Kartini, Kearifan Lokal, dan Literasi Perempuan

Kartini, Kearifan Lokal, dan Literasi Perempuan

- in Suara Kita
381
0

Membaca Kartini akan selalu melekat sebagai tokoh pergerakan perempuan Indonesia. Pramoedya Ananta Toer sampai melihat sosok Kartini sebagai peletak gerakan sejarah modern Indonesia, karena mampu membangkitkan kaum perempuan dalam mengubah wajah Nusantara. Di tangan Kartini, perempuan saja berdaya untuk dirinya sendiri, tetapi juga berdaya dengan karya dan literasinya untuk kemajuan bangsa.

Kartini bukanlah orang yang berdiam diri dengan “singgasana” kebangsawanannya, melainkan orang yang resah dan terjun langsung memberikan etos kebangkitan, kemajuan, dan kemandirian. Dengan semangat perjuangannya, ia mampu menggugah kaum perempuan bangsanya untuk “lahir kembali” memberikan yang terbaik bagi kemajuan.

Semangat literasi Kartini mengawali wajah baru peradaban modern Indonesia. Makanya, literasi Kartini menjadi inspirasi kaum perempuan Indonesia dan dunia untuk bangkit dan tampil memberikan solusi bagi kemelut dan kecamuk bangsanya, sebagaimana terjadi di Timur Tengah. Ini juga selaras dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan akhir tahun 2014 di Geneva yang mengabarkan bahwa  sekitar 100 juta hingga 140 juta perempuan menjadi korban mutilasi genital dan sekitar 70 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, sesuatu yang seringkali bertentangan dengan keinginan mereka. Dan sekitar tujuh persen perempuan berisiko diperkosa dalam hidupnya. Kekerasan itu, yang memburuk selama konflik dan krisis kemanusiaan, punya konsekuensi dramatis pada kesehatan fisik dan mental para perempuan yang menjadi korban.

Data WHO ini menjadi bukti nyata bahwa gerakan pemberdayaan perempuan melalui literasi masih berada di pinggir peradaban, karena krisis global seringkali membuat perempuan tersingkir dalam percaturan peradaban. Disinilah, gerakan literasi perempuan tidak cukup hanya sebatas suara dan slogan, melainkan sangat strategis kalau menggunakan strategi politik.

Perempuan, Pemangku “Local Genius”

Aziz Taufik Hirzi (2002) mengungkap bahwa kearifan lokal sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Radmila, 2011:1). I Ketut Gobyah dalam Radmila (2011:1) mengatakan bahwa istilah kearifan lokal berasal dari kata local genius yang diperkenalkan Quaritch Wales pada tahun 1948-1949 dengan arti “kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan” (Rosidi, 2011:29).

Dalam konteks literasi perempuan, kearifan lokal sangat melekat kuat dalam diri perempuan. Jejak kearifan lokal bangsa ini banyak sekali yang identik dengan kebesaran dan peran besar perjuangan kaum perempuan. Umi Lasminah (2013) melihat bahwa sekarang ini terjadi pergeseran besar, khususnya terkait pemindahan kesetaraan menjadi ketidaksetaraan, ada shifting position. Aceh menjadi saksi, karena di sana terjadi pergeseran kepemimpinan perempuan, yaitu ratu diganti raja laki-laki sesudah masa Ratu Kamalat Syah 1699 diganti Sultan Badrul Alam atas upaya para ulama dan kaum kaya, di masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat yang baru menganut adat bersendi sara syara bersendi kitabullah sesudah perang Paderi 1837 dan mendapat resistensi matriarkhat Minangkabau sehingga  sistim sebelumnya masih bertahan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa nasab atau garis keturunan ke ayah dan garis suku ke ibu, bahkan di Sulawesi tahun 1870-an di daerah yang belum dijajah Belanda terdapat tanah perdikan Tanah Tratea dengan raja perempuan I Madina Daeng Bau, juga tanah perdikan Ternatte diperintah oleh perempuan Wan Tanri Olé.

Fakta-fakta tersebut di atas, Lasminah akhirnya menegaskan bahwa ada suatu perubahan hakiki dari nilai kesetaraan sebagai ajaran asli yang diganti oleh ajaran dan kekuasaan pada masa itu. Di Jawa, komunitas peneliti Turangga Seta menempatkan tiga Maharatu yang memiliki kekuasaan hingga ke mancanegara pada masa lalu, yaitu Maharatu Shimawan dari Medangkamulyan yang menguasai hingga ke Jepang dan Rusia, Maharatu Sitawaka dari Matswapati (dikenal dengan Sri-Wijaya karena titisan  Dewi Sri dan Maharatu Tribuwana (Brawijaya III) Tunggadewi kerajaan Majapahit dan lain-lain.

Nama-nama pemimpin perempuan tersebut hanya cuplikan dari data tersebar mengenai sejarah kepemimpinan perempuan di masa lalu. Beliau merupakan leluhur perempuan yang juga mewariskan nilai kearifan lokal. Warisan dan kisahnya yang  masih dapat terus digali. Pada prakteknya kini pun, perempuan adalah pemangku berbagai kearifan lokal dan dapat berperan besar dalam revitalisasi khususnya dalam kehidupan keseharian manusia Indonesia.

Dari peran kesejarahan ini mengindikasikan bahwa literasi perempuan mempunyai jejak sejarah besar dalam peradaban Nusantara. Perempuan mampu menjadi ratu, pimpinan adat, atau tetua suku. Kini, peran ini dikerdilkan.

Literasi  “Local Genius”

Dengan jejak “local genius” yang dimilikinya, literasi perempuan dan gerakan pemberdayaan perempuan seharusnya mampu melakukan strategi politik “local genius”. Gerakan sangat strategis, karena melibatkan unsur sangat penting dalam budaya. Gerakannya bukan lagi di permukaan, melainkan pada dimensi sangat mendasar, akar persoalan yang selama ini dikaburkan. Literasinya akan menjadi acuan utama perempuan dalam membaca gerak jamannya.

Mengemas “local genius” sebagai strategi literasi politik perempuan tentu saja perempuan harus mampu melihat tradisi leluhur bangsa ini, dimana “local genius” mampu dijadikan alat komunikasi politik, sebagai tercermin dalam budaya kolektif, gotong royong dan toleransi. Apabila kearifan lokal itu benar-benar mewarnai komunikasi politik, Rosidi (2011) melihat sangat terbuka bagi pelaku komunikasi politik untuk bekerja dan bertindak sebaik-baiknya.

Perempuan akan mampu mendahulukan kepentingan umum, bukan hanya kepentingan laki-laki saja. Kearifan lokal bisa menjadi landasan para politisi perempuan untuk melakukan action politik dan menuntun para politisi bertindak arif, karena yang dilakukan tidak semata-mata action dan hasil, tapi prosesnya yang menggunakan aturan yang disepakati, baku, dan syarat dengan nilai etika.

Strategi literasi politik “local genius” jangan bergerak dalam wacana saja, melainkan harus bergerak cepat dalam parlemen, birokrasi pemerintahan, dan struktur pendidikan. Inilah strategi yang sangat strategis untuk mengatasi krisis global yang penuh ketidakdilan bagi perempuan. Krisis global harus disudahi, saatnya perempuan sebagai pemangku “local genius” tampil di garda terdepan memberikan solusi strategis bagi kemajuan peradaban.

 

 

Facebook Comments