Kolonialisme Israel Terhadap Palestina, Diplomasi Indonesia dan Pentingnya Solidaritas Global

Kolonialisme Israel Terhadap Palestina, Diplomasi Indonesia dan Pentingnya Solidaritas Global

- in Suara Kita
928
0
Kolonialisme Israel Terhadap Palestina, Diplomasi Indonesia dan Pentingnya Solidaritas Global

“Penderitaan rakyat Palestina akibat kekejaman Israel sudah berlangsung sejak 1948. Dunia arab tidak pernah kompak membela saudaranya yang menderita ini. PBB seperti macan ompong berhadapan dengan negara zionis dukungan Amerika Serikat ini. Maka dapat dipahami, jika muncul pandangan ekstrem mantan anggota angkatan udara Israel, Gilad Aztmon, yang kemudian menjadi pembela gigih Palestina: dunia hanya mungkin aman dan damai manakala Israel zionis dipindahkan ke planet lain.”

Buya Ahmad Syafi’I Maarif, 17 Mei 2021.

Pernyataan mantan ketum PP Muhammadiyah ini, menjadi isyarat akan pentingnya keberpihakan kita terhadap warga Palestina. Mengingat penyerangan yang dilakukan oleh militer zionis Israel telah mencederai sisi penting kemanusiaan. Serangan zionis Israel terhadap Palestina ini pada dasarnya bagian dari kolonialisme.  

Secara teknologi kemiliteran, antara Israel dan Palestina memang ibarat langit dan bumi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Israel sudah bak negara-negara maju di Eropa. Sehingga Palestina semakin sulit untuk melakukan perlawanan ketika terjadi kekejaman Israel.

Sejak kemenangan Israel pada perang 6 hari antara Arab-Israel pada tahun 1967, Israel semakin banyak mencaplok wilayah strategis Palestina. Yang pada akhirnya, Palestina saat ini memiliki sedikit wilayah yang berada di bahwa kedaulatan Palestina. Israel dengan tank bajanya telah menjajah serta banyak membumi hanguskan warga Palestina. Mereka berdalih bahwa mereka mengambil “tanah perjanjian”.  

Merujuk kepada pernyataan sikap Buya di atas, selain lemahnya posisi Palestina, juga tidak adanya kekompakan negara-negara Arab untuk membela Palestina. Padahal Palestina merupakan negara mayoritas muslim, yang sejatinya perlu dibela sebagai saudara seagama. Apalagi, secara nyata Israel menyalahi hukum internasional dengan sewenang-wenang membunuh warga sipil Palestina. 

Diplomasi Indonesia

Secara global, persoalan kolonialisme Israel terhadap Palestina yang belakangan terjadi menjadi perbincangan dunia. Sebagai buktinya, banyak di antara warga dunia yang bersimpati terhadap Palestina. Bahkan ribuan pengunjuk rasa di kota-kota besar Eropa seperti London, Berlin, Madrid, dan Paris berdemo menyuarakan dukungannya untuk Palestina, Kompas.com, Sabtu (15/5/2021).

Namun, PBB sampai hari ini seperti macan ompong dan belum ada pernyataan sikap yang muncul. Pada tahun 2018, Amerika Serikat (AS) kembali berusaha melindungi Israel dari kecaman dan penjatuhan sanksi dari PBB, AS memblokir rancangan pernyataan Dewan Keamanan PBB yang mendesak penghentian serangan dan menyerukan penyelidikan setelah tentara Israel menembak para demonstran Palestina yang tidak bersenjata di sepanjang perbatasan Gaza-Israel, Republika (31/03/).    

Menurut Israel, mereka memiliki kewenangan yang berdaulat secara hukum sesuai legitimasi hukum negaranya sendiri. Israel seringkali menolak sanksi PBB, bahkan tidak pernah mengindahkannya. Padahal PBB sejatinya menjadi payung dan wadah bersama seluruh negara bangsa di dunia untuk menguatkan solidaritas negara bangsa.  

Diplomasi Indonesia sebagai negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, menanggapi serangan Israel terhadap Palestina, yakni mengecam atas peristiwa yang terjadi serta mendesak PBB untuk mensanksi Israel atas tindakan inkonstitusional dan pelanggaran HAM.nya. Namun, Israel dengan backingan sekutu terbesarnya. Amerika Serikat, bisa dipastikan tidak akan terlalu merespon berbagai kecaman yang disematkan kepada mereka.

Solidaritas Global

Pasca penyerangan Israel di Yerusalem (Palestina), Hamas sebagai kelompok militer bersenjata Palestina kemudian merespon dan menyatakan ingin berusaha mempertahankan Yerusalem dan mereka pun melancarkan serangan roket ke wilayah Israel. Sehingga pecahlah pertempuran antara Israel dan Palestina (Hamas). Menurut Deutsche Welle (DW), dari tanggal 10-14 Mei, 2021, lebih dari seribu roket ditembakkan dari Gaza ke wilayah Israel.

Angkatan Udara Israel meresponnya dengan mengebomi wilayah Gaza. Yang akibatnya, Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, paling kurang 119 orang Palestina tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Sebaliknya, Israel “hanya” kehilangan sembilan warganya.

Menurut As’ad Said Ali (2021), di tubuh elit Palestina sendiri sejak tahun 2004 terjadi perpecahan, antara Al-Fatah yg menguasai Tepi Barat hingga Yordania berhadapan dengan Hamas yang menguasai Gaza. Al-Fatah dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas, sedangkan Hamas dipimpin oleh Khaled Mishal dan Ismail Haniya. Al-Fatah didukung Mesir dan Arab Saudi CS, sedangkan Hamas (yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin) didukung Iran, Syria dan kini Qatar.

Untuk itu, di tengah kompleksitas masalah yang dialami Palestina, maka yang dibutuhkan saat ini adalah bersama-sama menguatkan solidaritas global. Tanpa adanya keberpihakan dan solidaritas bersama dalam skala global, kemerdekaan dan kedamaian untuk Palestina masih menjadi jalan terjal nan panjang.

Pada akhirnya, memecahkan problem Israel-Palestina itu perlu berunding, bukan justru dengan gencatan senjata. Perlunya PBB melibatkan negara-negara di dunia untuk mencari solusi atas dua negara. Serta pentingnya bagi semua yang mengaku sebagai negara berdaulat, nantinya untuk mengikuti dan mematuhi keputusan apapun dari PBB sebagai bentuk rekognisi diplomasi internasional.

Facebook Comments