Pemuda, Hansip Dunia Maya dan Gerakan Mencegah Radikalisme

Pemuda, Hansip Dunia Maya dan Gerakan Mencegah Radikalisme

- in Suara Kita
150
0

Dunia maya melalui media sosial menjadi salah satu penyumbang penyebaran bibit-bibit ujaran kebencian, adu domba, radikalisme hingga terorisme. Kemajuan teknologi yang amat pesat membuat setiap orang mudah untuk mengakses media sosial dari facebook, twitter, instagram, telegram dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi tidak lantas selalu membawa dampak baik bagi kehidupan bermasyarakat. Munculnya fenomena-fenomena pemahaman baru yang mengarah pada radikalisme dan terorisme berseliweran di dunia maya, khususnya media sosial. Jika tidak hati-hati bisa jadi kita menjadi salah satu korban dari arus penyebaran radikalisme melalui dunia maya.

Pemuda sebagai salah satu masa depan penerus bangsa menjadi bahan perhatian bersama dalam bermedia sosial. Tanpa bisa kita pungkiri pemuda menjadi konsumen terbesar dalam kemajuan IPTEK tersebut. Hampir setiap pemuda di Indonesia memiliki telepon genggam yang sudah canggih dengan berbagai fitur pendukung untuk mengakses internet.

Dilansir dari www.cnnindonesia.com, generasi muda dalam rentang usia 20-24 tahun dan 25-29 tahun memiliki angka penetrasi hingga lebih dari 80% pengguna internet di Indonesia. Angka tersebut relatif tinggi ketimbang penduduk kelompok usia lainnya berdasarkan riset terbaru yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesa (APJII). Pada kategori 20-24 tahun ditemukan 22,3 juta jiwa yang setara 82% dari total penduduk di kelompok itu. Sedangkan pada kelompok 25-29 tahun, terdapat 24 juta pengguna internet atau setara 80% total jumlah jiwa.

Kemudahan dalam mengakses dunia maya melalui telepon genggam membuat pemuda zaman sekarang terlena dengan dunia nyata. Mereka lebih menghabiskan waktu di dunia maya dibandingkan dunia nyata. Dari situ akhirnya akhlak para pemuda juga terbentuk dari dunia maya bukan dunia nyata, sehingga mulai acuh dengan kepedulian antar sesama. Sekarang saatnya pemuda mulai sadar akan hal tersebut. Pemuda Indonesia harus menjadi pemuda yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan baik kehidupan di dunia nyata maupun kehidupan di dunia maya.

Prof. Dr. BJ. Habibi mengatakan setidaknya ada lima kelemahan yang harus kita hindari, yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup dan lemah akhlak. Jika para pemuda dapat menghindari kelima kelemahan ini maka bukan tidak mungkin generasi muda akan kembali menjadi pelopor perubahan bangsa menuju bangsa yang bermartabat dan tidak mudah untuk dipecah belah. Pemuda harus kuat dalam merencanakan dan membangun masa depan bangsa Indonesia serta menjaga persatuan dari rong-rongan kelompok-kelompok radikal yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

Hansip Dunia Maya

Pemuda dan tanggung jawabnya dalam menjaga kelangsungan roda kepemimpinan bangsa ini dituntut untuk mampu mengendalikan arus globalisasi yang sangat deras. Pemuda sebagai masyarakat terbanyak di dunia maya harus bisa menempatkan diri sebagai Pertahanan Sipil (Hansip) di dunia maya. Tugasnya sangat penting yakni untuk menjadi pertahanan awal dalam menjaga dan melawan gerakan-gerakan radikalisme serta terorisme yang akan mengancam perdamamain di Indonesia.

Sebagai pertahanan awal para pemuda dapat membentuk barisan-barisan atau gerakan bersama dalam mencegah tumbuhnya bibit radikalisme yang tumbuh subur di dunia maya. Melalui gerakan siskamling dunia maya menjadi momen para pemuda untuk menyisir dunia maya khususnya media sosial dari penyebaran paham radikalisme dan bibit terorisme. Pencegahan dan perlawanan harus terus digelorakan untuk menjaga bangsa dan generasinya agar tidak mudah dimasuki oleh paham radikalisme yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Di era gencarnya arus penyebaran paham radikalisme yang semakin tak terbendung ini, dalam konteks counter radicalism, pemuda memiliki banyak peran untuk memerangi bibit radikalisme di dunia maya. Pemuda sebagai pertahanan sipil di dunia maya menjadi tokoh utama dalam membersihkan dunia maya dari radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, ditengah pergulatan abad yang penuh keterbukaan ini, pemuda zaman now harus mampu menjawab tantangan-tantangan yang muncul. Pemuda harus mampu menjadi penggerak perdamaian masa depan agar mampu menjaga keamanan, keutuhan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Facebook Comments