Kurban: Semangat Menghargai Kemanusiaan

Kurban: Semangat Menghargai Kemanusiaan

- in Keagamaan
1604
0

Minggu-minggu ini kaum Muslimin akan disibukkan dengan ritual Kurban, sebuah ritual yang dilaksanakan di hari raya Idhul Adha. Mereka yang akan berkurban mulai mengihitung-hitung anggaran, memilih-milih binatang Kurban, dan mengambil keputusan dimana dan kepada siapa mereka akan membagikan daging Kurban tersebut.

Kaum muslimin di Indonesia begitu bersemangat dan bersuka ria menyambut datangnya Idhul Kurban. Kegembiraan ini muncul karena yang berkecukupan merasa mendapat kesempatan berbagi, sementara yang masih dalam keterbatasan akan mendapat kemurahan dari saudara seiman yang kelebihan rejeki. Begitulah Kurban, sebuah ritual yang merupakan perpaduan antara keihlasan, kerendah-hatian dan penghargaan.

Para ulama telah banyak menulis dan bercerita mengenai kisah Nabiallah Ibrahim dan putranya Ismail, dua sosok yang menjadi role model bagi umat Islam dalam ritual kurban. Ibrahim adalah model seorang ayah yang maha berbakti kepada Allah hingga ia rela mengorbankan hartanya yang paing berharga –anak laki-laki semata wayangnya– demi ridha Allah.

Demikian pula halnya dengan Ismail,  ia adalah model seorang putra shalih yang rela menerima keputusan sakit tak terperikan demi berbakti kepada orang tua dan mendapat ridla Allah. Keduanya adalah tipikal dua insan, ayah dan anak, yang muhlisin. Sungguh bahagia kaum muslimin mendapatkan dua role model ini.

Tulisan ini tidak hendak mengulang lagi kisah dramatis antara ayah dan anak kekasih Allah tersebut, namun lebih dari itu, tulisan ini mengambil sudut lain dimana Allah memberikan contoh betapa kemanusiaan dihargai.

Terdapat setidaknya tiga peristiwa penting yang memberikan inspirasi bagi kehidupan umat Islam dari peristiwa “percobaan penyembelihah” Ismail ini. Pertama, ujian Allah kepada Nabi Ibrahim melalui perintah untuk ‘mengembalikan’ putranya kepada Allah, kedua, peristiwa penerimaan Ismail terhadap keputusan ayahnya yang sangat pedih dan ketiga adalah peristiwa penggantian objek Kurban dari manusia (Ismail) menjadi kambing oleh Allah Subhanahu wataala.

Pada peristiwa pertama, kaum muslimin bisa melihat betapa tidak ada satu pun  hal yang lebih berharga dibandingkan pengabdian kepada Allah. Ibrahim adalah seorang nabi yang tidak hanya berilmu, namun Ia juga seorang yang kaya raya. Dikisahkan bahwa setiap periode tertentu Ibrahim mengorbankan ratusan kambing untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara dan tetangga.

Memiliki keturunan adalah cita-cita siapapun, apa lagi bagi seorang kaya dan berilmu. Saat itu seakan tidak sempurna hidup seorang alim dan kaya jika tidak dapat mewariskan ilmu dan hartanya kepada putra laki-lakinya. Setelah penantian panjang, akhirnya Ibrahim mendapatkan seorang putra yang begitu menyenangkan, parasnya tampan, cerdas akalnya dan luhur budi pekertinya.

Namun kebahagiaan itu seolah tidak bertahan lama, Allah menguji keimanan nabi-Nya ini dengan perintah untuk menyembelih putra yang telah dinantikannya selama puluhan tahun. Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya sebagai bukti atas keihlasannya mengabdi kepada Allah. Ibrahim pun melaksanakan perintah tersebut karena baginya tidak ada sesuatu yang lebih berharga dibanding kepatuhan kepada perintah Allah. Sementara Ismail, yang mewarisi ketaatan kepada Allah dari ayahnya, juga tidak segan untuk menerima keputusan Allah tersebut meskipun tentu terasa sangat menyakitkan. Ia harus melakukan pengorbanan yang mungkin belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya, namun Ismail begitu yakin betapa keputusan Allah tidak pernah salah. Ia menerima keputusan itu dengan ikhlas, sambil meyakini bahwa rencana tuhan pasti jauh lebih baik.

Dua peristiwa di atas menunjukkan betapa keimanan tidak mudah dikalahkan, nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membuktikan bahwa keimanan kepada Allah tidak akan menghasilkan hal lain selain kebahagiaan. Hal itu dibuktikan Allah dengan mengakhiri ujian tersebut, Allah ‘mengembalikan’ putra terkasih nabi Ibrahim. Tidak berhenti di situ, Allah lantas menghadiahi Nabi Ibrahim dan nabi Ismail dengan seekor kambing yang konon diambil langsung dari surga untuk dijadikan hewan kurban. Beberapa kalangan meyakini bahwa kambing yang diberikan oleh Allah adalah simbol dari keridhoan Allah atas keimanan hamba-Nya.

Sepenggal kisah dari nabi Ibrahim di atas juga merupakan panduan bagi kita semua untuk tidak pernah mengganggap sesuatu terlalu mahal atau sulit jika tujuannya adalah untuk mempertahankan nilai-nilai ilahi. Kerena dibalik segala kesulitan tersebut, Allah telah menyediakan balasan berupa kebahagiaan yang sejati.

Di sisi lain kita juga dapat menyaksikan bahwa peristiwa di atas merupakan bukti betapa kemanusiaan begitu dihargai dalam Islam, karena melalui kurban kita dituntun untuk menjadi insan yang dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Bagi Muslim yang berkecukupan, ibadah kurban merupakan ajang untuk berbagi rejeki dan kebahagiaan kepada orang lain yang membutuhkan. Hal ini tentu mengajari kita untuk selalu peduli dan mengasihi terhadap sesama, karena dibalik ibadah kurban, terdapat semangat untuk menghargai kemanusiaan melalui kepedulian yang ditunjukkan secara simbolis dengan pembagian daging kurban.

Facebook Comments