Hijrah Menjadi Pelopor Perdamaian Gerakan Digital

Hijrah Menjadi Pelopor Perdamaian Gerakan Digital

- in Suara Kita
985
0
Hijrah Menjadi Pelopor Perdamaian Gerakan Digital

Kata “hijrah” pada dekade ini disambut hangat oleh banyak kalangan. Melalui kata itu, banyak masyarakat yang berbondong-bondong mengubah beragam cara untuk menata kehidupan. Mulai dari penampilan gaya berpakaian, meninggalkan dunia yang berbalut kebencian, sampai tingkah laku yang menuju zona kesyariahan manjadi tren yang tak bisa dilepaskan. Asalkan perubahan-perubahan itu jelas menuju tata norma yang tercantum dalam agama dan negara, semua itu halal dilakukan. Fenomena maraknya kata hijrah yang saat ini dieksplorasikan oleh seluruh kalangan sesungguhnya merupakan bias dari interupsi keinginan untuk berubah menuju kebaikan. Musdah Mulia, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah (2017) juga mangatakan bahwa pesan singkat yang mesti diambil dari peristiwa hijrah Nabi pada 14 abad silam ialah umat Islam harus berani melakukan transformasi diri menuju arah yang lebih positif dan konstruktif.

Dari perubahan itu, umat Islam diharapkan mampu menjadi pelita kehidupan. Memiliki segudang manfaat yang bisa mengubah tatanan zaman menuju kearifan lokal sebagaimana yang digemakan melalui cita-cita beragama dan negara. Dalam kaitannya  dengan itu, Nur Cholis Majid (2006) juga mengatakan bahwa sesungguhnnya cita-cita keagamaan yang hadir dalam kelindan kehidupan di dunia, pada hakikatnya memiliki keserupaan dengan cita cita bernegara. Alhasil, kelindan cita-cita yang digaungkan untuk membangun kedamaian, kemerdekaan, dan kedaulatan berkelanjutan melalui sabda-sabda agama, sesungguhnya memiliki keselarasan dengan tindak tanduk bernegara. Terlepas dari pesan hijrah demikian, di era digital seperti saat ini, pilpres yang akan digelar beberapa bulan ke depan sudah begitu terasa tensi yang digemakan. Melalui beragam gerakan, mulai #GantiPresiden2019, #DiaSibukBekerja, Gerakan Politik Emak-Emak dan beragam hal lain yang senafas dengan kenyataan itu, membuat jagat media menjadi panas tak bisa dikendalikan.

Akibatnya, gerakan-gerakan yang diwartakan dalam upaya blusukan di dunia virtual, tanpa disadari justru menambah laju disintegrasi masyarakat. Bahkan apabila kita amati gerakan-gerakan politik yang kian masif di dunia digital, maka tak jarang kita temui masyarakat yang saling jegal menjegal. Selaras dengan kenyataan itu, jamak pula kita saksikan perselisihan adu komen yang akhirnya menyebabkan pertengkaran antar sesama. Naifnya, pertengkaran-pertengkaran itu justu tak semakin surut, namun juga menjelma di kehidupan nyata. Tengoklah demonstrasi yang berakhir adu jotos di Surabaya beberapa waktu lalu. Setidaknya itu adalah produksi gerakan politik yang tidak didasari dengan pikiran cerdas, namun juga syarat dengan adu domba yang kian menggejala. Karena itulah, Soerjono Soekanto (1996) mengatakan bahwa konflik sosial merupakan keniscayaan yang bisa berujung pada pendewasaan sosial, namun juga bisa menjadi kehancuran sosial, tergantung cara pandang dan penyikapan terhadap konflik sosial demikian.

Menjadi Penengah

Benar apa yang dikatakan oleh Soerjono Soekanto di atas, bahwa konflik sosial bisa dengan mudah teredam bila disikapi dengan cara apik dan baik. Sebaliknya, konflik juga akan menjadi bencana yang mengerikan, tatkala tidak disikapi secara turut dan patut. Karena itulah, penyikapan terhadap beragam konflik, termasuk gerakan politik yang kian masif di tahun politik kali ini, harus disikapi dengan cara yang cepat, lagi tepat. Sebab bila kita amati secara dalam, maka pertengkaran yang kian hari semakin menggejala di media sosial, sesungguhnya bersumber dari para pendukung gerakan-gerakan, yang memiliki tujuan serupa. Yakni, menginginkan masyarakat agar memilih pemimpin yang memiliki visi ke depan untuk membawa kemajuan dan keadidayaan Indonesia. Hanya saja, karena keselarasan harapan itu tidak didasari oleh keyakinan yang sama, maka konflik sosial yang terjadi semakin mengalami gejolak yang mengkhawatirkan.

Melalui kenyataan itulah, refleksi tahun baru hijriah kali ini, harus digelorakan dengan cara tepat dan akurat agar menjadi dongkrak kesatuan dan persatuan di masa mendatang. Lewat keinginan itu, sebagaimana diungkapan oleh Musdah Mulia di atas, semangat hijrah untuk dekade ini harus digerakkan agar  masyarakat menjadi pelopor perdamian di dunia digital. Sebab dalam parade konflik sosial yang semakin menggejala seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, salah satu jalan tengah yang perlu digulirkan ialah membangun pihak ketiga—sebagai penengah—untuk mendamaikan beragam konflik sosial yang tengah terjadi di dunia virtual. Semakna dengan itu, The British Council (2001) juga mengatakan bahwa konflik sosial pada dasarnya sangat membutuhkan pihak ketiga untuk melakukan negosiasi, mediasi, dan arbitrasi untuk menemukan titik temu atas beragam konflik yang terjadi.

Karena itulah, di momentum tahun baru hijriah kali ini, lewat dimensi digital mari kita membangun jaringan baru, menyelamatkan segenap bangsa dan negara agar tak terpecah belah hingga melukai kesatuan dan persatuan Indonesia. Saatnya kita bersama-sama menggelorakan semangat baru untuk menjadi pelopor kedamaian di dunia virtual. Menjadi penengah atas masifnya gerakan politik yang semakin mengancam kedaulatan Indonesia. Sebab jika masifnya gerakan-gerakan politik itu tak ditengahi dengan apik dan baik. Maka seperti yang dikatakan Soerjono Soekanto, bahwa konflik sosial—lewat gerakan politik—itu akan mengancam keadidayaan negara yang berujung pada kehancuran bangsa. Melalui kenyataan itu pula, mari kita berperan membangun Indonesia. Menjadi jembatan-jembatan baru untuk menyambung putusnya tali silaturhmi yang tanpa disadari terus terkoyak dan hampir menghilang. Akhirnya, bila penyikapan terhadap gerakan-gerakan yang mengancam disintegrasi ini telah diwaspadai dengan baik, maka bukan hal yang tidak mungkin, bila konflik-konflik itu menjadi pendewasaan sosial sebagai bekal di hari mendatang. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Facebook Comments