Dimensi Eksoteris Islam dan Cerminan Persaudaraan Masyarakat Desa

Dimensi Eksoteris Islam dan Cerminan Persaudaraan Masyarakat Desa

- in Suara Kita
98
0

Tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat kekerasan. Semua berlomba-lomba menularkan perdamaian dan ketenangan.  Bila kemarin-kemarin terjadi tindakan yang berseberangan dengan agama itu jelas bukanlah salah agama. Itu hanya ulah oknum umat beragama yang salah dalam memahami agama.

Dalam agama islam diajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia tak pandang apa agama, suku, etnis dan ras seseorang. Ajaran Islam terbagi atas dimensi esoteris dan eksoteris. Esoteris dalam islam mengajarkan hubungan transendental (hablum minallah). Ia terkait ibadah mahdoh dengan penciptanya.

Sedangkan eksoteris, bagaimana manifestasi dari hubungan seorang hamba, horizontal terhadap sesama manusia (hablum minannas). Sudah banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang mengajak dan memerintah memuliakan sesama manusia. Semisal kisah Nabi Muhammad menghormati dan menghargai non muslim. Lalu kisah Nabi menjenguk Yahudi sakit yang tiap hari mencaci makinya. Selanjutnya, Kisah nabi yang justru mendoakan orang-orang Thaif yang kala itu melempari Nabi hingga berdarah.

Selain kisah-kisah di atas, mari kita renungkan betapa damainya dulu persaudaraan sesama umat manusia yang dipelopori oleh Nabi dalam negara Madinah. Umat Islam, Yahudi dan Nasrani hidup berdampingan tanpa ada rasa takut terjadi gesekan. Karena Nabi pada waktu itu menginisiasi perdamaian dengan diterbitkannya Piagam Madinah (Madinah Charter).

Ini tercermin dalam surat at-Taubah ayat 4: “Terkecuali kaum musyrik yang membuat perjanjian dengan kamu, lalu mereka tak merugikan kamu sedikitpun, dan tak membantu siapapun untuk melawan kamu, maka penuhilah perjanjian mereka, sampai habis batas waktu mereka. Sesungguhnya Allah  itu suka kepada orang yang menetapi kewajiban.”

Hikmahnya, selama tidak terjadi perbuatan yang mengindikasikan perselisahan dan peperangan oleh orang non islam maka sudah menjadi kewajiban umat islam untuk menjaga perdamaian.

Desa sebagai pelopor persaudaraan lintas manusia

Persaudaraan antar sesama manusia yang sejati justru terjadi di pedesaan. Budaya gotong-royong, tolong-menolong dan guyup rukun di desa sudah menjadi adat keseharian. Penulis melihat di daerah penulis sendiri yang terdiri dari berbagai macam agama dan suku. Ada yang beragama Kristen, Katholik, Budha, Hindu dan Konghuchu baik suku jawa maupun keturunan tinghoa. Sejauh ini tidak ada gesekan dan perselisihan.

Meski mayoritas penduduk desa beragama Islam namun tidak pernah terjadi pendiskretan terhadap penduduk yang beragama non Islam. Semua hidup guyup rukun walaupun penuh dengan perbedaan. Ke-binekaan tunggal ika benar-benar tercermin. Bahkan beberapa waktu yang lalu dengan gagahnya kelentheng di daerah penulis memasang banner yang berisi tentang ucapan selamat Hari Santri.

Persaudaraan lintas agama dan suku ini sudah terjalin bertahun-tahun. Hal ini justru terjadi secara otomatis tanpa saklek berasal langsung dari perintah agama. Karena rata-rata budaya hormat-menghormat, tolong-menolong dan guyup rukun dilakukan secara spontanitas. Ia sudah menjadi tradisi. Bahkan budaya saling memberi makanan sudah biasa antar sesama umat tersebut ketika salah seorang dari pemeluk agama mempunyai riski berlebih. Seperti juga ketika salah seorang penduduk di daerah penulis mempunyai hajat, semisal membangun rumah, maka tetangganya ikut membantu. Padahal beda agama.

Ini sesuai dengan pernyataan  almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur: “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”

Pernyataan gus dur tersebut tidaklah ngawur.  Tidak asal ngucap. Islam sendiri mengajarkan pentingnya toleran terhadap perbedaan pendapat, agama, suku, ras dan etnis. Dalam Islam diajarkan konsep persaudaraan antar manusia yang acapkali disebut ukhuwah basyariyah. Bagaimanapun semua manusia yang hidup dimuka bumi  berasal dari satu bapak dan ibu, yakni Adam dan Hawa. Entah itu yang sipit atau bukan, berkulit putih atau hitam, badannya tinggi atau pendek, entah itu berbangsa Jawa, Batak, Arab, Afrika, Eropa atau Amerika. Dan ini sudah seperti yang dipraktikkan masyarakat desa dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tepa salira serta tenggang rasa terhadap liyan.

Toleransi (tepa salira, tenggang rasa juga) merupakan bahan dasar dari persaudaraan masyarakat desa. Jika persaudaraan adalah motor, maka toleransi adalah bahan bakarnya. Semakin tinggi ilmu sesseorang harusnya makin toleran terhadap perbedaan. Bukan justru mudah menghakimi orang, tidak sudi memaklumi perbedaan hanya karena berbeda pendapat, beda kelompok kepentingan apalagi berbeda latar belakang agama dan sukunya.

Hal ini diperparah dengan adanya media sosial. Orang dengan mudahnya saling mencela dan menghujat yang memicu perpecahan hanya dengan satu klik. Opini-opini terkait anti perbedaan yang dapat mecah belah persaaudaraan dan intoleran dengan mudahnya berseliweran. Didukung pula budaya orang yang tak mau klarifikasi konten dan sumbernya. Hanya percaya dengan informasi arus utama tanpa mau membaca dan mencari konten informasi serta sumber lainnya.

Pada akhirnya persaudaraan lintas agama, suku, etnis dan ras sudah sudah sekian lama terjalin di pedesaan. Toleransi yang merupakan bahan dasar dari perbedaan merupakan kewajiban. Di akhir kata saya ingin memetikkan kata-kata mutiara dari Gus Dur. “Memuliakan manusia, berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia, berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”

Facebook Comments