Kontribusi Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani dalam Membangun Toleransi Beragama

Kontribusi Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani dalam Membangun Toleransi Beragama

- in Tokoh
692
0
Kontribusi Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani dalam Membangun Toleransi Beragama

Saya begitu tertarik dengan dua pemikir sekaligus ulama Islam yang kiprahnya seakan “dihilangkan” di dunia Islam kita saat ini. Dia adalah Ibnu Hazm dan Asy-Syahrastani dengan pemikiran dan perjuangannya dalam membangun toleransi dan keharmonisan antar umat beragama.

Ibnu Hazm adalah seorang pakar ahli Fiqh sekaligus ulama Aswaja di dunia Islam di Spanyol. Begitu juga dengan Abu al-Fath Abdul Karim bin Abi Bakr Ahmad asy-Syahrastani yang familiar dengan nama (Asy-Syahrastani). Dia adalah ulama Islam asal Iran yang begitu pakar dalam urusan tafsir, ilmu kalam dan sejarah Islam.

Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani bisa disebut “bapak” ilmu perbandingan agama kita. Dua sarjana Muslim ini memiliki cara pandang yang etis di dalam mempelajari titik-temu entitas keagamaan yang bisa saling menghargai. Tumbuhnya toleransi bagi Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani itu sebetulnya lahir dari pemahaman seseorang atas agamanya sendiri.

Sebab, kebenaran Iman itu terletak dalam wilayah personal dan terjamah dalam kebatinan setiap seseorang. Keduanya membangun keterbukaan diri dalam beragama. Bagaimana, pemahaman di tengah arus klaim eksklusif terhadap agama-agama lainnya.

Pada abad 11 muncullah pemikiran kritis dalam pengetahuan tentang analisis bible dari seorang intelektual muslim bernama Ali ibnu Hazm al-Andalusy. Tertuang dalam bukunya berjudul الفصل في الملل و الأحوال النحال “. Beliau mengungkapkan bahwa ada 78 pasal dalam kitab Injil yang saling bertentangan sehingga dapat disimpulkan bahwa kitab Injil bukanlah berasal dari Injil.

Apa yang disampaikan oleh Beliau bukan bersifat sentiment atas kitab suci di luar agama Islam. Sebab, Ibnu Hazm juga mengkritik bagaimana pola politisasi ayat di dalam Al-Qur’an itu juga memerangi. Bagaimana kebencian dan klaim-klaim eksklusif dalam beragama menjadi penyebab pertumpahan darah itu.

Pemikiran yang terbuka dalam konteks keagamaan ini dilanjutkan Abu al Fattah as-Syahrastani (1071-1153). Hingga, melahirkan buku yang sangat berkontribusi besar dalam pemikiran studi agama dalam membangun perdamaian dan toleransi. Seperti dalam bukunya yang berjudul “الملل و النحال”.

Buku ini menjadi sumber rujukan para intelektual studi agama dalam kajian mereka. Di dalamnya berisi ensiklopedia ringkasan dari berbagai agama-agama dan sekte, kepercayaan dan pandangan para filosofi yang erat kaitannya dengan metafisika yang terkenal pada masanya.

Ibnu Hazm belajar banyak mengenai Nasrani dan Yahudi yang kemudian dibukukan dalam sebuah karya bukunya yang berjudul الفصال في الملل و الأحوال النحال”. Pandangan Ibnu Hazm mengacu ke dalam sebuah argument yang dia sampaikan, bahwa ada banyak pemahaman dan sejarah yang harus dikritisi. Walaupun bentuk kritikannya tidak membuat yang keliru tadi menjadi benar, yang ada hanyalah polemik dan penolakan yang akan timbul.

Dalam perjalanan pemikiran Studi Agama Ibnu Hazm, Ia melakukan diskusi intensif dengan kalangan intelektual Yahudi dan Nasrani guna pengembangan pengetahuannya. Salah satunya ia berdiskusi dengan Samuel Ibn an Angrily dan ia membukukan hasil diskusinya dengan Samuel.

Ibnu Hazm memiliki pemikiran yang literalism dan Qur’ani. Menurut pendapatnya, kebenaran agama tidak dapat bertentangan satu sama lain. Suatu kitab suci tidak mungkin mengandung inkonsistensi atau kontradiksi, dan tidak ada yang tidak jelas dalam teks suatu kitab suci karena kitab suci adalah sesuatu yang jelas dan sudah dipahami.

Apa yang dimaksud oleh Ibn-Hazm dan Asy-Syahrastani dalam konteks prinsip keagamaan. Bahwa, agama pada dasarnya tidak pernah bersifat reduksionis, intolerant apalagi menjadi penyebab pertumpahan darah. Kritikan keduanya mengacu ke dalam aktivitas politis atas ayat suci. Keduanya memiliki prinsip yang mengarah ke dalam sebuah pemahaman, bahwa agama tak pernah meniscayakan kebencian dan permusuhan.

Facebook Comments