Haji, Persatuan dan Politik “Pecah Belah”

Haji, Persatuan dan Politik “Pecah Belah”

- in Suara Kita
168
0

“Bangsa Indonesia ibarat sapu lidi yang terdiri dari beratus-ratus lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi tersebut digabungkan, diikat menjadi sapu mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat. Tidak ada saudara-saudara.” (Ir. Sukarno, pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1964 di Stadion Utama Senayan Jakarta)

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan segala kekayaan alam dan kekayaan budaya yang dimilikinya. Semangat persatuan yang diusung oleh para pendiri bangsa termaktub memalui Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia. Dalam pidato Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1964 di Stadion Utama Senayan Jakarta tersebut menunjukkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa. Jika dalam berbangsa kita mau bersatu maka kita akan memiliki kekuatan yang besar, tidak mudah untuk dipecah belah.

Presiden pertama Indonesia tersebut mengibaratkan bangsa Indonesia ibarat sebuah lidi yang terdiri dari beratus-ratus lidi, jika lidi-lidi tidak diikat maka akan mudah untuk tercerai berai dan mudah dipatahkan namun sebaliknya jika lidi-lidi digabungkan dan diikat mejadi sapu maka akan sulit untuk dipatahkan. Pesan Bung Karno tersebut harus dapat dimaknai dan diresapi oleh masyarakat Indonesia dengan merayakan Hari Raya Idul Adha dengan melakukan ibadah Haji dan qurban dengan tujuan untuk memperkuat persatuan dan mencegah pecah belah antar sesama anak bangsa.

Pekan ini umat muslim di Indonesia dan diseluruh dunia akan kembali mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil mengagungkan dzat yang maha Esa pada perayaan hari raya Idul Adha. Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan jika hari raya Idul Adha akan jatuh pada hari Jum’at tanggal 1 September 2017. Gegap gempita hari raya  akan dirasakan umat muslim di seluruh dunia termasuk di kota Makkah Al Mukarromah dan Madinah Al Munawwarah. Kedua kota suci umat muslim tersebut akan menjadi pusat berkumpul umat muslim dunia untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima yakni ibadah Haji.

Hari raya Idul Adha merupakan hari raya ke dua umat muslim diseluruh dunia. Hari raya dengan dua ibadah besar yang dilakukan oleh umat muslim yakni ibadah Haji dan qurban. Idul Adha berbeda dengan hari-hari besar yang lain, bagi umat Islam hal ini sangat serat dengan nilai sejarah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan ibadah Haji yang pertama kali dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim AS dan sejarah qurban yang menghadirkan sebuah pengorbanan besar keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai teladan sepanjang zaman.

Ibadah Haji merupakan sebuah simbol dan lambang pemersatu umat muslim yang sangat ideal di tengah persatuan umat yang semakin hari semakin rapuh dan pudar. Umat muslim sangat mudah terprofokasi dan dipecah belah dengan pancingan-pancingan yang berbau Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Umat muslim harus kembali bersatu, melalui momen Idul Adha ini dapat menjadi momentum yang tepat untuk menata kembali persatuan dan solidaritas umat muslim. Mulai dari wahdatu akidah (kesatuan ideologi), wahdatul harakah (kesatuan gerak dan aktivitas), wahdatus syi’ar (kesatuan syiar) dan wahdatul ghoyah (kesatuan cita-cita).

Hindari Pecah Belah

Selain semangat ibadah dalam berhaji semangat persatuan juga harus selalu dijaga dan dibawa oleh umat muslim di Indonesia. Masih terasa hingga sekarang politik devide et impera atau politik pecah belah karya Belanda saat menjajah Indonesia ini terbukti dapat memecah belah persatuan bangsa dan sampai saat ini pun politik tersebut juga masih banyak digunakan oleh sekelompok orang maupun kelompok dengan tujuan untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia menggunakan isu-isu SARA.

Melalui ibadah Haji merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menghindari pecah belah antar sesama umat muslim. Jangan mudah terhasut oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya yang justru nantinya akan menjadi keburukan bagi bangsa kita sendiri. Semangat beribadah dalam berhaji harus diwujudkan pula dengan semangat persatuan dan kesatuan untuk melawan politik pecah belah yang dikemas dalam bentuk baru. Singkirkan berprasangka buruk kepada sesama umat beragama apalagi dengan saudara seiman.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujarat 49:10) dalam ibadah Haji pesan persatuan persaudaraan sangat erat karena di sanalah semua umat muslim seluruh dunia berkumpul tanpa memandang suku, ras dan golongan, semua tumpah ruah dalam usaha melaksanakan rukun islam yang ke lima itu.

Malcolm X, aktivis muslim kulit hitam Amerika pernah memberikan kesan mendalam tentang haji yang merubah hidupnya, “Ada puluhan ribu jamaah haji dari seluruh dunia. Mereka terdiri dari berbagai warna kulit, dari si pirang bermata biru sampai si hitam dari Afrika. Namun kami semua mengikuti ritual yang sama, memperlihatkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika, membuat saya mengira tidak akan pernah terjadi di antara kulit putih dan bukan kulit putih.”(Malcom X, surat dari Makkah April 1964).

Pesan persaudaraan dan persatuan tersebut seharusnya juga dilakukan oleh umat muslim di Indonesia yang melaksanakan ibadah Haji. Dewasa ini masyarakat Indonesia sedang digegerkan dengan kasus Saracen. tertangkapnya kelompok Sracen ini menunjukkan bahwa betapa mudahnya provokasi dilakukan menggunakan isu-isu SARA. Hal tersebut memang sensitif di kalangan masyarakat Indonesia, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari banyak agama, suku dan ras. Begitu mudahnya kelompok tersebut memecah belah persaudaraan kita sehingga kita lupa akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu momentum perayaan hari raya Idul Adha harus dimanfaatkan dengan baik oleh umat muslim Indonesia untuk kembali bersatu menghindari pecah belah antar sesama umat beragama.

Nilai-nilai semangat persatuan dan persaudaraan antar sesama harus digaungkan kembali dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari politik pecah belah. Selain itu sikap tenggang rasa bekerjasama dan gotong royong harus ditingkatkan agar masyarakat Indonesia tidak mudah terpecah belah oleh isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Sehingga ketika pulang melaksanakan ibadah Haji dapat menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia dan juga dapat menjaga serta mengukuhkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Facebook Comments