‘New Normal’ Pasca Ramadan 2020: Perkuat Pertahanan, Perlawanan dan Penyembuhan Covid-19

‘New Normal’ Pasca Ramadan 2020: Perkuat Pertahanan, Perlawanan dan Penyembuhan Covid-19

- in Suara Kita
1299
0
‘New Normal’ Pasca Ramadan 2020: Perkuat Pertahanan, Perlawanan dan Penyembuhan Covid-19

Ramadan tidak terasa sudah berlalu. Di tengah Ramadan umat Islam telah ditempuh ketaqwaannya kepada Allah SWT. Pasca Ramadan dengan modal taqwa orang Muslim seharusnya memiliki cara kehidupan normal baru (New Normal).

New Normal apa yang harus diaktulisasikan?. New Normal yang diterapkan selayaknya mempraktekkan nilai-nilai puasa yang berkaitan dengan ketuhanan dan sosial kehidupan. Pasca Ramadan dalam beribadah harus memiliki peningkatan atau cara-cara ibadah yang lebih maslahah. Di sisi hubungan sosial seorang Muslim pasca Ramadan sebaiknya menerapkan humanisme.

Ramadan tahun 2020 ini penuh dengan keperihatinan. Ramadan tahun ini bangsa Indonesia dan dunia sedang menghadapi Covid-19. Covid-19 cukup membuat tatanan kehidupan dipaksa berubah (forced to change). Perubahan tatanan kehidupan diperuntukkan kepada semua manusia sekarang. Change disini meliputi cara beragama, bersosial, mencari ilmu dan bekerja. Inilah tuntutan zaman dimana manusia beraktifitas harus mementingkan kesehatan. Seolah-olah dunia sedang kurang bersahabat dengan manusia. Maka, manusia perlu waspada.

Cara beragama di tengah Covid-19 dipaksa mematuhi protokol kesehatan. Beribadah sholat berjamaah di masjid ditiadakan sementara dengan dalih keutamaan kesehatan. Pengajian dan acara-acara keagaamaan yang mengakibatkan kerumunan ditunda sampai dunia membaik. Menuntut ilmu-ilmu agama pada Ulama, Kiai, Ustadz dan pakar disentralkan via media. Bahkan ibadah Haji tahun ini juga terancam pelaksanaannya. Tetapi sebagai Muslim yang kaffah  tidak perlu merasa sedih dengan perubahan dan pembatasan, ini semua demi kebaikan bersama (common good).

Bagaimana menciptakan common good dibidang hubungan sosial New Normal pasca Ramadan?. Hikmah sosial puasa perlu penerapan dengan model baru (New Model) demi kemaslahatan terlebih di masa pandemi saat ini. Hubungan sosial new model ini mengimbangi tuntutan perubahan tatanan sosial. Contohnya; di momentum lebaran tahun ini silaturahmi dianjurkan cukup via medsos. Silaturahmi via medsos bagi budaya bangsa Indonesia tentu nilai kepuasannya kurang. Kenapa Kurang?. Sebab, budaya orang Indonesia ini suka berkunjung, bertemu langsung dan berkumpul dalam kehangatan. Hubungan sosial saat ini dituntut mengikuti perubahan, kita sebagai mahluk yang berakal harus menerima dan mengikuti perubahan itu.

Baca Juga : Perkuat Persatuan Menuju Hari Kemenangan di Tengah Pandemi

Bidang pendidikan saat pandemi juga dituntut berubah. Dimana perubahannya?. Perubahannya dari sistem belajar-mengajar bertemu langsung beralih jadi online. Mau tidak mau, suka tidak suka, inilah tuntutan zaman (demands of the times). Manusia di tuntut membaur dan tidak canggung dengan demands of the times. Kita boleh berpikir demands of the times ini sengaja direkayasa sekelompok manusia. Tetapi sebagai seorang yang bertuhan juga harus memiliki kepercayaan demands of the times sepenuhnya otoritas sang Pencipta. Inilah saatnya pendidikan meng-upgrade sistemnya yang lebih canggih dan bersahabat.

Sektor perekonomian pasca Ramadan juga mengikuti New Normal. New Normal perekonomian pasca Ramadan cukup terasa, misalnya; para pedagang kuliner saat Ramadan cukup laris, bisa dikatakan musim panen (harvest season). Para pedagang baju saat Ramadan juga sedang harvest season. Terus bagaimana para profesi yang habis harvest season menjalani bisnis New Normal pasca Ramadan terlebih saat Covid-19 mewabah?. Pertanyaan inilah yang menjadi PR penting bagi pemerintah dan rakyat menata strategi baru dalam pergerakan perekonomian. Jika momentum kekacauan dunia saat ini dimanfaatkan Indonesia untuk maju membangun perekonomian inilah peluang terbaik.

New Normal yang hendak diterapkan harus mempertimbangkan pertahanan (defense), perlawanan (resistance) dan penyembuhan (healing) Covid-19. Strategi defense, resistance and healing sangat dibutuhkan dalam menghadapi pandemi. Indonesia sebagai bangsa yang terdampak Covid-19 harus memiliki strategi kapan defense, kapan resistance dan kapan healing. Defense, resistance and healing menjadi stategi kunci sebab pandemi sudah mewabah, jadi rakyat harus siap war against covid-19 (perang melawan Covid-19). Kalau zaman dulu ada perang adu fisik kini manusia sedang menghadapi kenyataan perang dengan virus, inilah demands of the times.

Ayo warga Indonesia bangun, ini saatnya war. War against covid-19 rakyat bisa menyesuaikan sesuai kapasitasnya, jika kapasitasnya defense ya defense, jika kapasitasnya resistance ya resistance dan jika kapasitasnya healing ya healing. New Normal memang harus tetap memperkuat defense, resistance and healing Covid-19. Pemerintah sebagai pemegang otoritas harus memetakan rakyatnya siapa yang harus defense, siapa yang harus resistance and siapa yang harus healing. Setelah terpetakan rakyat harus mematuhi komando pemerintah; kalau komandonya defense ya defense, kalau komandonya resistance ya resistance dan kalau komandonya healing ya healing. Penguatan strategi defense, resistance and healing jika masif diterapkan bangsa ini akan meraih victory against covid-19 (kemenagan melawan Covid-19).

Defence dalam war against covid-19 bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan PSBB, larangan tidak mudik, social distancing, physical distancing, work from home dan cara bertahan yang lain. Ada pun resistance dalam war against covid-19 bisa melakukan upaya penyemprotan desinfektan, memakai hand sanitiser, memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan. Lalu langkah mengatasi seorang yang positif Covid-19 langkah healing; bisa dengan dirawat dirumah sakit ataupun isolasi mandiri. Strategi defense, resistance dan healing tujuannya memotong mata rantai penularan Covid-19. Kepatuhan rakyat akan komando pemerintah dalam war against covid-19 akan membawa kabar gembira yaitu New Normal.

Facebook Comments