Pak sholat !

Pak sholat !

- in Serba-Serbi
2006
0

Adalah si Panjul, seorang lugu yang sebenarnya miskin namun enggan untuk mengakuinya. Jika sudah begini, ia bisa dengan enteng menjawab,

“Ah, itu kan persepsi orang tentang saya, kan mereka yang bilang kalau saya ini miskin, saya sendiri tidak pernah merasa jadi orang miskin, jadi ya mereka yang salah!”

hal ini ada benarnya juga sih, sebab, jika dibandingkan dengan Pak Gufron, si kaya raya pemiliki puluhan hektar tanah di kampungnya, si Panjul ini tidak akan minder apalagi mundur. Berani taruhan deh, kalau dihitung, si Panjul yang belum pernah sekalipun nyicipi tidak pedesnya sambel KFC ini dalam sehari mampu tertawa jauh lebih banyak dari yang bisa dilakukan oleh Pak Gufron.

Apa hubungannya kemiskinan Panjul dengan kemampuan tertawanya? Ya tentu ada to mas, mbak. Kaya dan miskin itu kan sebenarnya bukan urusan material, dia itu murni bagiannya mental. Dalam hal ini, Panjul tentu lebih kaya daripada Pak Gufron.

Panjul yang tidak memiliki sejengkalpun tanah, kecuali yang ditancapi pondasi rumah yang ia tempati bersama anak dan istri-istrinya, eh kebalik, Istri dan anak-anaknya dikaruniai Tuhan kemampuan untuk tertawa sesering mungkin, sementara hamparan tanah milik menantu mantan lurah desa yang bernama Gufron Samiron ini tak bisa membuatnya tersenyum, apalagi tertawa! Padahal, tertawa itu merupakan ekspresi dari kebahagiaan, kan ga mungkin orang yang baru kerampokan puluhan juta tertawa terpingkal-pingkal, kecuali kalau ia memang gila.

Tertawa itu levelnya berada di atasnya senyum, kalau senyum itu saja merupakan indikasi dari kebahagiaan, apalagi ketawa! Dan hal inilah yang hanya dimiliki oleh Panjul, makanya ia bersikeras menolak disebut sebagai orang miskin. Meskipun, dia selalu berada dibaris terdepan kalau ada pembagian dana Simpanan Keluarga Sejahtera dari pemerintah kita, tabiatnya pun akan sama dengan kebanyakan tetangganya, langsung ngaku dan bangga meneriakkan diri, “Aku miskin! Aku miskin! Aku miskin!”

Panjul ini bukan tipe orang yang seratus persen cuek, ia layaknya kebanyakan orang lainnya, juga memiliki rasa iri. Tak jarang juga terbersit dalam benaknya untuk memiliki sesuatu yang kebetulan dimiliki oleh tetangganya. Ketika pak Nanang suatu ketika pulang dari kantor dengan membopong TV layar datar yang tipisnya seperti tubuh orang-orang di Uganda sana, si Panjul pun langsung memimpikan untuk memiliki juga TV yang serupa, hanya saja ia tidak mau mengakuinya, Gengsi donk! Prinsip hidupnya Panjul kan “Biar kalah nasi, asal menang aksi!” miskin bukan halangan untuk tetap sombong, apalagi, gelar miskin itu kan gelar yang tidak diakuinya. Jadi ya makin muluslah jalannya untuk menjadi sombong.

Kali ini ceritanya agak berbeda, di musim haji ini, lagi-lagi Pak Gufron si orang terkaya dikampung yang dulu sempat berencana untuk menikah lagi gara-gara istrinya sudah tidak sanggup menghabiskan kekayaannya ini berencana untuk menunaikan ibadah haji lagi. Seolah Mekah itu kampung halamannya saja, setiap tahun ia kembali kesana. Meski ketika berangkat haji, ia tidak akan sudi jika istrinya ikut menunaikan ibadah haji,

“Buat apa?” begitu katanya, “Nanti kalau aku haji, kamu akan otomatis haji juga”,

“Loh, kok bisa???” tanya si istri tidak mengerti.

