Filantropi Tinggi Saat Pandemi : Bukti Nyata Praktek Toleransi

Filantropi Tinggi Saat Pandemi : Bukti Nyata Praktek Toleransi

- in Suara Kita
818
0
Filantropi Tinggi Saat Pandemi : Bukti Nyata Praktek Toleransi

Banyak cerita kedermawanan dan aksi filantropi yang dilakukan baik oleh kelompok maupun perorangan di masa pandemi. Antusiasme dan gairah masyarakat untuk saling membantu dan meringankan beban yang lain yang terdampak musibah covid-19 adalah bukti nyata toleransi. Aksi kemanusiaan tidak mengenal batas dan pertanyaan siapa agamamu, sukumu, etnismu dan latarbelakangmu.

Dari praktek filantropi yang paling kecil di tingkat RT/RW dengan membagikan makanan kepada mereka yang sedang melakukan isolasi mandiri hingga bantuan yang fantastis. Publik kemudian dikejutkan dengan bantuan dana sebesar Rp 2 triliun dari pihak yang mengatasnamakan keluarga Akidi Tio untuk penanganan Covid-19 di Sumatra Selatan.

Beberapa waktu lalu banyak individu dan komunitas misalnya Pengusaha Peduli NKRI yang memberikan bantuan lebih dari Rp 600 miliar yang dikumpulkan dari panggalangan dana. Sebelumnya, bantuan juga disumbangkan oleh Sinar Mas, melalui pilar usaha Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas – PT. OKI Pulp & Paper Mills, PT. Indah Kiat Pulp & Paper- Perawang Mills dan PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry.

Tidak ketinggalan beberapa ormas keagamaan juga berperan aktif untuk melakukan bantuan vaksinasi yang bekerjasama dengan TNI dan Polri untuk mempercepat program yang digalakkan pemerintah. Tidak mengenal batas agama apa yang akan melakukan vaksin, bantuan itu pun terbuka untuk umum.

Atas dasar aksi-aksi tersebut tidak mengherankan jika laporan terbari Charity Aid Foundation (CAF) World Giving Index (WGI) 2021 yang keluar Juni 2021 lalu menyebutkankan bahwa Indonesia sebagai negara paling dermawan di seluruh dunia. Peringkat kedua ada Myanmar dan ketiga Australia dan berturut-turut  Thailand, Kosovo, United Kingdom, Iceland, Netherland, New Zealand dan Bahrain.   

Sebenarnya Indonesia menempati posisi puncak yang sama pada 2018. Namun, tahun ini, di tengah pandemi, kedermawanan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan skor dari 59 ke 69. Lebih dari 8 dari 10 orang Indonesia berdonasi tahun ini. Faktor motivasi keagamaan menjadi cukup kuat bagi masyarakat dalam melakukan aksi donasi di tengah pandemi ini.

Selain yang tak terlihat di media, kita cukup berbangga dengan kedermawanan masyarakat di bawah dengan saling gotong royong dan bahu membahu membantu sesama. Praktek saling membantu bersumber dari semangat kultural gotong royong yang sulit ditemukan di negara-negara lain.

Artinya, masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa dengan membantu tetangganya tanpa melibat identitas dan sekat primordial. Tidak penting apapun agamamu yang penting adalah saling berbagi dan bergotong royong untuk meringankan beban yang dipikul tetangganya.

Inilah menurut Saya praktek toleransi yang luar biasa yang tidak hanya dengan kata-kata. Toleransi bukan sekedar menghormati, tetapi beraksi nyata untuk saling peduli tanpa melihat identitas yang melekat. Membantu yang lain tidak perlu ditanya apa suku, etnis dan agamanya. Namun, mereka membantu berdasarkan rasa kemanusiaan sebagai sesama masyarakat.

Praktek toleransi yang seperti ini kiranya menjadi modal berharga bagi bangsa ini dalam menghadapi apapun persoalan kebangsaan. Pandemi sebagai musibah bangsa ini akan bisa dilewati dengan praktek toleransi nyata dengan saling peduli tanpa melihat identitas.

Mari bersama bergotong royong menyelesaikan pandemi ini.

Facebook Comments