Mereduksi Intoleransi lewat Amalan Sunnah di Penghujung Ramadhan

Mereduksi Intoleransi lewat Amalan Sunnah di Penghujung Ramadhan

- in Keagamaan
17
0
Mereduksi Intoleransi lewat Amalan Sunnah di Penghujung Ramadhan

Di setiap penghujung Ramadhan, atau 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan sunnah di malam hari. Mengapa? Agar kita dapat meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Ada beberapa amalan sunnah yang dipraktikkan oleh Nabi. Secara fungsional, amalan sunnah tak hanya bermanfaat secara keshalihan spiritual. Tetapi juga membawa maslahat secara keshalihan sosial.

Sebagaimana, kita dapat mereduksi intoleransi lewat amalan-amalan sunnah di penghujung Ramadhan. Misalnya, Rasulullah SAW melaksanakan I’tikaf di Masjid. Seperti yang diriwayatkan Imam Dailami dari Sayyidah Aisyah ra dalam sebuah Hadits: “Siapa yang beriktikaf bertepatan dengan Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni semua dosa yang lalu, baik dosa kecil atau-pun dosa besar”.

Lantas, apa korelasi mereduksi intoleransi dengan aktivitas I’tifak? Secara logika, mungkin tampak tak masuk akal. Namun secara spirit kebatinan, I’tikaf dapat mereduksi segala ego-ego diri dalam beragama yang menjadi akar dari intoleransi itu.

I’tikaf pada hakikatnya adalah perenungan-perenungan diri secara spiritual yang dapat melahirkan keshalihan secara sosial itu. Setiap duduk I’tikaf kita, lahir sebuah refleksi diri dan terciptanya keterhubungan batin kepada-Nya. Sebab, I’tikaf lebih mengacu kepada penjernihan kebatinan manusia di dalam mengenali dirinya dan dapat mengenali Tuhanya hingga dapat menggapai rahmat-rahmat-Nya.

Jadi, dari sinilah rahmat dan maslahat Lailatul Qadar akan terbangun secara reflektif. Yakni tumbuhnya kesadaran yang tolerant dan peduli sosial itu akan tumbuh dalam kebatinan diri yang bersih dari segala prasangka, iri-dengki, kebencian, sentiment dan keangkuhan merasa paling benar. Semua lebur dalam kondisi batin yang tenang, nyaman dan damai bersama dalam kebaikan-kebaikan spiritual dalam I’tikaf itu.

Selain I’tikaf, di 10 hari terakhir Ramadhan Rasulullah SAW juga gemar-tekun melaksanakan qiyamul lail, lalu diiringi dzikir dan membaca Al-Qur’an. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan “Barang siapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadar atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah) diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”.

Kita tahu, keutamaan shalat, baik sunnah atau wajib tak sekadar berkaitan dengan hubungan spiritual dengan-Nya. Tetapi, membawa dampak maslahat bagi kehidupannya. Seperti dalam (Qs. Al-Ankabut:45) “Inna Shalata Tanha Anil Fahya’ iwal mungkar” bahwa shalat kita akan menjauhi dari kemungkaran dan perilaku buruk seperti intoleransi atau kebencian.

Secara orientasi, kegemaran Rasulullah SAW Shalat malam (qiyamul lail) lalu diiringi dzikir dan membaca Al-Qur’an di 10 hari terakhir Ramadhan ini tentunya dapat menumbuhkan yang namanya (perbaikan diri). Setiap shalat yang kita lakukan dapat menghindari dari keburukan, setiap dzikir yang kita lakukan dapat menjauhi dari ucapan-ucapan buruk, kotor dan memecah-belah dan setiap bacaan Al-Qur’an dapat merenungkan kebaikan-kebaikan yang penuh rahmat.

Selain shalat malam, Rasulullah SAW juga memiliki kebiasaan bersedekah di 10 hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Diriwayatkan oleh HR Bukhari-Muslim bahasanya “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan”. Kebiasaan Nabi dalam sedekah begitu semakin gencar pada hari-hari terakhir puasa di bulan suci Ramadhan.

Rahmat dan maslahat Lailatul Qadar bisa tumbuh dalam jati diri yang dermawan dan tak pelit. Karena secara reflektif, sedekah secara psikologis dapat membunuh segala ego diri yang serakah dan tak peduli terhadap orang lain.

Lewat sedekah, manusia dapat memahami bagaimana hidup harus saling membantu dan penuh kebersamaan secara harmonis penuh tolerant. Sedekah adalah simbol manusia pasti membutuhkan manusia lain. Maka di sinilah rahmat dan maslahat Lailatul Qadar bisa tumbuh dalam perilaku sedekah hingga dapat menghapus segala kebencian sosial dalam diri kita di tengah perbedaan-perbedaan.

Terakhir, berdoa bermunajat memohon kepada-Nya ampunan dan segala kebaikan adalah kebiasaan Rasulullah SAW di 10 hari terakhir. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119 bahwasanya “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: “Berdoalah: Ya Allah Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku”.

Harapan atas pengampunan Tuhan pada hakikatnya adalah spirit kebatinan seseorang yang secara reflektif ada iktikad untuk berubah dan menjadi lebih baik. Berdoa adalah simbol pengakuan diri atas segala perilaku dosa/buruk dan bertransformasi menjadi orang baik. Sebagaimana dalam konteks mereduksi intoleransi, doa-doa yang kita ucapkan dapat melahirkan kerendahan hati, tunduknya ego dan kejernihan pikiran dalam menghapus segala kebencian yang membatu dalam diri kita.

Facebook Comments