Hijrah dari Pusaran Ujaran Kebencian

Hijrah dari Pusaran Ujaran Kebencian

- in Suara Kita
837
0
Hijrah dari Pusaran Ujaran Kebencian

Hijrah merupakan lawan dari kata washal yang artinya bersambung. Hijrah secara etimologi mengandung makna meninggalkan, berpindah tempat, atau berpisah. Bermakna berpisah, seperti perpisahan seseorang baik dengan badan, lisan, maupun hati. Bermakna berpindah tempat, seperti berpindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain yang lebih berpotensi memberikan kebaikan dan kedamaian. Atau bermakna meninggalkan, seperti meninggalkan segala hal yang buruk, baik dari lisan maupun perbuatan.

Sedangkan secara terminologi hijrah memiliki dua arti. Pertama, hijrah hissi. Hijrah ini merupakan hijrah yang diyari’atkan. Yakni berpindahnya setiap orang dari negeri kafir ke negeri Islam, atau dari negara yang megandung banyak fitnah ke negara yang tidak banyak fitnanya. Kedua, hijrah maknawi, hijrah melalui hati, yakni hijrahnya seseorang dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah menuju ketaatan yang sempurna kepada Allah. Karena sebagaimana tujuan manusia diciptakan, tidak lain untuk taat kepada penciptanya.

Di era milenial ini, hijrah maknawi sangat dibutuhkan. Sebab, tidak sedikit umat yang sudah lupa tujuan mereka diciptakan di dunia, termasuk Indonesia. Banyak ummat yang sering kali justru memicu pertikaian dan permusuhan di berbagai ruang. Oknum-oknum tersebut menyebarkan berita palsu (hoax), ujaran kebencian, sehingga terjadi pro kontra di ruang nyata dan khususnya ruang virtual. Padahal sudah jelas bahwa manusia diberikan pedoman agama, tidak lain adalah untuk menebar perdamaian dan kasih sayang sesama manusia, bukan justru menyebabkan permusuhan.

Di satu sisi, media sosial yang saat ini semakin berkembang pesat, memudahkan setiap manusia dalam segala hal, yang apapun sekarang dapat dilakukan melalui media online. Namun di sisi lain, ada hal buruk pula ketika media sosial disalahgunakan oleh masing-masing individu, yang kemudian dapat menyebabkan banyaknya nyinyiran dan ujaran kebencian yang berujung pada konflik. Oleh karena itu, bagaimana caranya setiap insan mampu menjaga hubungan baik dengan sesamanya secara lebih baik lagi, terutama di media sosial.

Hijrah Menjadi Milenial Ideal

Setiap manusia pasti menginginkan dirinya menjadi lebih baik dan berbuat baik kepada orang lain. Namun apalah daya jika ada oknum yang menyebarkan paham-paham kekerasan, seperti penyebaran ujian kebencian. Melihat maraknya ujaran kebencian, secara tidak langsung setiap orang akan disusupi nilai-nilai permusuhan, yang tentunya akan muncul oknum-oknum radikal baru bila apa yang dilihat secara kasat mata tidak ditabayyunkan terlebih dahulu.

Pemandangan demikian jika dibiarkan akan sangat berbahaya untuk ummat ke depannya, apalagi anak-anak muda dan generasi milenial yang saat ini tengah menggandrungi media sosial. Seluruh ummat, baik di lingkungan masyarakat maupun keluarga, harus berjuang mengentaskan hal ini dengan berbagai cara. Yang paling utama adalah menjadi benteng kokoh di segala ruang untuk menghadapi gempuran-gempuran berita hoax dan ujaran kebencian yang kian malang-melintang karena akan sangat membahayakan.

Setiap ummat harus mengingat, bahwa berita bohong dan ujaran kebencian akan membawa malapetaka yang besar bagi ummat yang lain. Di dalam Surah An-Nur ayat 11-12, Allah menerangkan: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Di samping itu, berita hoax dan ujaran kebencian termasuk kategori perbuatan yang keji, bahkan termasuk dosa besar. Dalam Surah Al-Nur ayat 19 dijelaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” Rasulullah Muhammad juga memberikan pedoman serupa, bahwa menyebarkan berita bohong sama dengan dosa besar. ”Apa yang dikategorikan  dosa besar? Nabi saw menjawab, “Mempersekutukan Allah, durhaka pada kedua orang tua, dan perkataan (persaksian) dusta (/palsu).” (HR. Bukhari)

Momentuh hijrah maknawi harus dimaknai dengan baik oleh segenap ummat dengan menjadi milenial ideal. Milenial ideal adalah mereka yang mampu hijrah dari segala hal yang merugikan orang lain, baik melalui tindakan maupun ucapannya. Tugas utama kaum milenial ideal pada tahun baru 1440 Hijriyah ini adalah mementingkan persaudaraan dan perdamaian sesama bangsa. Dan salah satu cara yang paling mudah adalah menghilangkan nafsu menyebar berita hoax atau ujaran kebencian di ruang virtual. Sebab menyebar hoax dan atau ujaran kebencian sama dengan menumbuhkan permusuhan di antara saudara sebangsa. Wallahu a’lam.

Facebook Comments