Pancasila Sakti: Jalan Tengah Ideologi Berbangsa

Pancasila Sakti: Jalan Tengah Ideologi Berbangsa

- in Editorial
268
0

Pancasila adalah dasar negara yang diletakkan sebagai cara pandang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila tetap kokoh karena ia bukan barang asing yang ditancapkan dalam kondisi masyarakat. Nilai-nilai luhur Pancasila digali, disarikan dan dirumuskan dari warisan leluhur banga dan nilai kepercayaan dan keyakinan masyarakat Indonesia.

Pada tahun ini, Pemerintah telah membentuk satu Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIPI). Unit ini bertugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila. Kebijakan ini dianggap sebagai keputusan yang tepat karena hadir di tengah semakin rapuhnya nilai kehidupan berbangsa dengan semangat Pancasila. di saat yang bersamaan muncul tantangan dan gerakan laten yang ingin menggerus bahkan mengganti Pancasila sebagai ideologi berbangsa.

Tantangan Pancasila sebagai ideologi bangsa ini bukan sesuatu hal yang baru. Setidaknya ada dua tantangan besar yang pernah dihadapi oleh Pancasila sebagai ideologi sakti yang melindungi kehidupan bebangsa ini. Pertama, tantangan menguatnya gerakan radikalisme keagamaan yang ingin mengusung agama sebagai falsafah negara. Pancasila hadir dengan tanpa menghadirkan agama dalam wujud kongkret, tetapi meletekkan agama sebagai ruh subtansial bernegara. Pancasila pun diterima sebagai prinsip bernegara yang tidak dipandang bertentangan dengan agama tertentu, justru memayungi dan memberikan jaminan terhadap keragaman agama dan keyakinan.

Tantangan kedua gerakan radikalisme berhaluan kiri yang dimotori oleh gerakan komunisme di Indonesia. Bahkan gerakan ini telah membuat kegaduhan sejarah dengan gerakan makar untuk merubah ideologi Pancasila. Pun demikian, Pancasila tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan tersebut. Komunisme yang berbasis ideologi kerakyatan juga ada dalam nilai butir Pancasila.

Dari berbagai tantangan tersebut, Kesaktian Pancasila terlihat karena Pancasila sebagai ideologi berbangsa  merupakan jalan tengah atau pandangan moderat dari berbagai ideologi yang ada. Pancasila merupakan jalan tengah yang mengintegrasikan nilai agama dan kearifan lokal. Pancasila juga menjadi jalan tengah dari pertentangan ideologi kapitalisme dan sosialisme. Pancasila adalah jalan tengah antara bentuk negara sekuler dan negara agama.

Dalam catatan sejarah, kelahiran Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa merupakan kompromi agung atau konsesnsus nasional yang diletakkan sebagai jalan tengah antara nasionalisme, agama dan sosialisme.  Fakta sosial-kultural dan ideologi politik  masyarakat yang beragam menempatkan Pancasila sebagai payung besar yang menaungi berbagai keragaman dengan jaminan kehidupan yang aman, sejahtera, adil dan makmur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pancasila adalah berkah Tuhan yang diberikan kepada negara Indonesia yang digali dari kearifan lokal bangsa, spirit  agama dan ide-ide pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Di tengah semakin merosotnya penghayatan dan pengetahuan masyarakat tentang Pancasila dan di tengah maraknya upaya membangun narasi untuk meruntuhkan Pancasila, ideologi berbangsa ini harus selalu hidup dan dihidupkan sebagai nilai-nilai pengamalan dan pengalaman kehidupan sehari-sehari.

Pancasila harus berkembang sebagai ideologi terbuka dengan tidak menggunakan narasi dan tafsir tunggal demi kepentingan tertentu. Mengatasnamakan Pancasila sebagai alat menghukumi mereka yang berbeda juga bukan sesuatu yang bijak karena akan mengulangi memori kelam ketika masyarakat mereas alergi dengan Pancasila.

Pancasila harus dihidupkan di tengah derasnya ideologi trans-nasional yang secara kentara dan laten ingin menggerus nilai-nilai pengikat persatuan ini. Sekali lagi kita butuh kesaktian Pancasila untuk hadir karena ia telah lama ditanggalkan dalam pengalaman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita butuh Pancasila Sakti sebagai jaminan keberagaman di tengah semakin banyak kelompok yang mulai mengusik kebhinekaan. Kita butuh Pancasila Sakti karena ia sama sekali tidak bertentangan dengan agama di tengah muncul segelintir kelompok yang rajin mempertentangkan nilai luhur Pancasila dengan agama. Kita butuh Pancasila Sakti sebagai jalan tengah ideologi di tengah maraknya ideologi luar yang memaksakan masyarakat menjadi radikal dan tidak moderat.

Facebook Comments