husein kala itu berdiskusi kecil, mereka ingin memberi tahu cara berwudhu yang benar kepada si kakek tanpa menyinggung perasaannya.

Mereka pun kemudian bersepakat untuk ‘pura-pura’ melakukan perlombaan wudhu. Si kakek pun diminta untuk menjadi jurinya. Lomba segera dilakukan dan kedua cucu kesayangan Nabi itupun segera menunjukan kepada si kakek cara berwudhu yang baik dan benar. Setelah melihat cara berwudhu mereka si kakek akhirnya tersadar bahwa cara berwudhu yang selama ini ia lakukan adalah salah.

Apa yang dilakukan Hasan dan Husein dalam kisah di atas mengajarkan kepada banyak orang tentang kearifan dan kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran. Mereka bisa saja tanpa harus berbasa-basi mengatakan bahwa cara berwudhu si kakek salah. Tapi cara itu mengandung resiko, yaitu ketersinggungan dan marah.

Salah satu naluri alamiah yang ada pada makhluk hidup adalah sikap pertahanan diri (self defense), termasuk juga manusia. Dengan sikap ini, makhluk hidup dapat mempertahankan dirinya dari berbagai upaya yang berpotensi mencelakakannya. Bentuk pertahanan diri pada binatang ditunjukan lewat respon cepat melakukan perlawanan ketika terusik, seperti Kucing yang langsung mencakar saat merasa diganggu.

Dalam konteks manusia sikap ini adalah bagian dari cara interaksi dan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu, self defense pada manusia merupakan cara untuk memahami sekaligus menganalisis keadaan yang sedang terjadi. Ketika manusia merasa terganggu eksistensinya ia tidak langsung melakukan perlawanan seperti yang terjadi pada binatang. Insting perlawanan itu akan dikirim terlebih dahulu ke otak untuk meminta persetujuan mengenai respon balik apa yang akan diberikan.

Sayangnya, respon balik yang diberikan tidak selalu berbuah positif dengan sikap penerimaan. Biasanya kecenderungan self defense justru melahirkan respon balik berupa ketersinggungan dan kemarahan, apalagi kalau yang dihadapinya dianggap ‘kecil’ atau sepele. Kalaupun ia tidak berani menunjukan respon balik berupa kemarahan secara terbuka, setidaknya ‘menggerutu’ di dalam hati jadi pilihan atau mengganggap orang yang mengganggunya bersikap arogan.

Kembali pada kisah di atas, kedua cucu Nabi itu mengajarkan manusia untuk bisa mengemas pesan yang ingin disampaikan. Kebenaran akan jadi efektif jika disampaikan dengan cara-cara yang menjunjung kebenaran. Kreatifitas komunikasi manusia ditantang untuk bisa mengantarkan pesan komunikasi kepada lawan bicara.

Dalam kisah tersebut, pesan utama dari komunikasi yang ingin disampaikan adalah kaifiyat (tata cara) berwudhu yang benar. Menyampaikan pesan komunikasi itu tentu saja ada banyak cara. Di sinilah kreatifitas itu dibutuhkan, karena penyampai pesan (Hasan – Husein) harus memahami kondisi lawan bicara (si kakek). Jika salah cara dalam menyampaikan pesan, maka boleh jadi pesan utama soal kaifiyat wudhu itu tak pernah dipahami.

Dalam konteks kekinian, tak jarang cara-cara yang berlawanan dari kisah di atas yang justru mendominasi. Untuk urusan agama saja, umpatan kafir, bid’ah, khurafat, menjadi makanan sehari-hari saat melabelkan orang lain yang berbeda dengan keyakininan diri sendiri. Ironisnya, di dunia maya perilaku seperti itu dicontohkan oleh sekelompok kecil situs yang mengklaim sebagai media dakwah. Kalaupun saja apa yang disampaikan mereka di media, yang katanya, dakwah itu 100 persen benar, apakah cara mengumpat orang lain seperti itu dibenarkan?!

Alquran pun pernah memuji sikap damai yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad saat berdakwah. Wajah Nabi saat mengajarkan nilai luhur agama disebut dengan ‘bassam’, penuh senyum. Kata-kata yang keluar dari bibir mulianya adalah kebenaran yang disampaikan lewat cara-cara lembut dan penuh kebijaksanaan. Seandainya Nabi memilih cara mengumpat orang lain, atau memaksa, atau berkata keras, pasti dia akan ditinggalkan pengikutnya (QS. Ali Imran: 159).

About the author

Ahmad Dicky Sofyan
Aktifis, penulis isu-isu keislaman-sosial-sejarah, dan jurnalis. Di sela-sela kesibukannya hampir setiap Minggu alumni jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah ini mengisi sejumlah kegiatan keagamaan dan pengajian kampung dan perumahan di seputaran Depok dan Bogor. Baginya menulis adalah cara merawat otak dan watak. Bisa dihubungi di: [email protected]

Related Posts

Facebook Comments