Lawan Politisasi Agama, Jangan mau di Adu Domba

Lawan Politisasi Agama, Jangan mau di Adu Domba

- in Suara Kita
128
0

Seperti kita ketehui bersama, ruang politik terutama ajang kontestasi pemilihan pemimpin baik daerah maupun nasional merupakan ruang yang kerap mencuatkan kemelut di tingkatan akar rumput. Nampaknya hal ini masih sangat sulit untuk dilepaskan dari dinamika berdemokrasi bangsa ini. Kesulitan ini semakin bertambah karena memang banyak pihak yang menjadikannya sebagai kapital untuk mendulang kemenangan. Sebut saja penggunaan dikotomi pribumi-non pribumi, Muslim-non Muslim atau bahkan kafir dan non-kafir, adalah sejumlah narasi oposisi biner yang kerap dilantangkan untuk menunjukkan bahwa pihak lawan mesti dikalahkan. Dalam beberapa kesempatan pernyataan demikian bahkan menggiring paradigma masyarakat untuk sampai pada kebencian dan pemusnahan pihak yang berbeda. Bak gayung bersambut, keinginan dan kekuatan masyarakat nampaknya masih terlampau sulit untuk dapat menyaring narasi-narasi demikian.

Disadari ataupun tidak, kita semua hari ini telah berjarak dari semangat keberagaman yang menjadi warisan kepribadian bangsa ini. Kesimpulan ini bukanlah sebuah omong kosong. Dalam survei yang yang dilakukan oleh Wahid Institute bersama Lembaga Survei Indonesia, diperoleh informasi yang cukup merisaukan. Terdapat 59,9 persen orang muda yang beragama Islam memiliki kebencian terhadap kelompok masyarakat. Kelompok yang menjadi sasaran kebencian tersebut di antaranya adalah non-Muslim dan masyarakat Tionghoa. Lebih merisaukannya lagi, dari 59,9 persen tersebut terdapat 82,4 persen yang tidak ingin bertetangga dengan anggota kelompok yang dibenci tersebut. Melihat hasil survei ini, rasanya tidak berlebihan bila kemudian kita mulai melihat balik wajah keberagaman bangsa ini.

Kapital dan Arena

Bila kita meminjam konsep Pierre Bourdieu, Filsuf asal Perancis yang banyak mengulas tentang kajian kebudayaan, maka kita akan mampu melihat hal ini dari sisi yang lain. Bourdieu banyak memberikan perhatian pada kehidupan sosial setiap individu dalam lingkungan sosialnya. Dengan membacanya secara sederhana dari sudut pandang agama sebagai realitas sosial, kita bisa melihat bahwa agama telah dijadikan capital atau modal yang digunakan sejumlah individu maupun kelompok untuk diperdagangkan. Tujuan sebenarnya sangatlah pragmatis, yaitu semata mendapatkan posisi tawar atau bahkan merebut kekuasaan dalam ruang politik yang ada.

Habitus religius yang sebelumnya telah dimiliki sejumlah pihak tertentu mampu diinstrumentalisir dengan baik menjadi sebuah modal untuk ikut mempengaruhi sistem sosial yang ada. Politik yang merupakan bagian dari sistem sosial, tak luput dikenai hal tersebut. Politik dijadikan sasaran, sebab politik merupakan salah satu elemen dalam lingkungan sosial manusia yang dapat memberikan dampak perubahan dalam masyarakat. Hal ini sulit untuk disangkal apalagi dalam iklim demokrasi di Indonesia saat ini. Di mana keterbukaan pandangan diakomodir, namun agama masih kuat mempengaruhi perspektif kehidupan masyarakat saat ini.

Melawan Politisasi Agama

Nampaknya, mensegregasikan antara politik dan agama sepertinya cukup mustahil untuk dilakukan. Sebab sejak awal negara ini berdiri dan hingga saat ini, dua elemen ini telah melekat kuat. Membayangkan kelekatannya bahkan ibarat dua sisi mata uang. Hal yang mungkin dilakukan adalah dengan melawan setiap bentuk politisasi agama dengan cara mengedepankankan proses reflektif dan kontempelatif setiap individu.

Setidaknya cara berfikir yang kemudian terejawantahkan dalam tindakan dari seorang Riyanto, anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) pada 24 Desember 2000 merupakan proses berfikir yang wajib diteladani. Ia rela mendedikasikan dirinya untuk menjaga persatuan dan nilai kemanusiaan dalam diri bangsa ini. Ketika itu, kita mengetahui bersama bahwa kondisi Indonesia tengah dalam fase awal perbaikan setelah bergulirnya reformasi. Sehingga ketegangan dan penyusupan paradigma radikal masih sangat kuat.

Sikap rela berkorban demi memperjuangkan kemanusiaan meskipun berbeda agama ditunjukkan seorang Riyanto dengan cara turut menjaga jalannya ibadah di sebuah gereja hingga mengevakuasi bom yang hendak meledak tatkala ibadah tengah berlangsung di gereja Eben Haezer, Mojokerto. Langkah yang diambilnya tersebut memang berujung pada wafatnya. Namun, api perjuangan yang coba dihidupkannya adalah sebuah nilai luhur yang wajib diteladani semua pihak.

Setiap individu diharapkan dapat berfikir logis dan kritis tentang ke-manusia-annya dan juga orang lain, sebelum melakukan tindakan apa pun. Berani menempatkan dirinya sebagai manusia sepenuhnya, berarti mengembalikan manusia itu sendiri pada khitahnya. Sebab seperti telah kita sadari bersama, manusia tidak dapat menjadi Tuhan yang memiliki kuasa sebagai penentu nasib semua hal. Ingat, pada akhirnya, sikap rasis dan politik adu domba terhadap akar rumput hanya berujung pada penderitaan bagi negeri ini.

Facebook Comments