Kalau sudah begini, Pak Gufron pasti akan menjawab santai, “Kamu ini gimana, istri itu dimana-mana pasti nebeng suami. Kalau aku jadi RT, kamu pasti nanti dipanggil bu RT, meskipun kamu bukan RT. Kalau aku jadi camat, kamu juga otomatis akan menyandang gelar bu Camat. Nah, kalau aku naik haji, bukan saja aku yang akan jadi pak haji, kamu juga nanti akan dipanggil orang bu haji! Jadi biar aku saja yang pergi haji. Toh hasilnya nanti juga sama!” begitu jawabnya cetus.

Sebenarnya, yang membuat istri Pak Gufron sebel bukan main tatkala ditinggal haji suaminya ini bukanlah perihal ia yang tidak pernah diajak ‘safari’ haji sang suami yang telah menikahinya puluhan tahun itu. tetapi karena setelah ini ia pasti akan repot banget. Apalagi menjelang kepulangan sang suami dari tanah suci. lelaki yang meskipun sok galak padahal diam-diam suka menangis kalau menonton sinetron ini selalu meminta untuk disambut dengan gegap gempita, sukurannya saja bisa sampai satu bulan! Persediaan buah kurma, tasbih, air zam-zam, dan hal-hal yang berbau-bau Arab itu tak akan habis untuk sukuran sebulan penuh. kalaupun ternyata habis, ya tinggal beli lagi dipasar. Kan banyak!

Singkat cerita, berangkatlah si kaya ini menuju tanah suci. Tentu tanpa ditemani istrinya, Bukan karena ia udah gede, terus berani bepergian sendiri. lawong nyatanya ketika ia berangkat menuju bandara saja, ia minta dianter warga se kampung. Mereka ada yang dinaikkan ke bis, truk, bahkan mobil box! Belum cukup itu saja, semua mobil itu dipasangi sepanduk guede banget bertuliskan “Rombongan Pengantar Jemaah Haji, Gufron Samiron. No hp. 08512365431”

Hanya saja, tidak tampak wajah Panjul dalam barisan pengantar jemaah haji kita satu ini, tentu saja tokoh kita yang satu ini tidak mau mengikuti kelatahan kebanyakan orang yang ada disekitarnya. Sebenarnya, ia memiliki alasan teologis mengenai sikapnya yang menolak untuk ikut mengantarkan keberangkatan orang terkaya di kampungnya itu. menurutnya, ia tidak mau ikut mengagung-agungkan orang yang hendak berangkat haji sebab sesungguhnya haji itu adalah ibadah yang sepele. Dalam urutan rukun islam, haji itu berada dalam posisi urutan yang paling akhir setelah syahadat, sholat, zakat, dan puasa.

Terdapat dua hal yang setidaknya membuat haji itu tampak begitu bergengsi, pertama, besarnya biaya yang harus dikeluarkan seorang calon jemaah haji; biayanya tentu sangat mahal, lebih mahal dari harga sepeda motor saya! Hal ini secara otomatis akan menggiring pandangan masyarakat bahwa haji adalah ibadahnya orang kaya. Orang-orang seperti Panjul tentu tidak akan bisa mengikuti sistem yang seperti ini. kedua, prestise “pelaku” haji ini akan meningkat tajam di masyarakat, bagaimana tidak, lha wong orang-orang jenis ini sudah pernah bertamu ke Baitullah, rumahnya Allah. Maka tak heran jika kemudian, orang-orang yang nama depannya sudah ditambahi huruf “H” sering diminta untuk memimpin doa. Untung saja, kebanyakan orang Islam baru merasa afdol kalau doanya menggunakan bahasa Arab, jadi kalaupun si Haji ini doanya salah, masyarakatnya juga ga akan tau!

Lagi pula, haji itu juga banyak madlorot-nya, ini menurut pendapatnya Panjul loh! Baca terus deh kalau ga percaya.

