Kontekstualisasi Nilai Ramadan dalam Kehidupan Berbangsa

Kontekstualisasi Nilai Ramadan dalam Kehidupan Berbangsa

- in Narasi
423
0
Kontekstualisasi Nilai Ramadan dalam Kehidupan Berbangsa

Seandainya umat Islam tahu keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan niscaya berharap sepanjang tahun dijadikan sebagai bulan suci, sekalipun harus berpuasa selama setahun itu. Begitulah pesan Rasulullah. Nilai-nilai bulan puasa Ramadan mendidik umat Islam menjadi manusia sebagai hamba yang sesungguhnya, sebagaimana tujuan diciptakannya.

Puasa di bulan Ramadan, selain dibalas dengan pahala tak terhingga atau tak terbatas dan Tuhan sendiri yang akan memberikan balasan itu, juga memberikan pendidikan ruhani menjadi manusia yang memiliki integritas keimanan dan ketakwaan yang kuat sesuai spirit ajaran agama Islam yang sebenarnya. Termasuk bagaimana menjadi warga negara yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Bagi umat Islam di Indonesia, beberapa nilai puasa Ramadan mendidik manusia menjadi insan yang bersyukur karena telah diberi nikmat hidup di negara yang damai. Sehingga memiliki sikap dan cara pandang yang kuat untuk mempertahankan nikmat damai itu. Tanpa harus menggugat sistem apa yang dipakai, sebab tujuan berdirinya sebuah negara menurut pandangan Islam telah terejawantah, yaitu menjadi dunia dan mengatur kehidupan manusia yang lebih baik.

Misalnya, angan-angan untuk mengganti sistem demokrasi dengan sistem lain yang diduga lebih baik, adalah keinginan tak berdasar karena belum tentu menjamin kemaslahatan yang lebih baik. Disamping itu, demokrasi sendiri telah disepakati oleh para ulama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.

Nilai Ramadan untuk Negeri

Di antara nilai-nilai puasa Ramadan yang berkontribusi terhadap terciptanya kedamaian dan ketenteraman sehingga dua tujuan bernegara negara di atas tercapai dengan baik adalah kejujuran, inklusifitas, sikap anti hoaks, tolong menolong, tidak menyebarkan kebencian dan sikap tidak berbohong.

Nilai-nilai tersebut merupakan manifestasi ketakwaan yang diajarkan oleh puasa Ramadan. Apabila menghunjam dalam lubuk hati akan menciptakan suatu kehidupan yang benar-benar ideal. Akan membentuk iklim kehidupan bernegara yang harmonis, cinta kedamaian dan tidak senang permusuhan antar sesama anak bangsa. Oleh karenanya, negeri akan tenang tanpa hiruk pikuk aroma permusuhan dan sikap saling menyalahkan.

Dalam alam demokrasi inklusifitas merupakan modal utama. Puasa Ramadan mengajarkan seseorang untuk memiliki sikap inklusif, sikap terbuka menerima perbedaan. Baik perbedaan agama, madzhab, suku, etnis dan golongan. Tujuan hakiki puasa Ramadan adalah mendidik manusia supaya memiliki ketakwaan yang mendalam. Ukuran keutamaan manusia di hadapan Tuhan adalah ketakwaannya, bukan yang lain.

Karena tolak ukurnya demikian, tentu tidak ada gunanya mendaku diri sbagai yang paling benar, paling beragama, dan sifat keakuan yang lain. Justru, klaim diri sebagai paling benar dan paling beriman menjadi indikator lemahnya keagamaan seseorang. Dan, puasa Ramadan menjadi madrasah untuk mendidik manusia lepas dari segala sifat keegoisan beragama seperti itu.

Demikian pula sifat kejujuran yang diajarkan oleh puasa Ramadan. Sifat ini mendidik manusia supaya jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Kepada diri sendiri ia jujur bahwa dirinya hanya seorang hamba yang tidak memiliki otoritas untuk menentukan orang lain sebagai kafir dan sesat, sebab boleh jadi orang lain juga memiliki legalitas dalil dan argumen yang lebih baik dan lebih kuat.

Terhadap orang lain, kejujuran bermakna menerima segala perbedaan sebagai sesuatu yang memang dikehendaki oleh Tuhan. Multikulturalisme adalah keniscayaan yang ditegaskan oleh kitab suci dan harus diterima oleh umat Islam.

Oleh karena itu, kebohongan, apalagi memakai tameng agama sebagai pembenar, suatu sikap yang dilarang dalam agama. Dalam hal puasa Ramadan, kebohongan menjadi batu sandung diterimanya puasa seseorang. Akibatnya, puasa Ramadan bisa menjadi tidak bermakna selain hanya lapar dan dahaga.

Demikian pula sikap anti hoaks, saling membenci dan menebar permusuhan, semua itu merupakan nilai-nilai yang diajarkan puasa Ramadan supaya manusia menjadi sempurna dan suci. Dalam konteks bernegara, nilai-nilai tersebut akan membentuk kehidupan suatu bangsa kearah kehidupan yang bermartabat serta jauh dari permusuhan dan retaknya persatuan bangsa.

Maka, dianjurkan memperbanyak membaca al Qur’an di bulan Ramadan adalah indikasi supaya manusia benar-benar memahami ajaran Islam dalam al Qur’an. Tadarus, bukan hanya membaca al Qur’an bergantian seperti lazimnya kita jumpai di masjid atau mushalla. Tadarus memiliki arti lebih dari itu, yakni belajar mendalam tentang isi dan kandungan al Qur’an.

Upaya seseorang mengerti dan memahami ajaran al Qur’an secara syamil, tidak memahaminya secara parsial karena berakibat kesalahan dalam memahami ajaran kitab suci tersebut. Sikap merasa paling benar, senang membuat atau menyebarkan berita hoaks, eksklusif, membenci pihak lain yang tidak sehaluan dan senang melakukan adu domba serta fitnah, merupakan kegagalan dalam membaca al Qur’an.

Kegagalan seperti itu bisa di atasi dengan puasa Ramadan. Setelah nilai-nilai puasa bisa dihadirkan dalam setiap pribadi pada akhirnya akan menciptakan sosok yang mampu mengimplementasikan ketakwaan dan keimanan secara baik dan sempurna. Dengan sendirinya akan tergerak untuk melakukan pembacaan lebih mendalam terhadap al Qur’an, tidak terbatas pada pemahaman mentah yang akibatnya adalah mendistorsi ajaran agama itu sendiri.

Sesungguhnya, keriuhan yang menggejala di negeri ini, berupa sikap anti pemerintah, menyalahkan dengan tuduhan sesat dan kafir kelompok lain, serta sikap tidak menghormati setiap perbedaan, adalah karena tidak menjalankan ibadah puasa secara sungguh-sungguh.

Facebook Comments