Duet Ulama-Ulama NU dan Muhammadiyah Menjaga NKRI

Duet Ulama-Ulama NU dan Muhammadiyah Menjaga NKRI

- in Suara Kita
803
0
Duet Ulama-Ulama NU dan Muhammadiyah Menjaga NKRI

Kalau kita kuliti sejarah bangsa Indonesia, gerakan dan perjuangan ulama-ulama dua organisasi Islam (Ormas) terbesar, yakni Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya memang dikenal mempunyai komitmen kuat dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam setiap perjuangannya.

NU misalnya yang mana kalau kita telaah bahwa motif dari terbentukya NU itu sendiri karena niatan tulus dan kuat dalam menyatukan para ulama dan tokoh-agama dalam melawan penjajah. Spirit nasionalisme juga terga,mbarkan dalam nama Nahdhatul Ulama itu sendiri, yang berarti “Kebangkitan Para Ulama” (Salam, 2018).

Arti dan esensi penting lain pembentukan NU sebagai sebuah organisasi adalah berkaitan dengan wawasan kebangsaan (nasionalisme) yang mana selalu dijadikan sebagai salah satu dasar dasar perjuangannya selama ini. Wawasan kebangsaan (nasionalisme) yang dimiliki oleh NU tersebut dapat dilihat pada setiap langkah dan kebijakan NU sejak dulu hingga sekarang yang selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara (Zudi Setiawan, 2009)

Fakta sejarah juga telah berbicara, bahwa tokoh teladan pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari menginisiasi lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Resolusi jihad ini merupakan wujud integritas, loyalitas, dan kecintaan tulus terhadap NKRI. Bahkan, terinspirasi Resolusi Jihad ini “Bung Tomo” mampu membakar semangat arek-arek Suroboyo melalui pidatonya yang begitu fenomenal (madrasahdigital.com, 5/1/2021).

Kemudian sebagaimana diuangkapkan oleh Agung SS Widodo bahwa amarhum KH. Abdurahman Wahid, semoga Allah merahmati beliau pernah menitipkan pesan, “mari kita wujudkan peradaban dimana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi. Karena persaudaraan kemanusiaan merupakan puncak dari persaudaraan yang akan memperkokohkan persatuan kebangsaan dan persaudaraan keislaman” (jalandamai.net, 19 Maret 2018).

Pesan Gus Dur ini patut kita renungkan kembali dalam situasi kebangsaan yang sedang carut marut akibat banyak umat beragama yang terprovokasi oleh isu sentimen agama sehingga mengalami krisis toleransi. Pun, dalam kesempatan yang berbeda Gus Dur juga mengingatkan “ tidak penting apa pun agamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu…”.

Demikian juga dengan Muhammadiyah spirit penjaga NKRI bisa kita jumpai dalam beberapa dokumen yang pernah diterbitkan dalam sejarah Muhammadiyah. Satu contoh pada Pedoman Untuk Memahami MKCH (Tanwir Ponorogo 1969) dinyatakan fungsi dan misi gerakan ini (Mulkan, 2010: 220).

Dalam dokumen tersebut menyebutkan bahwa “Muhammadiyah menyadari kewajibannya: berjuang dan mengajak segenap golongan dan lapisan bangsa Indonesia, untuk mengatur dan membangun tanah air dan Negara Republik Indonesia, sehingga merupakan masyarakat dan negara adil dan makmur, sejahtera bahagia, materil dan sprituil yang diridai Allah SWT”. Kemudian, kalua kita tilik dalam Muktamar XLVII Muhammadiyah di Makassar (2015) menyebut bahwa Indonesia yang merupakan negara Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah atau negara perjanjian dan tempat bersaksi”.

Berbagai rekam jejak ulama dua ormas Islam terbesar tersebut menegaskan bahwa NU dan Muhammadiyah adalah sangat penting peranannya dalam menjaga keutuhan NKRI. Dalam perjalanan sejarah negara Indonesia, kedua Ormas Islam terbesar tersebut menunjukkan bahwa NU memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Ideologi kebangsaan yang dimiliki oleh NU dan Muhammadiyah berpijak pada dasar keagamaan di samping pula pada kondisi objektif bangsa dan negara Indonesia yang majemuk (plural) atau heterogen. Ideologi kebangsaan inilah yang menjadi spirit ulama-ulama NU dan Muhammadiyah berada di garis terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Facebook Comments