Cerita Toleransi di Bulan Suci dari Pontianak

Cerita Toleransi di Bulan Suci dari Pontianak

- in Narasi
727
0
Cerita Toleransi di Bulan Suci dari Pontianak

Pontianak, Kalimantan Barat, bisa dibilang tempat berkumpulnya keberagaman. Berbagai agama, suku, etnis dan golongan mewarnai corak kehidupan masyarakatnya. Dari latar suku ada Dayak, Melayu, Jawa, Madura, Tionghoa, Bugis, dan lain-lain. Agama juga komplit. Ada penganut Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan lain-lain.

Memang, Kalimantan Barat pernah mencatatkan sejarah kelabu pertikaian antar suku. Tragedi memilukan konflik Madura-Dayak di Sambas menjadi tragedi paling memilukan yang menelan banyak korban kedua belah pihak. Sebelumnya, beberapa puluh tahun yang silam, sempat juga terjadi bentrok antara Suku Dayak dan Etnis Tionghoa.

Kasus kekerasan berlatar belakang agama juga pernah terjadi di Kabupaten Sintang. Korbannya adalah penganut Ahmadiyah. Namun, sepanjang pengetahuan penulis, masyarakat Kalimantan Barat, seperti umumnya masyarakat Indonesia, merupakan tipikal masyarakat yang mendahulukan musyawarah serta ramah. Entah apa sebabnya sehingga konflik berlatar etnis, suku dan agama sampai terjadi.

Penulis sendiri lahir dan besar di Pontianak sehingga paham terhadap karakteristik masyarakat di sini. Pembauran antar suku, etnis dan agama merupakan hal biasa, serta tidak menjadi sekat pemisah dalam kehidupan keseharian. Saling menghormati dan menghargai menjadi ciri khas masyarakatnya.

Sebagai bukti, pada Ramadhan sekarang banyak dijumpai praktik toleransi. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Daerah Majelis Adat Budaya Tionghoa (DPD MABT) yang membagikan ratusan bungkus takjil kepada setiap pengendara yang melintas di jalan Tanjung Pura. Beragam jenis takjil dan minuman dibagikan, khususnya kepada umat Islam.

DPD MABT melakukan hal itu pada Senin, 27 Maret 2023. Pengalaman Ramadhan sebelumnya, komunitas ini melakukan hal itu tidak hanya sekali saja, namun berulang sekalipun tidak sebulan penuh. Pada bulan suci tahun ini, sekalipun diguyur hujan tidak menyurutkan niat mereka untuk berbagi takjil sebagai bentuk perwujudan rasa kebersamaan dan sikap saling menghormati antar pemeluk agama.

Dikatakan oleh Ketua DPD MABT Pontianak, Hendry Pangestu Lim, tujuan kegiatan bagi-bagi takjil adalah untuk saling berbagi dan bersilaturahmi. Lebih lanjut, menurutnya, sebagi wujud menjaga toleransi antar umat beragama di Pontianak yang selama ini telah berjalan cukup baik.

Memang, selain yang disebutkan di atas, tidak pernah ada lagi kekerasan baik sebab perbedaan suku, etnis maupun agama. Kegiatan yang dilakukan MABT menjadi salah satu faktor paling dominan menciptakan kerukunan antar umat beragama. Sehingga toleransi beragama di Pontianak begitu terjaga.

Sekalipun di bulan Ramadhan warung makan dan cafe-cafe yang memang menjadi ciri khas kota Pontianak tetap buka seperti biasa. Umat Islam tidak merasa terganggu, tidak merasa tidak dihormati, karena memang menjadi kebutuhan non muslim. Hal itu tidak menodai hubungan harmonis antar masyarakat. Sikap saling menghormati tetap terjaga dengan baik.

Kegiatan seperti itu tidak hanya dilakukan oleh MABT, komunitas lain seperti para pemuda yang tergabung dalam FKUB dan yang lain juga melakukan hal sama sekalipun polanya berbeda. Suatu pemandangan sikap toleransi yang indah. Dengan sendirinya kegiatan seperti itu dapat mengembangkan gagasan multikultural di Kalimantan Barat sehingga sejarah kelam yang diceritakan di atas tidak berulang lagi.

Kegiatan MABT membagi takjil serta komunitas lain dari kalangan non muslim merupakan proses penanaman cara hidup untuk menghormati, tulus dan toleran terhadap keragaman agama, suku, etnis dan budaya yang hidup di tengah masyarakat plural di Kalimantan Barat.

Sebab, pada saat nilai hidup mengarah untuk sejatinya menghormati dan mengakui keragaman, maka ada kelenturan mental dalam menghadapi benturan konflik sosial maupun konflik antar agama. Akan menjadi suatu kekuatan dan perekat persatuan apabila setiap elemen lintas agama dan keyakinan bersatu padu di atas akar rumput. Semua akan sadar betapa indahnya perdamaian, ketenangan dan keharmonisan.

Selanjutnya, semua elemen masyarakat akan melihat keberagaman sebagai anugerah dari Tuhan, dan bukan sebagai ancaman. Bagi umat Islam sendiri, dengan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh MABT merupakan akhlak terpuji sebab telah berhasil memfungsikan agama Islam sebagaimana tujuan asasinya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi segala makhluk. Tidak menjadi alat melegalkan praktik-praktik kekerasan. Tetapi agama yang menciptakan kedamaian dan mentransformasi kehidupan manusia.

Nilai-nilai multikultur sejatinya mengarah kepada keterbukaan, humanisme, kebesaran hati menyikapi perbedaan, serta menghormati keyakinan orang lain. MABT yang membagi takjil merupakan embrio berekspresi menghormati dan menghargai perbedaan. Selanjutnya, sikap toleransi akan tumbuh secara baik pada setiap individu.

Parameter penganut agama yang baik apabila nilai kemanusiaan yaitu keadilan, perdamaian dan keharmonisan terjaga dengan baik di tengah kehidupan yang plural. Maka, selain bentuk berbagi antar sesama dan antar pemeluk agama, non muslim berbagi takjil merupakan ekspresi dari sebuah kesadaran beragama yang mendalam dan kecintaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kesadaran mendalam, bahwa keberagaman adalah realitas yang diciptakan oleh Tuhan untuk dihormati.

Suatu kesadaran beragama yang inklusif serta bijak menilai dan menyikapi perbedaan, bukan nalar agama yang berujung kepada kekerasan dan eksklusifitas absolut. Suatu cara beragama yang menihilkan sikap toleransi dan memusuhi setiap golongan yang berbeda. MABT mengajarkan nalar dan hati nurani untuk belajar menerima perbedaan dengan semangat kebhinekaan.

Facebook Comments