Dengan membayar mahal untuk melakukan ibadah ini, para calon jemaah haji telah sangat rawan untuk mendekatkan diri pada kemungkinan-kemungkian dosa. Sudah jadi rahasia umum kalau orang-orang Indonesia, dan negara manapun tentunya, doyan banget dengan yang namanya Uang. Berangkat menunaikan ibadah haji berbeda dengan berangkat kerumah mertua, maksudnya, hal itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Ada banyak prosedur yang harus dilalui. Singkatnya, prosesnya sulit lah! Harus lobi sini, lobi sana, dan semuanya itu pakai duit. Intinya, butuh duit banyak untuk bisa berkunjung ke rumah Tuhan yang pernah membesarkan band Nirvana ini. Dengan menyerahkan sejumlah besar uang kepada panitia haji, berarti juga memberikan kemungkinan terhadap terjadinya penyelewangan dana yang dilakukan oleh panitia haji, bahasa halusnya sih, pengalihan fungsi. Orang-orang di KPK sana dengan bangga menyebutnya, “Ini korupsi!”. Trus apa hubungannya dengan uang pembayaran calon haji? itukan ONH alias ongkos naik haji, Jadi ya wajar dong kalau dibayar! Duh, dari tadi kok nanyanya apa hubungannya terus sih?!!!

Ya jelas ada hubungannya dong! Lha kalau ga ada pembayaran, kan otomatis tidak akan ada uang. kalau tidak ada uangnya, lalu apanya yang mau dikorupsi? Dengan tidak ikut membayar ONH, berarti kita (Panjul dan kawan-kawannya itu) telah berusaha untuk tidak memberikan kesempatan sekecil-kecilnya terhadap tindak korupsi!

Berikutnya, akibat prestise tinggi yang didapat seseorang setelah menunaikan ibadah haji, seseorang akan dengan sangat mudah terjerembab dalam lembah kesombongan. Orang-orang di sekitarnya akan memandangnya sebagai orang yang saleh, bersih dari dosa, doanya pasti terkabul, dan berbagai gelar-gelar lainnya. Jika seseorang telah berada diposisi ini, maka sangat besar kemungkinan seorang haji menjadi orang yang lupa daratan, Kayak si Colombus, di lauuuuuuuuttt aja!

Panjul ini menolak melaksanakan ibadah haji, salah satunya ya karena ia menolak untuk berada dalam posisi yang memungkinkan ia menjadi orang yang sombong. Gitu loh! Terkadang, orang yang usai berangkat haji ini bukan saja terjerat penyakit sombong, tapi juga kemaki. Kalau ia diundang untuk menghadiri pengajian, bisa saja ia nesu dan tidak mau memenuhi undangan itu gara-gara di amplop undangan namanya tidak ditulis dengan gelar haji, tidak ada huruf “H” nya. Kemaki tenan to?

Iya kalau hajinya cuma sekali, huruf ‘H’ nya cukup satu, H. Gufron Samiron, Gitu aja! nah kalau hajinya sampai berkali-kali, apa ga jadinya H.H.H.H.H.H.H. Gufron Samiron ?????

Apalagi kalau mengingat betapa haji itu kini menjadi ibadah yang tidak mudah, ada banyak syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Ribetnya birokrasi seperti ini telah menjadi rahasia umum, tetapi hal ini bukannya menurunkan minat masyarakat untuk ngeyel berangkat ke Mekah. Sebab nyatanya hal ini justru kian memacu semangat mereka untuk menunaikan ibadah yang satu ini. mungkin orang-orang ini memandang sulitnya mengurus keberangkatan mereka dengan pandangan teologis, semakin sulit pelaksanaan ibadah, maka semakin banyak pahala yang bisa didapat. Jadi tidak heran dong jika suatu hari anda menemukan calon jemaah haji yang telah membayar lunas namun baru akan berangkat lima tahun lagi, Antri!

Sesungguhnya, Panjul memiliki satu alasan kuat mengapa ia tidak mau ikut serta mengantar keberangkatan Pak Gufron ke bandara. Yakni, ia merasa bahwa dirinya memiliki gelar yang jauh lebih mulia dihadapan Tuhan dibandingkan dengan gelar “haji” nya Pak Gufron.

Rukun Islam itu ada lima, kesemuanya memiliki derajat yang berbeda-beda. Yang paling tinggi adalah pelaksanaan rukun Islam yang ke dua, yakni sholat. Bahkan shalat diakui nabi Muhammad Saw sebagai tiangnya agama. Jadi jelas bahwa orang Islam itu ya orang yang shalat. Kalau shalat saja tapi tidak haji? Ya ndak apa-apa to, lha haji kan tidak wajib. Yang penting shalat saja yang tekun, nanti kalau Allah berkenan, ya kesempatan untuk ‘apel’ ke Mekah akan ada juga. Karena, shalat tapi tidak haji itu boleh, yang tidak boleh itu, mentang-mentang sudah haji, trus tidak mau shalat.

