Dari Heysesine ke Terorisme

Dari Heysesine ke Terorisme

- in Suara Kita
152
0

Istilah Heysesine mungkin tidak begitu populer di telinga kita dewasa ini. Namun, jika kembali membaca sejarah dunia tengah, maka istilah itu sangat populer pada abad-abad ke-11 hingga ke-13 Masehi. Fenomena Heysesine pernah menjadi perbincangan para elit politik dan agama kala itu mengingat kelompok tersebut merupakan kelompok yang sangat berbahaya dan menjadi ancaman bagi siapapun yang duduk dalam tahta kekuasaan.

Heysesine adalah sebuah nama bagi kelompok yang gemar menggunakan kekerasan, pembunuhan dan pembantaian dalam mencapai tujuannya. Bahkan juga kadang menggunakan metode bunuh diri di tengah kerumunan setelah melakukan sebuah aksi untuk menghilangkan jejaknya. Pada era Perang Salib, orang-orang Eropa menganggapnya sebagai kelompok yang sangat berbahaya yang dapat mengancam eksistensinya di dunia Timur karena kelompok tersebut sangat lihai dalam melakukan aksi kekerasan terhadap oknum-oknum yang diangggap musuh.

Orang Eropa menyebutnya “Assasine” atau para Pembunuh. Bahkan sejumlah ahli bahasa mengatakan bahwa kata “ assasine “ dalam bahasa Inggris yang berarti pembunuh  berasal kata Heysesine. Sementara di Timur Tengah menyebutnya Heysesine atau Assa-sine yang berasal dan berakar dari kata “Hasyas” yang berarti ganja, karena mereka gemar menikmati ganja dalam bentengnya. Ai juga bisa berasal dari kata ‘Assasa” yang berarti membangun karena mereka membangun benteng maut yang sangat kuat dan kokoh di atas puncak gunung.

Heysesine lahir sebagai akibat atas perbedaan pandangan dalam masalah keagamaan dan kekuasaan khususnya pada era lahirnya dinasti-dinasti baru pada awal kemunduran kekhilafaan dalam Islam. Heysesine mirip dengan gerakan Sicarii dalam agama Yahudi yang pernah muncul sebagai suatu gerakan yang menggunakan kekerasan, pembunuhan, pembantaian atau penikaman terhadap siapapun yang dianggap musuh dan sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa. Sicarii  juga muncul  sebagai reaksi terhadap ekspansi kekuasaan Romawi ke wilaya Timur seperti, Suriah dan Palestina yang menjadi wilayah dominasi Yahudi. Tidak sedikit pembesar dan tokoh agama yang tewas di tangan Heysesine antara lain Raja Yerussalem, Conrad of Manfretta dan sejumlah tokoh agama Islam dan Nasrani saat itu.

Sebagai satu kelompok yang menggunakan kekuatan, pembunuhan dan pembantaian serta bunuh diri sebagai sebuah taktik untuk menciptakan ketakutan di tengah-tengah masyarakat saat itu, mereka juga mengklaim ajarannya sebagai ajaran yang benar dan memaksa orang mengikutinya dengan berbagai cara, walaupun sangat jelas ajaran yang diklaim itu menyimpang dari ajaran yang benar.

Kelompok ini cenderung dicap sebagai kelompok pemberontak dan gerombolan yang tidak memiliki prinsip dasar perjuangan dan mengancam eksistensi setiap dinasti yang berkuasa pada era itu. Hal ini dapat dilihat dari sikap kelompok tersebut yang tidak konsisten terhadap pendiriannya dan sering dimanfaatkan oleh kekuatan lain seperti Suriah yang menggunakan kelompok ini  dalam menghadapi serangan Mongolia di bawah komando Jenkis Khan. Heysesine tampil sebagai salah satu pasukan terdepan menghadapi pasukan Jenkis Khan. Demikian pula pada peristiwa upaya pembunuhan Salahuddin Al Ayyubi yang berhasil membebaskan wilayah Palestina dari pasukan Salib, ditengarai bahwa Heysesina dimanfaatkan oleh komandan-komandan militer pasukan Salib.

Marcopolo pernah menceritakan dalam kisah perjalannya tentang Heysesine bahwa mereka memiliki satu benteng yang kuat dan kokoh di atas puncak gunung dan tidak membolehkan seseorang pun masuk ke dalam benteng itu kecuali pengikutnya atau mereka yang sudah menyatakan siap bergabung ke dalam kelompok itu. Di dalam benteng yang kokoh itu yang berada di perbatasan Iran-Afghanistan saat ini terdapat semua bentuk kenikmatan, minuman keras, buah-buahan, vila-vila yang indah, wanita-wanita cantik yang bebas dinikmati jika seseorang masuk dalam benteng tersebut.

Menurut Marcopolo tokoh Heysesine setiap kali membawa pengikut-pengikutnya atau mereka yang ingin bergabung ke dalam kelompoknya masuk ke dalam benteng tersebut, mereka akan disuguhi berbagai hiburan, makanan dan wanita-wanita cantik dan membiarkan mereka larut ke dalam kenikmatan hingga mereka mabuk. Setelah mereka sadar barulah mereka diminta menghadap ke pimpinannya dan bersujud di depannya lalu menanyakan dari mana kalian? maka mereka menjawab dari surga. Setelah itu, pimpinannya meminta mereka melanjutkan kenikmatan itu hingga mereka puas.

Setelah itu, pimpinannya meminta untuk pergi ke daerah-daerah dan pelosok-pelosok untuk mencari orang-orang yang masuk dalam daftar pencarian untuk dibunuh. Jika mereka menemukannya maka akan membunuhnya dengan berbagai tipu muslihat. Jika ia tewas maka ia akan masuk syurga dan jika mereka selamat dan kembali ke benteng itu, ia akan masuk ke kehidupan syurga dalam benteng itu.

Istilah terorisme pada masa Heysesine dan Sicarii belum populer kala itu, sehingga sejarah tidak menyebutnya sebagai kelompok terorisme. Namun sifat dan karakteristik serta motif dan background kedua kelompok ini sama dengan motif, tujuan dan background kelompok terorisme di era sekarang ini misalnya, El shabab, Abu Sayyaf, Moute, ISIS dan sejumlah kelompok teroris lainnya termasuk di Indonesia yang juga menggunakan metode dan taktik yang sama yang digunakan oleh kedua kelompok itu.

Jika Heysesine adalah sebuah gerakan doktrin yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tuujuan politiknya, maka kelompok-kelompok yang ada sekarang ini yang juga menggunakan metode yang sama  memiliki kemiripan dengan  kelompok Heysesine dan Sicarii yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perjuangan agama apalagi Islam, tetapi lebih sebagai kepentingan politik tertentu.

Facebook Comments