Mencari Titik Temu Peradaban Sunnah-Syiah

Mencari Titik Temu Peradaban Sunnah-Syiah

- in Budaya, Peradaban
2590
0

Bagaimana sebenarnya ajaran Syiah itu? Tentu tidak mudah menjawab persoalan ini. Mengingat di Syiah sendiri telah berkembang berbagai sekte sempalan, yang setiap aliran memiliki ajaran, prinsip, dan keyakinan sendiri yang boleh jadi berbeda dengan aliran Syiah lainnya. Aliran dalam Syiah sendiri terbentang dari Syiah Ghulat (ekstrim) hingga moderat.

Kenyataan hari ini kelompok Syiah Ghulat, seperti pernyataan Ali adalah Tuhan (al-Sabaiyyah) dan malaikat Jibril salah memberi wahyu kepada Muhammad yang semestinya kepada Ali (al-Ghurabiyah), tidak memiliki tempat di negeri Syiah seperti Iran sekalipun. Bahkan, oleh kelompok Syiah yang lain pun tidak diakui. Setidaknya, Syiah ideologis yang berkembang saat ini hanyalah Zaidiyah yang berkembang di sebagian wilayah Yaman dan Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang paska Revolusi Islam Iran pada 1979 menjadi madzhab resmi negara Republik Islam Iran.

Perbedaan Sunnah dan Syiah dari sisi teologis terletak pada konsep imamah (kepemimpinan spiritual dan politik). Sunnah berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mentahbiskan siapapun (termasuk Ali) untuk menjadi penerus kepemimpinan Nabi. Sementara penganut Syiah meyakini sebaliknya. Mereka berkeyakinan bahwa imamah paska wafatnya Nabi jatuh pada Ali dan keturunannya.

Adapun perbedaan yang kerap menjadi konflik dalam sejarah umat Islam adalah sikap Syiah yang kritis terhadap sahabat-sahabat Nabi diluar Ali dan pendukungnya. Mereka misalnya, menganggap bahwa tiga khalifah sebelum Ali telah mengambil hak kepemimpinan umat dari tangan keluarga Nabi. Namun demikian, tidak semua aliran Syiah yang eksis pada hari ini berpendapat demikian. Syiah Zaidiyah misalnya mengatakan, bahwa kepemimpinan tidak harus jatuh pada keluarga Nabi secara figur, melainkan pada sikap dan karakteristik seperti Ali. Aliran ini bahkan menyebut bahwa tiga kepemimpinan sahabat sebelum Ali sebagai al-Imam al-Mafdhul (pemimpin yang baik), sekalipun tetap menyebut Ali dan keturunannya sebagai imam al-Afdhal (pemimpin terbaik).

Perbedaan antara dua aliran besar ini tidak dapat dihindarkan. Secara teologis maupun fikih, dua aliran besar umat Islam ini memang tidak bisa disatukan. Karena keduanya memiliki latar belakang, pengalaman, dan pemikiran yang berbeda. Tentu saja perbedaan yang nyata di antara keduanya bagaikan air dan minyak, dan juga telah menjadi sunnatullah yang tak terelakkan.

Namun demikian, mencari titik temu (kalimatun sawa’) di antara kedua aliran ini tentu merupakan alternatif paling mudah. Setidaknya, untuk menghilangkan konflik berkepanjangan di antara para penganut. Toh jika dikaji lebih dalam, sesungguhnya perbedaan antara Syiah dan Sunnah tidak lebih banyak dibanding persamaannya. Bahkan, Syeikh Muhammad Al-Ghazali seorang intelektual Al-Azhar, menyebut bahwa perbedaan fikih madzhab Syafi’i –yang merupakan salah satu madzhab Sunnah- dengan madzhab Zaidiyah –yang dianut oleh sebagian orang Syiah saat ini- tidak lebih banyak dibanding perbedaan antara madzhab Syafi’i dan Hanafi yang sama-sama berasal dari golongan Sunnah.

Bagi Muslim di Indonesia, secara kultural kedekatan antara Sunnah-Syiah dalam tradisi dan ritual keagamaan tidak bisa lagi diingkari. Kenyataan bahwa tradisi tahlilan, khaul, diba’an, dan mendoakan arwah yang sudah meninggal yang diamalkan oleh mayoritas muslim di Indonesia memiliki kemiripan dengan praktek Syiah. Demikian pula dalam tradisi pembacaan maulid diba’ di setiap malam Jumat, selain memiliki kesamaan di dalam bacaan diba’ tersebut juga tertullis nama-nama imam yang diakui oleh Syiah.

Dalam tradisi tarekat pun sama. Dua tarekat paling dominan di Indonesia, Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, memiliki mata rantai (sanad) kepada Imam Ali Musa al-Ridha (imam ketujuh), Imam Musa al-Qasimi (imam keenam), Imam Ja’far al-Shadiq (imam kelima), Imam Muhammad al-Baqir (imam keempat), Imam Ali Zainal Abidin (imam ketiga), Imam Husein (imam kedua), dan Imam Ali bin Abi Thalib (imam pertama). Itu artinya, tokoh-tokoh spriritual yang diakui oleh Sunnah juga diakui oleh Syiah.

Di kalangan Syiah pun, Ayatullah Khomeini juga dikenal sebagai komentator kitab ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Ghazali yang menjadi rujukan utama Sunnah. Ali Khemenei anak dari Khomeini yang menjadi pemimpin spiritual tertinggi Syiah di Iran saat ini pun menerjemahkan ke dalam bahasa Persia Tafsir fi Dzhilalil Quran karya ulama Sunnah bernama Sayyid Qutb berkebangsaan Mesir. Bahkan, kitab-kitab hadits andalan pengikut sunnah, seperti karya Bukhari dan Muslim, juga dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan Syiah.

Nah, perbedaan-perbedaan di atas itulah yang seharusnya menjadi jembatan proses pembelajaran bagi Sunnah-Syiah. Persamaan itulah, yang sesungguhnya dapat menjadi perekat persaudararaan Islam (ukhuwwah Islamiyyah) di antara para penganut dua aliran itu. Selain kesadaran keislaman, tentu sebagai sebuah bangsa, dua kelompok Sunnah-Syiah pun harus semakin menyadari keberadaannya sebagai bangsa yang terikat dalam sebuah konstitusi yang menjungjung tinggi harkat martabat manusia dan memberikan kebebasan berkeyakinan pada setiap warga negaranya. Semoga konflik Sunnah-Syiah tidak lagi terulang. Amin.

Facebook Comments