Persatuan Itu Rahmat, Perpecahan Adalah Adzab!

Persatuan Itu Rahmat, Perpecahan Adalah Adzab!

- in Suara Kita
121
0

Sangat tepat sekali apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Michael H. Hart dalam bukunya The 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (1978) menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia ini, yang sampai saat ini belum ada yang menyamai. Mungkin tidak akan pernah ada yang menyamai sosok seperti Nabi Muhammad yang pengaruhnya begitu besar bagi milyaran orang.

Dalam ungkapan arab dilukiskan seperti ini: Muhammadun basyarun lâ kalbasyari, bal huwa kal yâqûti bainal hajari (Muhammad adalah seorang manusia namun bukan manusia biasa, tetapi dia laksana batu permata diantara batu biasa).

Menjadikan Nabi Muhammad sebagai “publik figur” dan tokoh teladan dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak merupakan sikap sangat logis nan bijaksana, mengingat sumbangsih Nabi Muhammad dalam peradaban dunia ini terasa sampai hari ini. Beliau pembawa panji-panji Islam, mengeluarkan manusia dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang; menghapus perbudakan, melarang eksploitasi manusia atas manusia, mengakhiri fanatisme akut kesukuan kala itu. Sehingga, umat Islam meyakini bahwa setiap tindak-tanduk dan perkataannya memberikan makna dan teladan yang luar biasa nyata. Muhammadun bâsithul ma’rûfi jâmi’uhu, Muhammadun shôhibul ihsâni wal karomi (Nabi Muhammad adalah sosok yang kebaikannya begitu luas secara keseluruhan Nabi Muhammad lah penghulu kebaikan dan kemuliaan).

Maka tak ayal dan sangat berdasar jika setiap hari lahirnya (12 Rabi’ul Awal), segenap manusia di jagat ini menggelar ritual untuk memperingatinya sebagai rasa hormat, dan meningkatkan kualitas takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta meneladani perilaku, sifat, dan perkataan beliau yang agung itu.

Keteladanan Nabi dalam Membangun Persaudaraan

Satu keteladanan Nabi Muhammad yang relevan dalam kondisi Indonesia saat ini adalah bagaimana beliau membangun persaudaraan yang kokoh, tidak hanya dikalangkan umat Islam, namun juga non-Islam, dan lintas suku.

Di Madinah, beliau melakukan terobosan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh pemimpin Madinah kala itu, yakni mempersaudarakan kaum Muhajir dan Anshor. Padahal, kaum Muhajir dan Anshor tidak saja berbeda suku, melainkan juga memiliki rivalitas yang kuat. Tetapu Nabi Muhammad menempuh jalan yang bermartabat. Akibat persaudaraan itu, sinergitas terbangun begitu apik, tolong menolong dan saling percaya dalam hal kebaikan membawa kehidupan Madinah kala itu lebih beradab.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sesungguh merupakan potret betapa manusia ini memiliki potensi untuk bersitegang dan berkonflik karena perbedaan kepentingan. Tak ayal, beliau selalu mewanti-wanti agar manusia menjunjung tinggi persaudaraan.

Sebagaimana sabdanya: “Hendaknya kalian berjama’ah dan hindarilah perpecahan.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Dalam konteks lain, tetapi masih memiliki semangat yang sama, dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan petuah di mimbar, “Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Persatuan adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad tersebut terdapat penggalan kata yang cukup menohok, yakni “Persatuan adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab”. Perpecahan erat kaitannya dengan perselisihan. Terkait hal ini, Allah berfirman:

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119).

Sekilas ayat tersebut mengindikasikan bahwa perselisihan adalah sesuatu yang biasa, sehingga oleh sebagian kalangan memaknai bahwa ayat ini dijadikan hujjah untuk senantiasa bangga dan senang hidup di atas perselisihan. Namun tidaklah demikian. Allah sangat “mengutuk” perselisihan atau perpecahan. Maka, dalam ayat tersebut, Allah memberikan penjelasan bahwa orang yang diberi rahmat tidak akan berselisih. Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Orang yang dirahmati dalam ayat ini adalah mereka yang menjadi pengikut para rasul, berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan dalam agama yang telah diberitakan para rasul kepada mereka.” Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103).

Berangkat dari penjelasan di atas pula, dapat ditegaskan bahwa persatuan dan persaudaraan merupakan prinsip dasar Islam, sedangkan perpecahan adalah hal yang dilarang. Jika dilarang dilanggar, maka adzab akan menimpa kita. Adapun bentuk adzab dalam konteks perpecahan adalah tidak bisa menjalin kerja sama, sementara manusia sangat bergantung pada manusia lainnya. Tidak akan pula terjadi tolong-menolong. Yang ada adalah kebencian, permusuhan yang dibalut oleh fanatisme yang berlebihan.

Perpecahan inilah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad selalu merangkul semua kalangan, sekalipun ia tidak Muslim, bahkan tak jarang juga merangkul orang yang mencaci-maki beliau.

Potret persaudaraan dan kepedulian Rasulullah juga dapat ditemukan dalam uraian M. Husein Haekal dalam Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad). Misalnya, Haekal menjelaskan bahwa sekalipun Muhammad “tangan kanan” Allah, beliau tidak mau menampakkan diri sebagai raja. Kepada sahabat-sahabatnyam, ia berkata: “Saya jangan dipuja, seperti orang Nasrani memuja anak Maryam. Saya adalah hamba Allah. Sebutkan sajalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Facebook Comments