Isra’ Mi’raj Sebagai Media untuk Mempererat Persaudaraan

Isra’ Mi’raj Sebagai Media untuk Mempererat Persaudaraan

- in Suara Kita
423
1
Isra’ Mi’raj Sebagai Media untuk Mempererat Persaudaraan

Isra’ mi’raj merupakan dua cerita perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. yang di mana isra’ merupakan kisah perjalanan nabi Muhammad dari Masjidil haram di Makkah, ke Masjidil Aqsha di Jerusalem. Sedangkan mi’raj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit  ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah di hadirat di hadirat Allah Swt.

Uniknya peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan. Peristiwa ini pun hanya terjadi dalam satu malam. Tepatnya yaitu pada bulan Rajab. Dan selama perjalanan nabi ditemani malaikat Jibril dengan menunggang Buroq.

Inilah salah satu alasan kenapa bulan Rajab menjadi salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Bahkan, pada tanggal 27 Rajab menjadi hari yang harus dirayakan bagi umat muslim.  Sebagaimana tradisi yang sudah turun temurun, tanggal 27 Rajab diyakini oleh umat muslim, bahwa pada bulan ini Nabi Muhammad di isra’ dan di mi’raj-kan oleh Allah Swt.

Bisa dikatakan, ini menjadi bulan yang penuh  hikmah  bagi umat muslim. Karena bertepatan tanggal 27 Rajab,  menjadi hari ulang tahun shalat lima waktu yang diwajibkan kepada Nabi dan umatnya. Atau bisa dikatakan awal di mana Nabi dan Muhammad di utus Allah Swt. untuk melakukan shalat Lima waktu.

Berkaca pada sejarah perjalanan nabi Muhammad dalam isra’ mi’raj. Di langit pertama Muhammad bertemu dengan nabi Adam a.s, di langit kedua bertemu dengan nabi Isa dan Yahya a.s, di langit ketiga bertemu dengan nabi Yusuf a.s, di langit ke empat bertemu dengan Nabi Idris a.s, di langit ke enam bertemu dengan nabi Musa a.s dan di langit ke tujuh bertemu dengan nabi Ibrahim a.s.

Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa di temani Jibril. Berbarengan dengan itu Allah juga berfirman : Hai Muhammad aku mengambilmu sebagai kekasih, sebagaimana aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan dan aku pun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa, aku pun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan manusia, dan aku pun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), maka ambillah apa yang aku berikan padamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.

Nabi kemudian menerima perintah untuk membawa amanah Allah berupa shalat 50 waktu dalam sehari semalam untuk Nabi Muhammad dan Umatnya. Kemudian Rasulullah turun ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan pulang  di langit ke enam. Beliau bertemu dengan Musa a.s terjadilah percakapan di antara keduanya, Musa menanyakan apa yang dibawa Muhammad setelah menghadap Allah. Muhammad kemudian menjelaskan mengenai perintah untuk melakukan shalat 50 waktu dalam sehari semalam, Musa lantas menyuruh Muhammad  untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan.

Kemudian Muhammad kembali kehadiran Allah untuk meminta keringanan. Permintaan tersebut dikabulkan, perintah shalat diturunkan menjadi 45 kali. Setelah Muhammad kembali dan bertemu lagi dengan Musa.  Dikisahkan Nabi Muhammad Saw. sempat beberapa kali pulang pergi untuk meminta keringanan shalat, hingga akhirnya turun menjadi lima kali dalam waktu sehari semalam. Seperti yang dikerjakan umat muslim sekarang ini, Subuh, Zhuhur, Ashar, maghrib dan Isya.

Menjalin Kerukunan di Bulan Rajab

Bulan Rajab menjadi momentum untuk menguatkan keimanan dan kesalehan setiap orang, baik keimanan yang ruhani maupun jasmani. Karena dalam peringatan isra’ mi’raj seseorang akan menjunjung nilai kerukunan. Yang di dalamnya memiliki nilai-nilai kebersamaan, persatuan umat, hingga gotong royong.

Bisa dikatakan sekarang ini isra’ mi’raj menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan oleh masyarakat,  khususnya muslim. Dalam momen ini terdapat hikmah yang bisa dijadikan jembatan untuk membangun kualitas diri menjadi lebih baik dan membangun relasi dengan masyarakat untuk membangun Indonesia menjadi lebih maju.

Sebagaimana yang sudah kita pahami, momen hari Rajab yang paling ditunggu-tunggu ialah kumpul bareng. Dari situ kemudian akan terbakar menjadi momentum bersilaturahmi, hingga mempererat rasa persaudaraan, dan dapat meningkatkan kualitas pemikiran, baik secara intelektual maupun sosial.

Sudah seharusnya isra’ mi’raj menjadi budaya dan kebudayaan yang harus di jaga bersama. Karena selain memberikan hikmah untuk diri sendiri, momen ini juga memberikan jalan untuk menguatkan persatuan masyarakat Indonesia. Ada cinta dan ajaran membangun dalam bulan Rajab.

Facebook Comments