Narasi Bid’ah yang Menciderai Pesan Damai Ramadan

Narasi Bid’ah yang Menciderai Pesan Damai Ramadan

- in Keagamaan
37
0
Narasi Bid'ah yang Menciderai Pesan Damai Ramadan

Bulan Ramadan memiliki arti yang sangat agung dan mendalam bagi umat Islam. Bulan suci ini bisa menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk meningkatkan sikap toleran dan penanaman benih-benih pesan perdamaian Islam. Lebih-lebih terkait dengan sikap beberapa tokoh agama yang menyalahkan amaliah-amaliah kelompok selain madhab mereka.

Mereka menuduh peringatan Nuzulul Qur’an sebagai praktik bid’ah. Peringatan malam Nuzulul Qur’an yang telah lama dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia dengan dalil yang jelas akan kebolehannya, dituduh tak berdalil dan bid’ah. Demikian pula shalat sunnah malam Lailatul Qadar tak luput dari cercaan mereka sebagai amaliah tak berdasar yang sesat.

Fenomena ini tentu saja menimbulkan percikan api perpecahan di internal umat Islam. Puasa Ramadan yang sejatinya mendidik seorang muslim untuk menahan diri, salah satunya menahan diri untuk tidak mengumpat dan memfitnah justeru dikangkangi. Kelompok ini seolah-olah adalah pemilik hak dan otoritas yang memiliki kewenangan untuk menilai dan memvalidasi.

Hal ini merupakan dampak dari jargon “kembali ke Qur’an dan hadits”, sementara di sisi lain mereka lemah memahami perangkat keilmuan yang mendukung untuk memahami dua sumber primer hukum Islam tersebut. Mereka tidak sadar telah terjebak pada penafsiran sederhana yang jauh dari sebenarnya. Akhirnya, merasa paling benar sendiri, paling “nyunnah” sendiri. Kemudian menyalahkan siapapun yang tidak sepandangan. Sungguh, suatu ironi beragama karena yang demikian tidak lebih sebagai pencitraan dan pendangkalan.

Prototipe kelompok tertentu yang menganggap kelompok lain jauh dari al Qur’an dan menyelisihi Nabi sebagai pembawa risalah, saat ini merebak dan berpotensi menjerumuskan seseorang menjadi aktor pemecah belah, intoleran dan anti kedamaian. Bagaimana tidak, sesama muslim saja mereka kecam, apalagi non muslim.

Padahal, Islam sejatinya tidak demikian. Selama ritual keagamaan memiliki dalil yang bisa dipertanggungjawabkan selama itu pula sah untuk dikerjakan. Hadirnya empat madhab fikih yang otoritasnya diakui oleh mayoritas umat Islam di dunia sebagai bukti, bahwa perbedaan pendapat dalam Islam khususnya dalam fikih sebagai suatu keniscayaan. Dan, sangat perlu diketahui setiap ritual keagamaan dalam Islam mengacu pada fikih yang perumusannya berdasar pada al Qur’an dan hadits.

Sehingga tuduhan peringatan Nuzulul Qur’an dan shalat sunnah Lailatul Qadar sebagai praktik bid’ah merupakan tuduhan tak mendasar sebab dua ritual tersebut memiliki argumen hukum yang jelas. Alhasil, kelompok yang hobinya menuduh sesat kelompok lain ini yang kemudian melahirkan banyak konflik, selisih bahkan pertengkaran sepanjang abad yang tiada henti merupakan sikap yang menciderai keagungan bulan Ramadan.

Pesan Damai Bulan Suci

Yang patut dicerna, tidak ada satu pun doktrin dalam agama Islam yang mengajarkan kekerasan. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin senantiasa membimbing pemeluknya ke jalan yang penuh rahmat dan perdamaian. Islam sangat menekankan sikap saling menghormati baik sesama penganut Islam sendiri maupun antar umat beragama.

Bulan Ramadan sebagai bulan mulia dengan segudang keberkahan menyiratkan nilai-nilai utama dalam ajaran Islam. Perintah menahan diri tidak makan, minum dan persetubuhan di siang hari mengajarkan manusia supaya tidak tertipu syahwat duniawi. Begitu pula larangan untuk tidak mencaci, memfitnah, mengumpat, menuduh sesat, dan menyebarkan berita bohong adalah pesan-pesan yang menjadi inspirasi bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai utama bulan Ramadan tersebut sejatinya menjadi alam pikiran dan sekaligus praktik kehidupan di ruang publik. Sehingga ajaran agama tidak hanya sebatas pendangkal-formal, tetapi ia hadir secara substansi. Tuduhan bid’ah terhadap amaliah yang memiliki legalitas dalil merupakan praktik dari ajaran agama yang dipahami secara dangkal dan formal. Karenanya, merupakan kesalahan fatal yang bisa mereduksi ajaran Islam sendiri dan berdampak buruk terhadap kemanusiaan sebab akan menimbulkan gejolak dan pertikaian.

Dengan demikian, tuduhan bid’ah seperti telah dijelaskan di atas dan terjadi di bulan yang suci ini, lebih disebabkan oleh pemahaman terhadap ayat-ayat suci dan hadits yang keliru, atau disengaja untuk tujuan tertentu.

Spirit Ramadan adalah bagaimana bina damai dapat diciptakan dengan menahan diri dari segala penyakit hati, seperti menuduh sesat dan memfitnah. Tuduhan bid’ah peringatan Nuzulul Qur’an, misalnya, merupakan fitnah sebab nyata-nyata dan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Nilai-nilai seperti persaudaraan dan penghormatan diajarkan di bulan Ramadan melalui latihan untuk tidak menggunjing serta sikap provokatif yang lain. Sikap menghormati orang yang berpuasa, dan yang berpuasa menghormati yang tidak berpuasa karena beda agama atau sesama muslim yang mendapatkan keringanan merupakan pesan perdamaian Ramadan.

Sebagaimana diketahui bersama, momen Ramadan adalah momen untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan. Karenanya, menghindari sikap menyalahkan kelompok lain sangatlah urgen. Sebab sikap menyalahkan dengan membabi-buta akan menggerus pahala puasa, dan tidak mustahil masuk dalam pesan Nabi “Banyak sekali orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja”.

Pola pikir keberagamaan yang disesaki dengan doktrin-doktrin yang berasas pada fanatisme doktrin tertentu, merupakan kesalahan paling fatal. Apalagi hal itu berasal dari pemahaman yang dangkal, dari ketidaktahuan atau lemahnya pemahaman terhadap dalil-dalil agama.

Sebagai catatan terakhir, ada baiknya kita renungkan pesan Imam Abul Hasan al Asy’ari yang mashur dipanggil Imam Asy’ari, beliau ulama panutan Ahlussunah wal Jama’ah dalam bidang akidah, beliau pernah berpesan pada salah satu muridnya:

“Bersaksilah untukku (wahai muridku), sesungguhnya aku tidak mengafirkan Ahlul Qiblah. Karena, semuanya mengarah pada satu Tuhan yang sama. Dan semua (perdebatan) ini sejujurnya hanya Sola perbedaan dalam ungkapan belaka”.

Facebook Comments