Gelar kebanggaan Panjul ini berkaitan erat dengan perihal haji dan shalat yang itu-itu juga, kalau Pak Gufron saja dapat gelar haji hanya gara-gara telah menunaikan haji, padahal haji itu tidak wajib banget. Maka si Panjul seharusnya berhak menyandang gelar yang jauh lebih bergengsi, yakni “Pak Shalat”. Sebab ia telah melaksanakan rukun islam yang paling utama! yakni shalat itu tadi, bukankah ‘shalat itu adalah tiang agama’? Apalagi, Panjul menjalankan sholatnya bukan sekali dua kali saja dalam setahun, tapi setiap hari! Seharusnya namanyapun bukan hanya Panjul, tapi, Ps. Panjul  Alias pak sholat Panjul. Tapi kok kayaknya gelar ini ga matching ya????

Nah, tentang gelar ini, kita harusnya juga sadar, bahwa ada banyak sekali gelar yang bisa kita tempelin pada nama kita, lewat jalur pendidikan boleh, lewat jalur yang lainpun boleh. Toh itu semua juga gelar to. Meskipun sering sekali gelar-gelar tersebut sama sekali tidak mengindikasikan apa-apa tentang kita, ga pasti juga orang yang punya gelar ‘Prof’ lebih pinter dari yang gelarnya ‘S.Ag’.

Tapi herannya, kebanyakan dari kita telah terpaku dengan betapa dahsyatnya gelar-gelar ini, sampai hal-hal yang sifatnya ibadah sekalipun harus diberi gelar. Padahal ibadah itu untuk Tuhan, jadi kenapa juga ‘pamer’ gelar ke Tuhan? Jangan-jangan, gelar-gelar tersebut adalah bukti keterbatasan kita sebagai manusia; kemampuan kita sangat terbatas pada jenis gelar yang nempel di nama kita. Jika gelar saya adalah “S.Pd” misalnya, maka jangan suruh saya betulin lampu depan yang mati, atau bantuin nanam padi di sawah, sebab saya sarjana pendidikan!

Bagaimana dengan gelar Haji? Boleh saja gelar ini digunakan sebagai indikasi kuat tentang tingkat keimanan seseorang, tapi boleh juga kan kalau gelar ini dimaknai sebagai pertanda keterbatasan seseorang? Jangan-jangan orang yang pada namanya sudah tertempel gelar haji adalah orang yang kemampuannya hanya terbatas pada hal-hal yang itu-itu saja? Kalau diminta jadi imam sholat atau mimpin doa di acara hajatan sih enteng, tapi kalau untuk hal-hal yang diluar itu, hmm,,, pikir ulang deh..

Satu lagi hal yang membuat Panjul tetap bangga dengan ketidak-haji-annya, meskipun ia tidak memiliki gelar haji di jidatnya, toh ia memang lebih baik dari pada haji Gufron yang sering menyepelekan orang miskin, dibandingkan dengan haji petruk, Panjul juga jauh lebih pinter kalau ditanya soal agama. Yah,, kalaupun badan belum bisa berkunjung ke ‘rumah’ Allah di Mekkah sana, yang penting kan hati ga pernah jauh dari Allah, selalu membalas sapaan-Nya minimal lima kali sehari dalam sholat.

Tentang gelar ini, panjul sangat yakin bahwa Tuhan sudah mempersiapkan satu gelar utama untuknya, gelar yang akan didapatinya ketika ia sudah tak lagi ada di dunia ini, yak betul, gelar itu adalah Alm alias Almarhum…

Jika memang gelar adalah bukti keterbatasan kita sebagai manusia, maka gelar itu memang wajib adanya! Gelar-gelar itu harus ada sebagai media untuk mengingatkan betapa kita sangat terbatas. Sarjana teknik, sarjana ekonomi, sarjana sastra, dll. Adalah bukti betapa kita hanya terbatas pada spesifikasi-spesifikasi yang itu-itu saja. Tuhan yang maha pinter dalam segala hal tidak perlu gelar-gelar itu, sebab Ia berada jauh di luar batasan-batasan gelar, bahkan untuk gelar Almarhum sekalipun!

Tuhan kayaknya memang tidak butuh gelar!

About the author

Khoirul Anam
Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Related Posts

Facebook Comments