Klaim Jejak Khilafah Dan Kesiap Siagaan Kita

Klaim Jejak Khilafah Dan Kesiap Siagaan Kita

- in Suara Kita
158
0
Klaim Jejak Khilafah Dan Kesiap Siagaan Kita

Pendukung khilafah tak henti-henti memancing perhatian khalayak umum, dengan segala sesuatu yang bisa dihubung-hubungkan dengan idiologi khilafah versi mereka. Sebelum munculnya film tentang “yang katanya” Jejak Khilafah, mereka seperti berusaha keras mencari keyword “khilafah” di seluruh mata pelajaran di pesantren. Kini, bersama merebaknya sindrom “matinya kepakaran” serta tren “kebebasan berbicara di ruang publik”, mereka mulai melakukan otak-atik sejarah Islam di nusantara.

Tindakan yang menciderai nalar akademis ini tentunya membuat khalayak menjadi prihatin. Kritikan serta cacian mulai bermunculan demi menolak klaim mereka. Sayangnya, publik kadang tak sadar bahwa keresahan yang keterlaluan hanya justru memperbesar permasalahan yang sebenarnya kecil, dan justru membuat mereka abai terhadap permasalahan yang lebih besar.

Menanggapi klaim jejak khilafah adalah masalah kecil, bila dibanding mendidik generasi bangsa agar tidak buta sejarah sehingga bisa dengan mudah dikaburkan sejarah bangsanya sendiri. Permasalahan yang lebih besar adalah menyiapkan generasi yang siap siaga melawan rongrongan terhadap NKRI, sehingga tanpa perlu melawan atau mencaci, mereka tidak akan terpapar klaim jejak khilafah.

Mulai Dari Menjaga Nalar Sampai Mengenal Sejarah Bangsa Sendiri

Persoalan menanggapi klaim semacam jejak khilafah adalah persoalan yang tidak cukup diselesaikan dengan mempelajari sejarah, benarkah dahulu ada khilafah di nusantara atau itu hanya sekedar hasil ilmu cocokologi. Persoalan ini juga tidak akan selesai dengan masing-masing berbicara atas nama pribadi, menyatakan adanya pembelokan sejarah. Apalagi disertai caci-maki terhadap pendukung khilafah.

Baca Juga : Merdeka dari Radikalisme

Langkah ini bisa saja hanya akan memberi dukungan pada pendukung khilafah, bahwa memang benar kepakaran telah mati dan semua bebas mengutarakan pendapat di depan publik. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang penting diingat dalam menanggapi klaim jejak khalifah:

Pertama, eksitensi kekhalifaan dalam Islam memang ada dan tercatat dalam sejarah. Namun tidak sebagai sebuah ajaran Islam, tapi sebagai sebuah sistem politik yang kadang dipakai dan kadang ditinggalkan. Yang bekepentingan dengan khilafah bukanlah umat Islam secara umum, tapi elit politik di negeri muslim yang mencari jalan agar kepentingan politiknya dapat tersalurkan.

Oleh karena itu, khilafah tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam. Namun juga tidak menrepresentasikan Islam. Mengabaikan sama sekali fakta khilafah hanya akan membuat seorang muslim kebingungan dan jutru bisa terjerumus pada klaim adanya pengkaburan terhadap sejarah khilafah. Yang seharusnya dilakukan adalah tetap menjadikan khilafah menjadi bagian sejarah, serta berusaha untuk tetap menjadikannya tetap menjadi bagian sejarah, sebab sudah tidak lagi relevan di masa sekarang.

Kedua, bisa jadi pendukung khilafah hanya sedang memancing perbincangan publik terhadap jejak khilafah di nusantara. Ini akan membuka jalan semua orang berkomentar lewat beragam tingkat pengetahuan mereka terhadap sejarah. Di saat pakar sejarah sudah tidak menjadi satu-satunya rujukan, cara ini bisa menjadi jalan membentuk opini publik, kepada kesimpulan semacam ada kemungkinan sejarah khilafah telah dikaburkan meski itu kemungkinan yang amat kecil. Ditambah lagi, keberadaan faktor ketimpangan ekonomi serta semangat menegakkan Islam minus keilmuan.

Ketiga, kita masih punya “pekerjaan rumah” berupa generasi yang tak mendukung khilafah, juga menentangnya. Merekalah bagian masyarakat yang rentan terpapar oleh ideologi khilafah. Sebab kemungkinan mereka mengabaikan fakta sebenarnya dari khilafah, amat besar. Dan itu menambah besar peluang terpapar khilafah. Dengan cukup membungkus khilafah dengan kemasan islami saja, mereka sudah terlena. Ini adalah bagian strategi membungkus kejahatan dengan kebaikan.

Seorang pakar Islam terkemuka; Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Bidayatul Hidayah, bahwa akan tiba suatu kesempatan setan akan membungkus kejahatan dengan kebaikan dan menyuguhkannya pada orang muslim yang minim pengetahuannya. Muslim tersebut akan tertipu dengan kebaikan itu dan dengan sekuat tenaga memperjuangkannya. Tak perduli apakah cara yang dipakai itu sudah benar atau salah. Imam Al-Ghazali berkata:

Jangan sampai setan menipumu dengan berkata padamu: “Tunjukkan hal yang haq dan jangan meremehkannya”. Sungguh setan selamanya akan mengajak orang bodoh kepada keburukan dalam rupa kebaikan.

Kesimpulan Kesiap siagaan kita terhadap klaim jejak khilafah adalah tidak dengan terlampau serius menanggapinya, sehingga lalai terhadap penguatan kecintaan anak bangsa terhadap bangsanya sendiri. Atau, biarlah yang pakar sejarah atau orang yang berkompeten yang menyanggah klaim tersebut, tidak perlu semua orang berbicara sekenanya tentang kebohongan khilafah sampai menjadikan yang fakta menjadi kebohongan sebab minimnya pengetahuan.

Facebook Comments