Mazhab Perdamaian Gus Dur

Mazhab Perdamaian Gus Dur

- in Suara Kita
3423
0

Membicarakan tentang Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan Gus Dur memang tidak akan pernah selesai. Sosok fenomenal dan kontroversial yang digadang-gadang sebagai seorang ‘wali’ ini telah mewariskan berbagai khazanah keilmuan yang luar biasa. Mulai dari pemikiran Islam –terutama ajaran Islam Ahlussunnah waljama’ah, kebudayaan, politik, sosial, pendidikan Islam (pesantren), dan lain-lain.

Kiai dari kalangan Nahdliyyin yang pernah menduduki posisi sebagai Presiden ke-4 ini memiliki kontribusi serta pengaruh kuat di Indonesia bahkan di dunia. Hal ini karena Gus Dur dalam sepak terjangnya baik itu sebagai pemimpin pemerintahan maupun pemimpin di organisasi kemasyarakatan –misalkan Nahdlatul Ulama— memang tidak pernah membeda-bedakan setiap orang/kelompok di sekitarnya.

Tidak heran apabila Gus Dur digelari oleh berbagai kalangan sebagai Bapak Pluralisme, Bapak Toleransi hingga Bapak Perdamaian, lantaran ia dekat dan akrab dengan umat dan tokoh lintas agama bahkan kepala pemerintahan berbagai negara di belahan dunia.

Untuk itu, seyogyanya apabila hari ini kita kembali belajar untuk mengukuti ‘mazhab’ perdamaian sekaligus merefleksikan atas apa yang sudah diteladankan oleh Gus Dur melalui gerakan maupun pemikirannya.

Apalagi di tengah kemelut konstelasi perpolitikan dunia yang saat ini sedang bergejolak akibat gerakan terorisme yang semakin massif yang berakibat pada masa depan “perdamaian” dunia yang kini semakin mengkhawatirkan.

Kekerasan dalam Islam

Gus Dur dalam bukunya yang berjudul Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006) menuliskan berbagai kritik dan tanggapan perihal fenomena kekerasan dan terorisme bermotif agama yang mencuat pada awal abad 21. Dari berbagai judul tulisan yang dikemukakan Gus Dur, sedikitnya ada tiga faktor utama yang melahirkan kekerasan serta terorisme dalam tubuh Islam.

Pertama, proses pendangkalan agama Islam yang sangat hebat. Misalkan sebagian umat salah menafsirkan surat al-Fath ayat 29, yang isinya “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâ alkuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Padahal bagi Gus Dur, yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu ayat itu diturunkan. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin diusir dari rumahnya (idzâ ukhrijû min diyârihim).

Kedua, rendahnya mutu sumber daya manusia para pelaku tindak kekerasan dan terorisme. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktivitas imperialisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Ketiga, sinisme kekuasaan yang didasari pertimbangan-pertimbangan geopolitik. Itu sebabnya kalangan teroris mendapatkan perintah-pesanan dari mereka yang tadinya memegang kekuasaan. Karena mereka masih ingin berkuasa, mereka menggunakan orang-orang itu atas nama Islam, untuk menghalangi proses-proses munculnya rakyat ke jenjang kekuasaan.

Dari faktor-faktor di atas, kita bisa lihat bagaimana perhatian Gus Dur dalam mencermati aspek intelektual, kepribadian serta tekanan lingkungan yang menjerumuskan sebagian kecil umat Islam pada praktik-praktik penyimpangan ajaran Islam. Agama yang semestinya mengedepankan cinta damai, justru malah disalahgunakan demi kepentingan sebagian kelompok.

Mencapai Perdamaian

Dalam pandangan Gus Dur (2006: 398), perdamaian merupakan wujud pergaulan antar-bangsa. Sekarang kata itu berarti, tidak adanya peperangan atau penggunaan kekerasan oleh sesuatu pihak atas pihak yang lain, namun dengan persyaratan dan pengertian dari pihak yang menang. Dari sini jelas arah formula yang dikonsepsikan oleh Gus Dur berorientasi pada perdamaian global, bukan hanya sebatas lokalitas semata.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, sedikitnya ada 4 terobosan yang Gus Dur sering tekankan, yakni; (1) membangun etika global dan pemerintahan yang baik (good governance). Hal ini hanya akan ada artinya kalau didasarkan pada kedaulatan hukum dan keadilan dalam hubungan internasional. Sehingga penting adanya;  (2) perundingan sebagai  penyelesaian terbaik manakala terdapat kepentingan yang saling bertabrakan atau tidak menguntungkan di antara kedua belah pihak.

Sebagaimana dahulu Gus Dur meminta agar penyelesaian damai antara Irak dan Amerika, dikaitkan langsung dengan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Dengan demikian, baik Israel maupun seluruh bangsa-bangsa Arab akan berkepentingan untuk menjaga perdamaian tersebut. Bagi Gus Dur, itu adalah persyaratan sangat penting, karena hanya dengan cara demikianlah sebuah perdamaian abadi dapat ditegakkan di kawasan Timur-Tengah.

(3) Letak signifikansi dari filsafat dan moralitas. Perdamaian dunia tidak selayaknya hanya dibatasi pengertiannya secara geopolitik dengan acuan materialistik belaka, melainkan harus memasukkan moralitas dengan pendekatan spiritual yang holistik ke dalam dirinya. Dalam hal ini, moralitas harus ditentukan oleh kerangka multilateral seperti PBB, bukan hanya oleh sebuah negara adi kuasa belaka.

Yang tidak kalah penting pula; (4) memahami bahwa pertentangan bukanlah permusuhan. Bagaimana mempertahankan kemajuan yang dicapai, sambil menghargai dengan sungguh-sungguh upaya bangsa-bangsa sekitar untuk maju dengan cara mereka sendiri. Dengan demikian penting bagi para pemimpin negara untuk memiliki wawasan dan kebijakan (policy) yang akan melahirkan kebijaksanaan (wisdom).

Dari situ Gus Dur memberikan teladan melalui rekam jejak keterlibatannya di forum-forum perdamaian dunia. Contoh saja, saat ia belum menjabat presiden pernah menghadiri acara di Pusat Perdamaian di Tel Aviv Israel. Pada Maret 2003, ia mengikuti konferensi IIFWP (Interreligious and International Federation for World Peace), yakni Federasi Internasional Antar Agama untuk Perdamaian Dunia, yang berkedudukan di New York. Lalu juga menjadi anggota World Council for Religious Leaders (Dewan Dunia Pemimpin-pemimpin Agama), sebuah lembaga pertimbangan bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Juni 2002.

Gus Dur selalu menunjukkan sikap moderat serta seimbang antara aspek lahir dan batin dalam melihat realitas gejolak dunia. Sehingga kegigihannya dalam memperjuangkan perdamaian global harus kita teruskan bersama pada hari ini dan masa mendatang.

Mazhab perdamaian yang diajarkan oleh Gus Dur kembali menyadarkan kita tentang pentinya arti persamaan, keadilan dan demokrasi. Perlakuan baik harus selalu ditujukan sama kepada setiap manusia, tanpa mengurangi prinsip-prinsip keadilan serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang menjadi spirit dalam berbangsa dan bernegara. Jika sudah sadar seperti demikian, apakah kita yakin semua itu benar-benar akan membawa ke arah perdamaian?

Facebook Comments