Cyber Space, Terorisme ISIS dan Banalitas Kejahatan

Cyber Space, Terorisme ISIS dan Banalitas Kejahatan

- in Suara Kita
1921
0

Dunia baru (new world) merupakan sebuah istilah yang menarik untuk ditelaah, metamorfosis masyarakat dari model primitif menuju masyarakat post-modern yang maju dan berkembang pesat baik secara sosial, budaya, ekonomi maupun teknologi telah mempengarhui cara hidup masyarakat. Khusus untuk perkembangan di bidang teknologi, kehadiran teknologi informasi memutus batas ruang dan wilayah; sebuah informasi dapat begitu cepat tersebar melewati batas-batas ruang dan waktu. Fenomena inilah yang memunculkan istilah baru; dunia maya (cyber space), dunia baru ini memiliki ciri-ciri beroperasi secara virtual/maya, ia selalu berubah dengan cepat, tidak mengenal batas-batas terorial, orang-orang dan komunitas yang menggunakan dunia maya dapat melaksanakan aktifitas tanpa harus menunjukkan identitasnya (Dysson 1994).

Karakteristik tersebut membuat seseorang semakin mudah mengakses informasi, peristiwa dan kejadian-kejadian yang terjadi di berbagai lokasi. Belakangan malah marak ditemukan pengguna cyber space yang mengomentari sebuah peristiwa tanpa menilai terlebih dahulu kebenaran informasi dari peristiwa tersebut. Duni maya merupakan hutan belantara yang disesaki dengan bermacam makhluk yang mencoba membuat opini, pendapat, komentar yang tidak jarang alpa dalam  hal dasar pemikiran yang valid dan objektif, maka tidak heran jika cyber space dipenuhi dengan  fitnah, hasutan ,buruk sangka (prejudece), menebar kebencian dan bahkan kekerasan,  karenanya pengguna dunia maya sebaiknya tidak mudah percaya pada segala hal yang ditumakan di dunia cyber ini.

Kelompok terorisme pun tak ketinggalan menggunakan cyber space dalam melakukan propaganda dan agitasi dari ideologi pemikiran yang dianutnya. Propaganda dilakukan dengan menggunakan narasi-narasi atas nama agama, bahkan nama Tuhan seringkali dibajak untuk melegalkan aksi teror tersebut, nama Tuhan dipakai untuk melegitimasi kekerasan, hasutan, penyebaran fitnah dan mengajak pengguna dunia maya untuk ikut bergabung dalam kelompok teroris tersebut,

Mengapa Banalitas Kejahatan? Pemikiran ini pertama kali dicetuskan oleh salah seorang filsuf Perempuan kelahiran Jerman, Hannah Arend yang lahir pada tahun 1906 di Hannover Jerman, ia memaparkan tentang banalitas kejahatan dalam bukunya Eichmann in Jerussalem : A Report on the banality of evil, Banalitas kejahatan bercerita tentang seorang NAZI Eichmann yang dihukum karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan dengan melakukan pembunuhan dan kekejaman secara massal dalam peristiwa Hollacoust, anehnya, ia merasa tidak bersalah atau menyesal telah melakukan kekejaman itu.

Dalam testimoninya, Eichmann menyatakan yang ia sesali bukan melakukan kejahatan dan kekejaman tersebut, tetapi kenapa ia tidak mendapatkan promosi dalam kenaikan pangkatnya. Atas dasar ini, banalitas kejahatan sebagaimana disebut Arendt di dalam bukunya adalah suatu situasi di mana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar.

Menurut hannah Arendt Ketidakberpikiran membuat suatu tindakan menjadi terasa wajar, termasuk tindakan yang mengerikan. Orang-orang biasa seperti Eichmann bukanlah orang jahat atau kejam. Banyak orang menganggap bahwa pelaku kejahatan brutal adalah penjelmaan setan. Wajahnya pasti sangar. Matanya kejam. Badannya besar. Namun faktanya tidaklah seperti itu. Sebaliknya Eichmann adalah orang biasa, cerdas, dan patuh. Tidak ada niat jahat ataupun kejam di dalam dirinya. “Ketercabutan dari realitas semacam itu dan ketidakberpikiran semacam itu”, demikian tulis Arendt, “dapat jauh lebih merusak dari semua insting jahat dijadikan satu.

Ketidakberpikiran adalah sisi gelap manusia yang menjadi sumber dari lahirnya kejahatan. Inilah kejahatan khas abad keduapuluh yang, menurut Arendt, tidak pernah ditemukan sebelumnya. Saya yakin banyak orang seperti Eichmann. Mereka bukan orang gila. Mereka bukan orang kejam. Mereka hanyalah orang-orang yang amat normal, dan karena normalitasnya, mereka menjadi menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang tak berpikir. (rumahfilsafat.com)

ISIS sebagai organisasi teroris baru abad 20 yang dicetuskan oleh Abu bakar Al Baghdadi memanfaatkan cyber space dalam melakukan penyebaran paham, pemberitaan keorganisasian, doktrin-doktrin, rekrutmen anggota bahkan hasutan dan fitnah dilancarkan dalam melakukan aksi terornya, baiat online, kursus jihad cyber menjadi model dan strategi  ISIS, cukup banyak pemuda yang terpengaruh oleh penyebaran paham ini tidak saja di Indonesia seperti Armadi Hasugian medan (18) , Novaldi remaja (17)  bahkan di beberapa negara di Eropa dan Amerika ikut bergabung dengan kelompok ini,

Propaganda terorisme ISIS dengan dalih Jihad media di cyber space telah melahirkan sosok pengikut manusia-manusia yang tidak menggunakan otak/ketidak berpikiran. Propaganda disebarkan secara masif dengan menggunakan doktrin agama, mengatasnamakan Tuhan, pola kekejaman ISIS acapkali disebarkan di dunia maya seperti penyanderaan dan pemenggalan tawanan-tawanan perang.

Istilah kafir dan thogut menjadi kata-kata justifikasi dalam melakukan aksinya, ISIS juga menampilkan adegan kekejaman yang ditampilkan dan diupload melalui video rekaman untuk dikonsumsi banyak pengguna dunia maya. Kekejaman ditampilkan seolah menjadi kewajaran, biasa-biasa saja, kekejaman dengan cara memenggal, memotong tangan, menyiksa bahkan menghukum orang dengan cara melemparnya dari Gedung tinggi menjadi  kepuasaan.

Dengan propaganda ini ISIS telah menstimulasi sebuah peradaban (new world) tanpa otak, peradaban ketidakberpikiran yang diisi dengan manusia-manusia kejam, bahkan yang sangat mengerikan adalah banalitas kejahatan yang dilakukan ISIS dilakukan dengan mengatasnamakan  agama dan tuhan. Jika situasi ini terus berlangsung dengan cyber space yang semakin mudah dan tebuka dapat dipastikan kejahatan dan kekejaman akan dipandang sebagai sebuah hal yang biasa saja dan wajar. Lebih mengerikan lagi seolah kekejaman dan kejahatan sebagai jamuan kepadaTuhan untuk menggapai surga-Nya.

 

Facebook Comments