Kearifan Lokal Bersih Desa : Mekanisme Deteksi Dini Radikalisme Berbasis Masyarakat

Kearifan Lokal Bersih Desa : Mekanisme Deteksi Dini Radikalisme Berbasis Masyarakat

- in Kebangsaan
578
0
Kearifan Lokal Bersih Desa : Mekanisme Deteksi Dini Radikalisme Berbasis Masyarakat

Jangankan tetangganya kemalingan, tetangganya meninggal pun terkadang mereka tidak tahu. Begitu lah kondisi sosial masyarakat di beberapa perkotaan dan kawasan pinggir perkotaan yang mulai luntur dengan nilai-nilai budaya, adat dan tradisi lokal. Masyarakat hanya kumpulan orang yang tinggal bersama, tetapi minim komunikasi dan interaksi sosial yang memadai.

Pada umumnya, gerakan radikalisme dan terorisme berdiam diri dengan nyaman di tengah kondisi masyarakat yang individualistik. Mereka hanya datang dan pergi tanpa ada kepedulian dari masyarakat. Umumnya mereka juga anti sosial dan banyak mengisolasi diri dari ruang perjumpaan masyarakat.

Di sinilah penting untuk melihat satu kekuatan penting dalam mekanisme pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat yang penting dihidupkan kembali. Ya, kearifan lokal meliputi tradisi, budaya, adat istiadat dan nilai luhur menjadi penting direvitalisasi di tengah masyarakat sebagai alarm detektor sekaligus media penanaman nilai kerukunan dan kepedulian masyarakat.

Kearifan lokal menjadi kekuatan penting di tengah perubahan sosial yang bergulir cepat menerpa sistem sosial masyarakat. Masyarakat yang tercerabut dari nilai dan tradisi akan memunculkan pola masyarakat yang isolatife, ekslusif, dan kurang peka terhadap lingkungannya. Kearifan lokal melalui tradisi dan budaya mampu menghimpun kembali mereka yang tercerai berai.

Dalam alam pikir kearifan lokal, kepemimpinan tradisional seperti tokoh adat, tookoh masyarakat, dan tokoh agama mempunyai peran penting dalam mendeteksi dan mengawasi sekaligus mengidentifikasi perubahan yang mencurigakan. Masyarakat yang begitu intens mengalami perjuampaan sosial setiap hari dapat memupuk nilai kolektifitas dan solidaritas. Karenanya, ruang sosial menjadi sempit dari celah infiltrasi kelompok yang ingin bersembunyi atau menyebarkan paham yang bertentangan dengan nilai budaya setempat.

Semakin banyak acara budaya dan keagamaan di tengah masyarakat yang digunakan untuk tempat berkumpul dan mempromosikan perdamaian, semakin sempit pula ruang bagi kelompok yang ingin menyebarkan perpecahan, kebencian dan hasutan di tengah masyarakat. Interaksi antara individu diikat dengan nilai dan norma yang disepakati bersama untuk kemashalahatan bersama.

Bersih Desa : Spiritualitas, Solidaritas dan Imunitas Lokal

Tradisi bersih desa merupakan salah satu tradisi dan budaya di beberapa masyarakat Jawa yang masih diperingati, tetapi sebagian besar juga sudah ditinggalkan. Di samping tergerus oleh perubahan zaman, Sebagian pula bersih desa ditinggalkan karena alasan keyakinan keagamaan.

Secara umum tradisi ini menjadi ajang perayaan solidaritas dan kebersamaan masyarakat. Tradisi ini menjadi ekspresi bentuk syukur masyarakat dengan membawa berbagai macam makanan dan lauk pauk hasil panen mereka. Semua orang berpartisipasi dalam keceriaan dan rasa syukur. Mereka juga memanjatkan doa agar diberikan rejeki melimpah dan dijauhi dari segala bencana.

Bersih desa menjadi hari raya tersendiri bagi masyarakat desa. Dari pagi yang dilaksanakan dengan acara gotong royong untuk membersihkan seluruh lingkungan desa. Semua berpartisipasi. Ruang-ruang desa diketahui dan dipahami bersama sehingga tidak ada orang yang merasa terkucilkan dan dikucilkan.

Pada sore menjelang malam, mereka berkumpul bersama untuk saling berdoa. Di Sebagian tempat ada pembacaan dongeng tentang kisah Dewi Sri. Di sebagian lain ada ceramah agama. Acara makan bersama dimulai dan di beberapa tempat disuguhkan pertunjukan wayang yang berisi nilai edukasi dan kebudayaan bagi masyarakat.

Acara yang memadukan antara nilai kerjasama, spiritualitas dan kesenian ini menjadi salah satu bentuk kebudayaan yang agung. Sebuah tradisi yang penting terus dilestarikan di tengah gempuran budaya inividualisme dan materialism.

Tidak perlu dipertentangan antara budaya dan agama. Lihatlah bagaimana Wali Songo memberikan warna beda di beberapa daerah dalam melaksanakan bersih desa. Internalisasi nilai Islam dimasukkan yang tidak merusak budaya sebagai cover yang melapisinya.

Bersih desa bisa diinternalisasi menjadi program penanaman nilai anti kekerasan dan terorisme. Masyarakat yang saling kerjasama dan berbagi kepedulian akan mudah mendeteksi dan mencegah pola penyebaran radikal terorisme di tengah masyarakat. Bersih desa sejatinya meningkatkan imunitas masyarakat agar tidak mudah terpapar.

Penanggulangan terorisme seharusnya tidak mencerabut akar masyarakat. Apalagi dengan kehadiran negara yang terlihat powerful mengontrol masyarakat. Penanggulangan terorisme harus merumuskan mekanisme yang berbasis kebudayaan masyarakat.

Indonesia tidak perlu pusing-pusing memikirkan pencegahan berbasis komunitas yang jlimet dalam teori-teori penanggulangan terorisme. seluruh komponen kearifan lokal masyarakat sejatinya mekanisme yang bisa digunakan dalam mendeteksi dan mencegah radikal terorisme serta ruang penanaman nilai perdamaian dan kerukunan. Toh, biasanya kelompok radikal terorisme ini emang anti kearifan lokal kan? Jadi, mudah dikenali.

Facebook Comments