Filsafat Cubit Tolikara

Filsafat Cubit Tolikara

- in Editorial
2263
0

Suasana lebaran tahun ini diwarnai aksi memilukan sekaligus memalukan. Kerukunan umat beragama di negeri ini kembali mendapat ujian. Umat Islam yang tengah merayakan Idul Fitri diganggu dan dibubarkan secara paksa di Kabupaten Tolikara Papua. Insiden ini berlanjut hingga aksi kerusuhan, dimana sejumlah tempat dibakar. Pelakunya adalah sejumlah orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak menghargai perbedaan.

Paska insiden itu sejumlah pihak tampak tersulut emosi. Alih-alih ikut meredam konflik yang sedang terjadi, para pihak tertentu memanfaatkan peristiwa ini sebagai jalan memprovokasi umat. Umat Islam di seluruh penjuru tanah air diminta turut menuntut balas atas aksi tersebut. Seruan jihad pun dikumandangkan oleh sejumlah pihak. Padahal di satu sisi, negara tidak tinggal diam. Aparat keamanan segera bertindak, baik dengan pendekatan hukum maupun sosial.

Saya tidak akan mengungkap kenapa hal itu bisa terjadi atau bagaimana kronologis insiden itu bermula. Tidak juga berupaya mencari siapa penyebab dan otak dibalik aksi anarkis itu. Soal pelaku dan bagaimana itu bisa terjadi lebih baik diserahkan kepada aparat negara daripada memberi komentar yang justru memperkeruh suasana. Karena merekalah penanggungjawab utama keamanan negeri ini.

Yang paling saat ini adalah mencari hikmah dan solusi agar peristiwa serupa tak pernah lagi terjadi. Toleransi dan sikap menghargai antar anak bangsa berbeda suku dan keyakinan di negeri ini bukan barang baru. Sejauh ini, bahkan sejak berabad-abad lamanya bangsa Indonesia dikenal tidak pernah melukai orang lain hanya karena perbedaan keyakinan dan etnis.

Sekedar contoh, perlawanan bangsa ini terhadap Belanda di masa lalu bukan karena bangsa kulit putih itu beragama Kristen atau ber-ras Eropa, melainkan karena bangsa ini melawan penjajahan dan ketidakadilan. Toh, mereka yang beragama Kristen pun turut andil dalam perjuangan melawan penjajah ini. Di masa yang lebih lampau di sekitar 6 abad sebelumnya pemerintah Kerajaan Majapahit mengundang Bong Swie Hoo untuk menjadi guru agama Islam di Nusantara. Di kemudian hari Bong Swie Hoo dikenal masyarakat sebagai Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Dalam konteks Indonesia Modern tak asing pula melihat umat beragama yang berbeda-beda bahu membahu dalam berbagai aktifitas. Bukan hanya pada persoalan sosial bahkan soal keagamaan. Bukan hal tabu melihat umat Islam menjaga sejumlah perkampungan di pulau Bali saat umat Hindu di sana merayakan Nyepi. Demikian sebaliknya, dimana pecalang yang beragama Hindu menjaga umat Islam saat melaksanakan Idul Fitri. Masih banyak contoh lainnya untuk disebutkan satu per satu mengenai kerjasama umat beragama di negeri Indonesia.

Singkat cerita apa yang terjadi di tanah Papua itu tidak punya landasan historis, apalagi agama, dalam sejarah keberagamaan Indonesia. Karena sebagaimana telah diketahui bangsa ini tidak dibesarkan dari sikap kebencian terhadap perbedaan. Bahkan, setelah Indonesia merdeka pun keragaman ini dipertahankan dan dijamin lewat dasar negara Pancasila dan Konstitusi.

Kembali ke soal hikmah yang dapat dipetik bangsa ini, khususnya umat Islam, adalah soal filsafat cubit. Saya masih ingat ketika para orang tua di masa lalu selalu mengajarkan agar tidak mencubit jika tahu rasanya dicubit. Tentu semua orang akan mengatakan bahwa dicubit itu sakit rasanya. Karena sakit maka jangan cubit orang lain, begitu kira-kira.

Bagi saya yang seorang Muslim, ada kekhawatiran bahwa tindakan yang dilakukan oleh umat lain adalah aksi balas dendam. Bukankah di sejumlah daerah yang umat Islam menjadi mayoritas, terkadang sejumlah tokoh maupun ormas melakukan aksi anarkisme dan pemaksaan kehendak kepada umat lain yang minoritas? Meskipun sifatnya hanya kasuistik dan bukan gejala perilaku umum dari umat Islam Indonesia. Semoga kekhawatiran saya ini salah.

Masih ingatkah kita dengan sejumlah penutupan paksa pembangun sejumlah gereja atau sekolah Kristen di tanah air yang diwarnai dengan aksi demonstrasi dan kekerasan? Atau masih ingatkah kita dengan demonstrasi menentang pawai salib di sebuah kota di Jawa Tengah? Kenapa kita tidak mencoba berfikir untuk menghentikan sikap intoleransi beragama yang dimulai dari diri kita sendiri dengan cara menghargai keyakinan dan eksperesi keagamaan orang  lain? Kenapa kita tidak mencoba berfikir bahwa saudara kita sesama Muslim diluar pulau Jawa dan Sumatera adalah minoritas yang rentan terkena aksi balas dendam, seperti di Papua, NTT, ataupun Bali?

Logika sederhana saya adalah saling menjaga kebebasan beragama orang lain. Kita semestinya sebagai mayoritas Muslim di lingkungan rumah atau kerja menjaga ekspresi penganut agama lain yang minoritas dalam hal peribadatan. Sikap menjaga dan toleran itu dilakukan dengan harapan umat Islam yang minoritas mendiami wilayah mayoritas juga dijaga dan diberi kebebasan oleh umat mayoritas di sana. Bukankah hati kita terasa sakit jika saudara kita seagama di wilayah yang minoritas di-‘kerjai’ oleh mayoritas? Karena itu, ajaran para leluhur soal filsafat cubit perlu kembali dihayati agar aksi serupa, apalagi aksi balas dendam tak pernah lagi terjadi!

Facebook Comments