Membongkar “Rekayasa” Bom Gereja Medan

Membongkar “Rekayasa” Bom Gereja Medan

- in Keindonesiaan
1730
0

Pasca kejadian percobaan Bom Bunuh di Gereja St. Yohanes, Medan yang dilakukan oleh Bocah berinisial IAH (18), banyak sekali isu, gosip hingga fitnah bertebaran. Anehnya, semua narasi itu berkeliaran secara liar bukan di media mainstream, tetapi justru di media sosial. Lebih aneh lagi, tidak sedikit masyarakat yang mudah termakan isu dengan lebih menyandarkan sumber pengetahuannya pada asumsi di media sosial ketimbang media resmi.

Dalam seminggu ini, paling tidak ada beberapa isu begitu cepat menyebar mengaburkan kejadian bom gereja Medan tersebut. Kalau dipetakan setidaknya ada beberapa narasi di media sosial semisal : 1. pelaku non muslim, 2) pelaku belum khitan, 3) pelaku membawa tulisan Arab yang salah, 4) pelaku masih amatiran,) dan 5) isi ransel bukan bom tapi petasan.

Ujung dari berbagai asumsi tersebut ingin membangun opini bahwa bom gereja Medan adalah fitnah, rekayasa atau yang lebih keren operasi intelijen. Entah dari mana isu-isu itu berkembang dan begitu cepat menyebar. Dan yang paling menggelikan misalnya, dari mana sumbernya sehingga ada ide menyebarkan gosip pelaku belum khitan.

Banyak masyarakat yang lebih memilih info tanpa data ketimbang membaca berita resmi berdasarkan data. Itulah tipikal masyarakat yang disasar oleh para penyebar gosip tersebut. Karena itulah, tulisan ini hanya ingin membongkar asumsi-asumsi yang menyesatkan tersebut dengan membandingkan sumber resmi media.

Sebelum membongkar, saya ingin mengulas pola pengembangan isu kejadian teror, khususnya aksi yang gagal. Pada peristiwa bom di Jalan Thamrin Januari silam, ada penggiringan isu sebagai rekayasa aparat, karena curiga respon cepat aparat. Kejadian Bom Mapolresta Solo yang gagal melukai aparat, mereka kembangkan isu rekayasa, karena pelaku membawa KTP.

Jadi rumusnya, setiap kejadian bom yang gagal akan dialihkan sebagai konspirasi dan operasi intelijen, sementara apabila berhasil akan dirayakan dengan pernyataan menyesatkan: “pelaku syahid”, “jasadnya tersenyum” “baunya wangi” atau “ana bermimpi ketemu akhi di surga dikelilingi 72 bidadari”. Itulah pola dan modus klasik, tapi berhasil memperdaya sebagian kecil masyarakat.

Nah, mari kita perhatikan beberapa isu dalam kasus Bom Gereja Medan. Dari narasi pelaku non muslim dan belum khitan langsung terbantahkan dengan pengakuan ayahnya yang selalu teringat anak selepas shalat jamaah. Biasanya ia selalu menunggu sang anak pulang menunaikan shalat isya dari masjid (situsriau.com, 31/08/2016). Artinya IAH adalah muslim dan tentu saja sudah khitan. Intinya, kita tidak mau tergiring pada isu teroris itu Islam, tetapi hanya ingin mengungkap pembohongan yang kerap terjadi di media sosial.

Berikutnya pada isu KTP palsu dan membawa KTP mari kita bandingkan dengan beberapa pemberitaan bahwa Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara ( Sumut), mengatakan bahwa identitas pelaku sesuai dengan KTP  dan sudah cek melalui camat dan sekcam untuk cek KTP tersebut (news.okezone.com, 29/8/2016).  Bahkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Medan bantah NIK e-KTP IAH palsu (tribunnews.com, 31/8/2016).

Lalu, terkait kenapa membawa KTP? Dalam bom di Mapolresta Solo, pelaku juga membawa KTP (Ini KTP di dalam Pakaian Pelaku Bom Bunuh Diri Solo, jateng.tribunnews.com, 5/7/2016). Artinya tindakan terorisme bukan kejahatan biasa yang pelakunya ingin menyembunyikan identitas seperti maling. Terorisme bersifat kriminal eksposif yang pelakunya narsis, justru ingin dikenal. Bahkan pelaku Bom JW Marriot 2009, Dani Dwi Permana merekam dirinya sebelum melakukan bom bunuh diri.

Isu berikutnya adalah terkait pelaku amatiran tidak membawa bom ransel, tapi petasan. Sebagaimana diakui ayahnya pelaku merupakan korban cuci otak dunia maya yang mendapatkan training melalui internet (okezone.com, 30/8/2016). Kadiv Humas Polda Sumut dari hasil pemeriksaan di kamar IAH ditemukan detonator rakita, travo, pipa, semen, aluminium foil dan lain-lain (medan.tribunnews.com, 29/8/2016). Artinya pelaku sedang mencoba-coba merangkai bom dari pengetahuan yang didapatkan dari internet. Bahkan Eva kakak IAH pernah mendengar suara ledakan di atas rumah (medan.tribunnews.com, 29/8/2016).

Apa yang ingin disampaikan bahwa benar IAH bermaksud meledakkan diri tapi gagal. Ia sudah melakukan percobaan dan merakit secara otodidak yang dipelajari melalui internet. Ali Fauzi, mantan teroris, pernah mengatakan bahwa individu dan kelompok teror sekarang kebanyakan amatiran bukan hasil pelatihan langsung dari kamp seperti Afganistan dan Filipina, termasuk dalam merakit bom. Kasus Bom Thamrin saja masih tergolong amatiran karena disinyalir bom meledak tanpa sengaja.

Terakhir, isu tulisan Arab yang salah yang seolah dia bukan bagian dari simpatisan ISIS. Simak pernyataan Khoirul Gazali, mantan teroris Medan, yang telah bertemu dengan IAH. Dia meyakini bahwa IAH bukan pelaku tunggal. “Saya yakin dia terlibat jaringan internasional, jaringannya ini masih berkeliaran. Saya melihat rekaman video IAH berbaiat kepada pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi,” kata Ghazali, (Kompas.com 31/8/2016). Bahkan dalam pertemuan tersebut IAH sempat menyebut Bahrun Naim.

Di samping video IAH yang berbaiat, di akunnya @ivanarmadi2 yang terdaftar sejak September 2014, IAH memang terobsesi dengan ISIS dengan memasang logo ISIS serta memasang “Give me du’a for allah allow me and help me to hijrah” di lokasi dia menulis “Indonesia The kafir land”.

Nah, beberapa ulasan di atas sudah cukup membongkar bahwa isu-isu di media sosial yang mengiring pada rekayasa dan konspirasi teror Bom Medan adalah gosip tidak berdasar yang bertujuan mengaburkan peristiwa yang sebenarnya. Ujung yang diharapkan bahwa semua kejadian teror hanyalah rekayasa dan konspirasi.

Terakhir, hal yang sangat penting untuk dipelajari, masyarakat harus terbiasa membandingkan konten. Jangan telan mentah konten media sosial, tetapi harus dibandingkan dengan sumber resmi dan mainstream untuk mendapatkan gambaran utuh.  Dan jangan mudah menjadi korban cuci otak berikutnya melalui dunia maya.

Facebook Comments