Hijrah Kebangsaan ; Menangkal Pemahaman Radikal dengan Meneladani Perilaku Rasulullah

Hijrah Kebangsaan ; Menangkal Pemahaman Radikal dengan Meneladani Perilaku Rasulullah

- in Narasi
470
0

Percaya atau tidak, di era serba bisa sekarang ini pandangan manusia tentang agama menjadi sesuatu yang sangat menakutkan apabila tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadahi. Tidak sedikit dari kita hanya sebatas mengenal agama tersebut, tapi tidak memahami bagaimana agama itu hadir di tengah-tengah manusia. Di mana agama yang seharusnya menjadi pesan damai bagi setiap makhluk, sekarang menjadi sebuah jalan pintas untuk berebut kekuasaan, sikap saling menyalahkan, hingga hal ini menjadi prioritas utama tanpa memandang bahwa agama hadir adalah untuk memperbaiki perilaku manusia. Yaitu menjadi manusia yang bisa menghormati, manusia yang diciptakan memiliki rasa untuk saling mencintai, sampai dengan pikiran yang harusnya menjadi wadah menuju perubahan yang lebih menyenangkan dan menenteramkan.

Menurut al-Quran dalam surat al-Anbiyaa’, risalah tentang Muhammad juga bertujuan untuk menciptakan sebuah kehidupan dan peradaban yang ramah di permukaan bumi. Tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Berdasarkan ayat ini, sebenarnya sudah mewakili bahwa kedatangan Muhammad tidak saja untuk membahagiakan umat Islam, tapi juga untuk non-muslim dan mereka harus merasakan kebahagiaan itu tanpa mereka harus memeluk Islam.

Sesuai dengan yang terkandung dalam surah Al-Baqarah ayat 256 yang mengatakan, Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat, yang tidak akan putus. Allah maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Baca juga : Hijrah Kebangsaan dan Refleksi “Tiga Simbol” 17 yang Terhubung

Surah ini sudah sangat jelas memberikan sebuah petunjuk, bahwa dalam beragama tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya, semua dilakukan melalui kehendak nurani, agar dirinya menemukan jalan ketenangan dan kesenangan dalam dirinya. Ketika kita meniti sejarah, perjuangan Muhammad Saw dalam menyebarkan ajaran agama Islam juga selalu dibarengi dengan perilaku yang adil dan mendamaikan.

Bertrand Russell dalam bukunya power; the Role of Man’s Will to Power in the World’s Economic and Political Affairs. Mengatakan,sepanjang sejarah Islam, hampir-hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang Islam pernah memaksa pihak lain untuk menjadi Muslim. Russell melihat bahwa keberhasilan dan kemudahan penakluk Islam yang mula-mula dan stabilitas imperium yang mengikutinya ialah karena sikap toleransi umat Islam ini terhadap rakyat yang ditaklukkannya.

Apa yang diungkapkan oleh Bertrand Russell ini terjadi dalam masa kejayaan Rasulullah. Kesaksian ini menunjukkan, bahwa Islam di bawa dan disebarkan Rasulullah dengan kaidah akhlak yang menyejukkan, menenangkan, dan menyenangkan. Maka, sudah seharusnya kita meneladani. Sebarkan Islam yang rahmat. Islam yang bisa menerima perbedaan, sebagaimana Rasulullah yang berhasil menyatukan masyarakat Madinah meskipun banyak perbedaan suku dan agama di dalamnya.

Ajaran semacam inilah yang seharusnya disebarluaskan dalam kehidupan. Dengan tujuan agar generasi penerus tidak gampang terdoktrin oleh pemahaman agama yang sedang-sedang. Di mana dalam memahami agama harus dikaji lebih mendalam dan penuh penghayatan serta dibarengi dengan bacaan-bacaan sejarah yang ada. Agar tidak muncul pemahaman yang radikal. Karena pada kenyataannya tidak pernah ada kekerasan dalam beragama, namun pemahaman yang salah akan mengantarkan pada suatu perpecahan. Untuk itu pahami agama dengan baik, agar setiap dari kita bisa menyebarkan perdamaian dalam setiap tindakan ataupun lisan yang terucap.

Sebagaimana yang terdapat dalam surah al-Hujurat ayat 13, yang mengatakan, Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Manusia diciptakan untuk saling berdampingan, saling menjaga, saling mengenal dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama. Dasar kemuliaan ialah orang yang senantiasa mengedepankan pentingnya sikap kemanusiaan kepada orang lain. Untuk itu, sudah seharusnya setiap dari kita untuk senantiasa menyebarkan kebaikan, meskipun kebaikan itu hanya sebatas berucap melalui lisan. Karena dari sini kita sudah menjaga pentingnya menjaga perdamaian di muka bumi.

Facebook Comments