Menjadi Duta Damai Memberantas Radikalisasi Online adalah Jihad Fisabilillah

Menjadi Duta Damai Memberantas Radikalisasi Online adalah Jihad Fisabilillah

- in Narasi
461
0
Menjadi Duta Damai Memberantas Radikalisasi Online adalah Jihad Fisabilillah

Pada dasarnya, peran generasi muda dalam menjadi duta damai memberantas radikalisasi online adalah bernilai jihad fisabilillah. Mengapa? Karena, paham radikal adalah musuh umat Islam sejati, sebab mereka telah menyelewengkan ajaran Islam yang penuh rahmat, ke dalam perilaku yang penuh mudharat.

Konteks jihad generasi muda menjadi duta damai memberantas radikalisasi online mengacu ke dalam prinsip amal ma’ruf nahi munkar. Mendorong masyarakat di ruang online berbuat baik (amal ma’ruf) yaitu: menjaga perdamaian, keharmonisan dan toleransi beragama. Serta, mendorong masyarakat di ruang online agar tidak mudah terkontaminasi virus radikal (Nahi Munkar).

Gerakan jihad generasi muda adalah aktif di ruang online layaknya media sosial. Lalu menggunakan jari-jemarinya menyebarkan nilai perdamaian, narasi kontra-radikal. Serta membangun siap-siapa berbasis deteksi dini dan serta berkontribusi dalam menyadarkan masyarakat di ruang online tentang motif/modus/tipu-daya-muslihat kelompok radikal di ruang online.

Musuh umat Islam sejati yang harus diperangi bukan non-muslim, melainkan kelompok radikal yang memanfaatkan agama sebagai jubah membenarkan perilaku kemungkaran di ruang-ruang online. sebab non-muslim haram hukumnya dibenci dan diperangi karena mereka tidak membenci sekaligus memerangi umat Islam. Jadi, konteks jihad pemuda masa kini adalah aktif di platform online memberantas radikalisasi online sebagai jalan membela agama dari para perusak-nya.

Propaganda Radikal Bukan Ajaran Agama!

Propaganda radikal sejatinya bukan ajaran agama tetapi memperalat ajaran agama. Seperti menurut pandangan Scott M. Thomas dalam “The Global Resurgence of Religion and The Transformation of International Relation, The Struggle for The Twenty-First Century” Bahwa, kelompok radikal menjadikan nilai agama sebagai penunjang secara politis. Dengan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan kemauan, keinginan dan kepentingan mereka secara ideologis dalam menghalalkan pembunuhan, kezhaliman, kebencian dan intoleransi.

Mewabahnya radikalisasi online di Indonesia tentu lebih condong menyasar generasi muda dan perempuan. Sebab, mereka memiliki nilai politis kekuasaan untuk merusak generasi bangsa agar memiliki cara pandang ekstrem merusak tatanan. Serta, memanfaatkan perempuan sebagai boneka percobaan dalam melakukan aksi-aksi teror bom bunuh diri.

Sehingga, kalau kita kembali ke argument awal bahwa peran generasi muda sangat penting di ruang online, yaitu menjadi duta damai dalam memberantas radikalisasi online. Perjuangan ini tentu bukan berada di ruang kosong dan dianggap tidak berarti serta dianggap tak ada nilai jihad-nya. Sehingga, minim sekali peran pemuda dalam menjadi duta damai yang memiliki kesadaran dalam memberantas paham radikal di ruang online.

Padahal, menjadi duta damai memberantas radikal adalah bernilai jihad di jalan-Nya. Karena di satu sisi memperjuangkan nilai agama di tengah maraknya ajaran radikal yang sengaja memanfaatkan ajaran agama dengan membenarkan perilaku kemungkaran atas tatanan. Selain itu, juga mencoreng kehormatan agama-Nya yang penuh rahmat dan maslahat itu sendiri.

Jadi, jihad menjadi duta damai bagi generasi muda dalam memberantas radikalisasi online itu bisa dilakukan dengan beberapa aktivitas. Seperti aktif di ruang sosial seperti media sosial dalam menyebarkan paham-paham keagamaan yang moderat serta berkontribusi dalam membangun narasi-narasi perdamaian serta bahaya paham radikal.

Mengombinasikan orientasi pemuda yang mahir dalam berselancar di media sosial. Untuk bisa mendeteksi sedini mungkin segala propaganda kelompok radikal. Menginfiltrasi narasi kebohongan serta propaganda kebencian di ruang-ruang online. Serta, konsisten dalam menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang moderat serta nilai kebangsaan yang menyatukan masyarakat perlu dijadikan trend-topik di ruang-ruang online.

Facebook Comments