Memupuk Toleransi Dalam Keragaman

Memupuk Toleransi Dalam Keragaman

- in Keindonesiaan
3529
0

Barangkali harus dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang tidak hanya menjamin kebebasan beragama, tetapi juga ikut merayakan kebebasan tersebut dalam bentuk kebijakan negara yang menghormati agama-agama. Cobalah tengok, banyak sekali Hari Libur Nasional kita yang berbasiskan keagamaan. Bahkan tidak hanya untuk hari raya umat beragama, tetapi momen-momen penting keagamaan lainnya juga diperingati sebagai momen penting nasional.

Pada tahun ini, misalnya, tanggal 5 Mei akan diperingati hari Kenaikan Isa Al-Masih. Berturut setelahnya, tanggal 6 Mei akan diperingati momentum Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Selang beberapa minggu berikutnya akan diperingati Hari Raya Waisak 2560, tepatnya tanggal 22 Mei. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia merupakan negara paling harmonis sekaligus sangat respek terhadap keragaman keagamaan. Seluruh agama mendapatkan porsi yang sama dengan jaminan kebebasan yang sama.

Keragaman adalah ritme sejarah manusia yang tidak bisa dihindarkan. Perbedaan agama, kultur, etnik, bahasa, dan suku bangsa merupakan penegasan dari kolektifitas eksistensi umat manusia. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa keragaman adalah rekayasa ilahi supaya kita saling mengenal (QS: 49: 13). Perbedaan adalah kehendak Tuhan maka seandainya Tuhan menghendaki miscaya akan diciptakan manusia satu umat. Namun, Tuhan lebih menghendaki perbedaan sebagai sarana Tuhan menguji manusia (QS: 5:48).

Sudah sering sekali kita menemukan pemandangan dua hari raya keagamaan yang berbeda saling berdekatan. Dalam momentum berbeda tetapi berdekatan ini kita tidak pernah memperasalahkan perbedaan. Salah satu contoh yang paling kini, adalah perayaan hari Raya Nyepi yang bersamaan dengan Gerhana Matahari. Bagi Umat Hindu perayaan nyepi adalah momentum refleksi diri yang membutuhkan kesunyian. Namun, bagi umat Islam, fenomena gerhana matahari perlu diperingati dengan pelaksanaan shalat kusuf. Apa yang terjadi? Masyarakat Hindu di Bali membolehkan Umat Islam untuk menyelenggarakan ibadah dengan tanpa menimbulkan kebisingan yang menggangu kekhidmatan nyepi.

Apa yang bisa dipelajari dari berbagai kesantunan dalam keragaman tersebut? Toleransi adalah sebuah kunci utama merawat perbedaan. Keragaman telah mendorong bangsa ini untuk saling bertemu, saling mengenal, saling menyapa dan menghargai. Perbedaan menyediakan ruang yang membuka mata wawasan dan pengetahuan melalui pintu dialog. Dan masyarakat Indonesia telah membuktikan sebagai masyarakat yang telah dewasa dala menghargai perbedaan. Negara Indonesia telah membuktikan diri sebagai negara dengan keragaman keagamaan yang harmonis.

Inilah yang patut kita syukuri bersama sebagai sebuah bangsa beragam tetapi mengedepankan semangat keagamaan yang toleran. Apa yang kita cari dengan menyatukan satu keyakinan dan pandangan tetapi selalu diselimuti konflik dan peperangan? Apa yang bisa kita banggakan dengan satu dasar agama tetapi tidak menjamin umat beragama untuk beribadah dengan tenang, nyaman dan damai?

Kita patut bersyukur karena masih banyak negara yang tidak menyediakan ruang seimbang dan kenyamanan bagi pemeluk agama untuk beribadah dengan tenang. Kita patut bersyukur karena banyak pula negara yang masih sibuk mempersoalkan dasar negara, tetapi tidak pernah mampu menjaga keharmonisan beragama bagi warganya. Dan tentu saja kita harus tetap bersyukur karena negeri ini bisa damai sehingga memberi ruang lebar untuk umat beragama untuk melaksanakan ibadah dengan tenang.

Beragama bukan sekedar melaksanakan ibadah semata, tetapi mempraktekkan etika agama kepada sesama. Toleransi merupakan sikap relijius setiap agama-agama untuk menjalin persaudaraan antar sesama. Toleransi bukan sekedar teori tetapi suatu pandangan yang harus dipraktekkan dalam kehidupan beragama. Beberapa hari raya dan momentum keagamaan yang diperingati secara beriringan di negeri ini adalah cerminan dan kesempatan bagi terciptanya dialog keseharian yang tak terhindarkan.

Memupuk sikap toleransi tidak semata mengetahui perbedaan, tetapi keterikatan aktif terhadap perbedaan. Toleransi menyaratkan setiap orang untuk terlibat dalam perbedaan bukan sekedar menonton keragaman tersebut. Tolerasi bukan berarti bersikap permisif tetapi dengan nada acuh tak acuh tidak mengetahui aktifitas tetangga yang beda agama. Apabila tetangga kita sedang merayakan peringatan keagamaannya, apakah dengan dalih toleran kita tidak tahu menahu terhadap mereka.

Toleransi tidak sekedar tahu mereka berbeda tetapi menghargai mengapa mereka berbeda. Karenanya, dalam aktifitas sosial, bukan hal yang tabu bagi kita untuk mengucapkan selamat hari raya terhadap umat lain, menghantarkan makanan terhadap tetangga yang beda agama, dan merasakan kehangatan hari raya dan momen keagamaan umat lain sebagai berkah dari keberagaman.

Toleransi beragama menuntut partisipasi, bukan keacuhan dalam perbedaan. Toleransi bukan sikap yang dapat melunturkan apalagi meleburkan keyakinan. Tetapi, toleransi adalah ekspresi bahwa kita umat beragama yang selalu menjunjung tinggi kesopanan, kesantunan dan kebajikan bagi seluruh semesta. Mari kita pupuk toleransi ini, Mari kita rayakan perbedaan ini.

Facebook Comments