Mengawal Dakwah Ormas Moderat

Mengawal Dakwah Ormas Moderat

- in Suara Kita
1293
0

Ormas moderat –semisal NU, Muhammadiyah, dan lainnya –sebagai gerakan dakwah telah memberikan kontribusi besar dalam mewarnai bangsa ini. Selain dakwah qauliyah yang sifatnya mengajak masyarakat ke arah cita-cita Islam,NU dan Muhammadiyah juga memberikan kontribusi besar dalam dakwah fi’liyah, berupa tindakan nyata membumikan cita-cita itu ke dalam layanan publik dan jaminan sosial. Ratusan lembaga telah didirikan, mulai dari sektor pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, sampai kepada filantropi dan kemanusiaan.

Kesuksesan dakwah fi’liyah ternyata tidak berbanding lurus dengan dakwah qauliyah. NU dan Muhammadiyah boleh dibilang “tertinggal” bila dibandingkan dengan gerakan dan lembaga dakwah lain dalam hal memproduksi muballig, dai, ustad, dan tokoh agama yang yang jadi rujukan kaum milenial.

Kita bisa menyebut beberapa nama, tetapi itu masih “kalah” dengan organisasi lain. Jika ada gerakan, maka gerakan menyeimbangkan kedua model dakwah ini perlu menjadi bahan refleksi bagi NU dan Muhammadiyah.

Ini dilakukan, selaian adanya kecenderungan beragama yang praktis, instan, dan tidak mau ribet, di satu sisi; di tambah penetrasi media sosial –meminjam bahasa Tom Nicholas (Matinya Kepakaran, 2017) – terjadi demokratisasi infomasi, semua orang setara di dalamnya, di sisi lain, membuat dakwa qauliyah ini mendapat momentumnya.

NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi yang mempunyai visi keislaman, keindonesian, dan kemanusian yang jelas perlu segara turun tangan di tengah banyaknya dakwah bersisi caci-maki, provokasi, bahkan ujaran kebencian.

Cara beragama yang instan, praktis, dan tidak mau ribet, bisa dilihat dari hasil riset terakhir, bahwa Literatur Keislamaman Generasi Milenial (Hasan, 2018) menempatkan buku-buku Islamisme popular sebagai nomor wahid yang paling banyak dibaca kalangan milenial, disusul buku-buku tarbawi, salafi, tahriri, dan jihadi.

Tantangan ini diikuti penetrasi media sosial, di mana hampir semua kalangan menjadikan medsos sebagai tempat mencari ilmu. Ustad-ustad  dan tokoh agama pun bermunculan dengan jumlah banyak.

Dulu, disebut ulama apabila mempunyai kompetensi mengakses kitab otoritatif dengan keilmuwan mendalam. Di era digital ini, hanya bermodalkan retorika dan followers banyak serta publikasi yang massif, maka otoritas sebagai tokoh agama sudah diakui milenial.

Dakwah Literasi

Sumber bacaan milenial dan pergeseran otoritas ini perlu mendapat catatan dari NU dan Muhammadiyah. Mengampanyekan moderasi beragama dengan visi mengharmoniskan keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan tidak bisa lagi dengan cara-cara konvensional-manual. Beda segmen dan situasinya, beda strategi menghadapinya.

Sering terjadi,  gagasan baru yang ideal, tetapi tidak diiringi dengan strategi dan menajemen yang fungsional-kontekstual. Dalam merespons dua tantangan itu, dakwah literasi dengan gaya bahasa popular adalah hal yang urgen dilakukan.

Literatur Islam moderat NU dan Muhammdiyah selama ini cenderung –kalau tidak mengatakan semuanya – masih memakai istilah-istilah lama, terlalu serius, kurang gaul, dan tidak memperhatikan audiensnya, khususnya kalangan milenial.

Dakwah literasi ini ini secara bentuk bisa dilakukan dengan sarana-sarana e-book gratis, film pendek, majalah gaul,  postingan website yang menghibur yang dibungkus dengan desain dan gambar yang berwarna dan bahasa yang membumi.

Secara konten dan materi, dakwah literasi ini harus menampilkan agama yang ramah dan menghargai perbedaan. Agama yang tidak eksklusif dan mengklaim keselamatan diri sendiri. Selama ini, materi yang berbasis kemanusiaan dan kebudayaan sangat minim dalam literatur buku agama di negeri ini. Muhammadiyah harus merespons itu.

Kaderisasi NU dan Muhammadiyah untuk generasi muda perlu memperhatikan ini. Dai-dai muda harus dipromosikan ke publik. Ustad-ustad muda NU dan Muhammadiyah yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan yang kokoh, harus bersuara dan merebut panggung. Selama ini, kaum mederat—termasuk NU dan Muhammadiyah di dalamnya –lebih banyak menjadi silence mojority, banyak tetapi diam. Kini saatnya kita bersuara.

Sifat diam kaum moderat ini dengan apik sengaja dimanfaatkan oleh kaum radikal dan intoleran. Mereka sejatinya hanya berjumlah kecil. Sedikit, tetapi berisik. Segelintir, tetapi terorganisir. Dengan membuat akun puluhan bahkan ratusan, mereka sudah bisa membuat wacana anti-kerhamonisan dan kedamaian. Dalam konteks inilah, kaum moderat harus tampil bersuara untuk melawan melalau dakwah yang menenangkan dan menyejukkan.

Dakwah Moderasi Beragama

Sebagai kontra wacana terhadap maraknya radikalisme dan terorisme berbaju agama, serta menjamurnya dakwah dengan kata-kata kasar dan kotor, NU dan Muhammadiyah harus bergerak mempromosikan Islam yang mencerahkan. Islam yang bisa mengakomodir semua, rahmat bagi sekalian alam. Islam yang tidak terjebak pada politik elektoral yang justru memuat polarisasi di tengah masyarakat.

NU dan Muhammadiyah mempunyai posisi yang strategis dalam melaksanakan kerja-kerja di atas. Dengan banyak lembaga, SDM, jaringan, intelektual, dan modal yang memadai, NU dan Muhammadiyah mempunyai fungsi-strategik menuntaskan ini.

Militansi dari kaum muda NU dan Muhammadiyah sangat perlu menjadi perhatian. Sebab, selama ini, salah satu tantangan gerakan dakwah ormas moderat adalah melemahnya militansi dari kaum mudanya.

Kerja-kerja kolektif dengan belajar pada pengalaman besar yang dimiliki kedua ormas ini, NU dan Muhammadiyah dalam melakukan dakwah yang ramah dan mengedepankan pengamalan, merupakan modal yang sangat berharga.

 Dengan anggota jutaan di setiap sudut Indonesia dan berbagai negara di luar, peran dakwah NU dan Muhammadiyah sebagai dakwah yang merangkul semua, sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Selama ini, masyarakat sudah lelah, dengan caci-maki, fitnah, provokasi yang dibalut dengan agama. Jangan sampai dakwah dengan kata-kata kasar dan kotor menguasai mimbar dakwah kita.

Facebook Comments