Eksploitasi Sub-Kultur Anime dalam Propaganda Khilafah Eks-HTI

Eksploitasi Sub-Kultur Anime dalam Propaganda Khilafah Eks-HTI

- in Narasi
35
0
Eksploitasi Sub-Kultur Anime dalam Propaganda Khilafah Eks-HTI

Pencabutan izin HTI pada 2017 membuat para simpatisannya mengubah strategi dakwah. Salah satunya dengan mengadaptasi budaya populer yang tren di masyarakat. Kita tentu ingat acara “Metamorphosis; It’s Time to One Ummah”. Acara yang menggabungkan pertunjukan musik, talkshow, dan standup comedy itu adalah propaganda khilafah dengan pendekatan budaya populer.

Bentuk adaptasi pop-culture lainnya oleh para ustad eks-HTI adalah mengeksploitasi tokoh dan simbol Anime. Anime adalah serial animasi yang berasal dari Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Anime menjadi subkultur yang trend di kalangan generasi Z.

Sejumlah judul anime seperti Onepiece, Sword at Online, Naruto, Fairy Tail sangat populer di kalagan gen Z. Anime digemari, karena jalan ceritanya yang kompleks, namun menarik. Para pecinta dikenal dengan sebutan Wibu.

Kuatnya Sub-kultur anime di kalangan gen Z ini lah yang tampaknya menarik perhatian para ustad eks-HTI. Mereka pun mengadaptasi sub-kultur anime ini sebagai strategi dakwah mereka. Hal ini dilakukan misalnya oleh Felix Shiaw dan Rujuan Khariri. Mereka kerap mengadaptasi simbol dan tokoh Anime dalam dakwah khilafah mereka.

Khariri misalnya, kerap mengunggah foto atau video berisi tokoh anime dengan diselipi jargon khas kampanye khilafah. Sedangkan Felix kerap mengenakan kaus berlogo Anime Onepiece dan mengenakan topi jerami yang identik dengan tokoh Luffy.

Dalam wawancara dengan Arie Untung, Felix menjelaskan mengapa ia menggemari Onepiece. Ia mengklaim jalan cerita Onepiece mirip dengan dirinya. Onepiece adalah anime yang berisi cerita tentang bajak laut yang humoris, bijak, dan baik hati.

Adaptasi Budaya Populer Sebagai Strategi Akomodasi Subversif

Felix menganggap kisah hidupnya mirip alur cerita Onepiece. Kerap dilabeli ustad radikal, padahal sebenarnya baik, bijak, dan baik hati. Strategi dakwah eks-HTI dengan mengadaptasi budaya populer, khususnya Anime ini merepresentasikan apa yang disebut oleh Asef Bayat sebagai “akomodasi subversif”.

Akomodasi subversif, bisa dipahami sebagai sebuah tindakan mengadaptasi kultur yang tengah tren di tengah masyarakat dengan tujuan melawan (subversi) pada kebijakan pemerintah. Dalam kasus HTI, mereka mengadaptasi budaya populer, seperti standup comedy dan anime karena keterbatasan ruang gerak pasca pencabutan izin atau status badan hukum oleh pemerintah.

Sub-kultur anime ini dipilih lantaran sangat populer di kalangan kaum muda generasi Z. Penggemar anime alias Wibu mayoritas memang berasal dari generasi Z. Para Wibu ini biasanya dicirikan dengan karakternya yang introvert dan cenderung asosial.

Profil gen-Z yang introvert dan asosial inilah yang menjadi target utama kelompok radikal-ekstrem selama ini. Maka, tidak mengherankan jika di kalangan pecinta Anime pun ada istilah Wibu hijrah. Sebutan untuk penggemar Anime yang belajar Islam dengan para ustad eks-HTI tersebut.

Membangun Kesadaran di Kalangan Gen-Z akan Bahaya Propaganda Khilafah

Pola akomodasi subversif inilah yang harus disadari oleh umat Islam. Terutama kalangan generasi milenial dan gen Z yang menjadi target utama dakwah eks-HTI. Milenial dan gen Z harus membangun kesadaran terhadap setidaknya tiga hal.

Pertama, secara spesifik, para ustad eks-HTI yang getol mengadaptasi kultur Anime ke dalam dakwah mereka itu pada dasarnya bukan Wibu (sebutan untuk penggemar anime). Mereka tidak lebih dari kaum posser (peniru) yang hanya memanfaatkan kultur anime untuk kepentingan pragmatis mereka. Dalam kata lain, mereka hanya mengeksploitasi kultur anime dan segala entitas di dalamnya.

Hal ini terlihat dari banyak gejala. Tafsiran Felix Shiaw yang mengidentikkan dirinya dengan kisah anime Onepiece misalnya terasa dipaksakan. Para tokoh dalam anime Onepiece itu memang berjuang melawan pemerintah, namun tujuannya adalah untuk mewujudkan kestabilan dan keadilan. Beda halnya dengan HTI yang justru menimbulkan ketidakstabilan. Sejarah mencatat, dimana ada gerakan Hizbut Tahrir, maka disitilah potensi kekacauan akan terjadi.

Kedua, kaum milenial dan gen Z harus memiliki pemahaman yang utuh atas ajaran Islam, utamanya mengenai sistem politik. Bahwa model sistem politik khilafah ala HTI itu sama sekali tidak dikenal dalam ajaran Islam. Tidak ada satu pun ayat Alquran dan hadist yang secara eksplisit memerintahkan umat Islam mendirikan khilafah islamiyyah.

Kaum milenial dan gen Z juga harus memiliki pemahaman yang utuh terhadap sejarah Islam. Bahwa di era kekhalifahan pun, dunia Islam tidak sepenuhnya steril dari problem sosial dan politik. Pemahaman yang utuh tentang sejarah Islam ini penting agar milenial dan generasi Z tidak mudah dicekoki klaim bahwa khilafah adalah sistem sempurna tanpa cela.

Ketiga, milenial dan generasi Z kiranya harus selektif dalam memilah konten keagamaan di media sosial. Kecenderungan gen Z dan milenial untuk belajar agama melalui teknologi digital memang patut diapresiasi. Namun, milenial dan gen Z idealnya memiliki modal literasi keagamaan yang kuat. Jangan sampai, milenial dan generasi Z memilih ustad hanya berdasar pada preferensi identitas budaya populer yang sama.

Facebook Comments