Konspirasi dan Peradaban

Konspirasi dan Peradaban

- in Narasi
371
0
Konspirasi dan Peradaban

Adalah seorang Jean-Michel Basquiat yang sebermulanya suka mencorat-coret tembok yang kini kemudian lebih popular dengan sebutan seni graffiti dengan berbagai turunannya ketika sampai digaleri-galeri: naïve art ataupun lobow art. Seusai ditemukan dan diajak berkarya bersama oleh seniman pop-art, Andy Warhol, Basquiat kemudian menjadi besar dan karya-karya seni rupanya, yang sebelumnya seperti halnya coret-moret absurd, dianggap buah karya dari seorang jenius.

Dalam karya-karyanya yang di atas kanvas, seniman yang mati diusia 27 tahun itu, suka menyelipkan kata-kata yang pada dasarnya, barangkali, hanyalah iseng semata. Lalu gelombang tafsir para kurator dan kolektor seni rupa saat itu membuat karya-karya seniman yang konon keturunan bangsa Kreol itu tampak penuh makna.

Basquiat dan karya-karyanya hanyalah sepotong tamsil dari apa yang di hari ini dikenal sebagai “konspirasi.” Konspirasi, dalam dunia sains, terkadang digunakan sebagai jalan pintas untuk menjelaskan atau membuat paham atas sesuatu yang terjadi dan di luar perkiraan. Pada dasarnya, hakikat konspirasi adalah seperti halnya drama seorang Basquiat bersama karya-karyanya, yang sebelumnya barangkali tak pernah diniatkan apa-apa lalu tiba-tiba menjadi penuh makna.

Taruhlah juga apa yang di hari ini dikenal sebagai nalar kebencian yang lazimnya dikaitkan dengan fenomena politik-keagamaan. Dari kisah pewayangan orang jadi paham bahwa sejatinya persoalannya adalah sepele saja. Rsi Drona—atau bisa pula yang di hari ini diwakili oleh drama para habaib Yaman yang tengah banyak digugat—yang terpaksa menjual komitmen keagamaannya pada kekuatan politik yang secara moral dipandang bobrok, yang disebut sebagai Kurawa, sebenarnya beranjak dari keadaan dimana sang rsi hidup dengan anak semata wayangnya tanpa isteri dan papan untuk berdiam (Petaka Melankolia: Perihal Kebhinekaan, Kenusantaraan, Radikalisme dan Terorisme, Heru Harjo Hutomo, PT Nyala Masadepan Indonesia, Surakarta, 2021.

Di satu sisi konspirasi memang dapat menumbuhkan peradaban dan ilmu pengetahuan, sebagaimana Basquiat dan karya-karyanya yang membuka ruang perkawinan antara seni rupa dan psikologi yang kemudian dikenal sebagai psikologi seni. Demikian pula Rsi Drona yang dapat membuka ruang untuk tumbuh-kembangnya kajian politik-keagamaan ataupun, secara khusus, psikologi radikalisme dan terorisme. Namun, konspirasi pula yang ternyata dapat mengoyak tatanan dan kohesi sosial.

Kasus penembakan yang terjadi di kantor MUI pusat beberapa waktu lalu, yang kemudian menyulut tafsir tentang sentimen pada golongan agama ataupun aspirasi keagamaan tertentu, sebagaimana kasus Basquiat dan Rsi Drona, barangkali hanyalah buah dari kondisi kekurangan yang sepele saja, tanpa tetek-bengek ideologi apapun di baliknya seperti halnya gerakan Anarko yang pernah dilabeli sebagai gerakan sekularisme-radikal yang pernah menyelingi gerakan-gerakan keagamaan radikal beberapa tahun yang lalu di jagat perpolitikan Indonesia.

Dengan demikian, konspirasi memang bermata dua, di satu sisi ia dapat menumbuh-kembangkan hal-hal yang sama sekali orisinal dan inspiratif, bahkan pun ketika ia beranjak dari sebuah kekeliruan sebagaimana eksistensialismenya Sartre ataupun Daseinalyze-nyaBinswanger pada filsafat Martin Heidegger. Namun, ketika akal sehat tak lagi digunakan sebagai ukuran, ia akan dapat menjelma bencana sebagaimana eksistensi para habaib Yaman yang di Jawa pernah dilambangkan sebagai dewa kematian, Bathara Yamadipati, dan penguasa neraka yang disebut sebagai Yomaniloka (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV Kekata Group, Surakarta, 2020).

Facebook Comments