People Power : Jualan Politik yang Membahayakan

People Power : Jualan Politik yang Membahayakan

- in Narasi
418
0
People Power : Jualan Politik yang Membahayakan

Fenomena mutakhir teriakan people power oleh Amin Rais dkk menjadi dalam acara Dialog Nasional bertema “Rakyat Bertanya, Kapan People Power?” membuat kisruh publik. Tak urung, gerakan inkonstitusional itu menjadi indikator tidak semua penduduk Indonesia cinta negara ini. Warga negara yang baik mestinya mengedepankan cara-cara bijak dalam penyelesaian setiap masalah kebangsaan, tidak dengan cara memberontak.

Kelompok penyeru people power mengatakan apa yang mereka perjuangkan adalah konstitusional. Omong kosong ini bisa dimaklumi, sebab apabila hawa nafsu untuk berkuasa menguasai jiwa seseorang apapun, demi meraih kekuasaan itu, semua cara pasti dibilang halal. People power tidak ubahnya slogan jualan politik untuk meraih kepentingan sesaat.

Sangat disayangkan, mereka yang disebut-sebut sebagai tokoh dan negarawan harus menukar identitas itu dengan perbuatan tidak baik. Bagaimana pun juga, memberontak terhadap pemerintahan yang sah sangat tidak dibenarkan. Bagi muslim terutama, bughat merupakan tindakan tercela karena hanya akan menimbulkan kekacauan dan kerugian.

Pada sisi lain, sebagai tokoh politik dan pemimpin partai politik, hal itu menandakan sebagai gerakan politisasi agama. Bertujuan menarik simpati, namun beribu-ribu kali sayang karena dilakukan secara curang. Disebut curang, sebab menarik simpati dengan cara menjual agama. People power sama halnya mengajak orang lain untuk memberontak terhadap pemerintahan yang sah saat ini. People power hanya kedok dari nafsu kekuasaan.

Khalayak ramai sendiri sudah tidak bersimpati terhadap isu seperti itu. Sebab bukan hanya kali ini saja isu seperti diteriakkan. Tahun 2019 silam hal yang sama pernah terjadi pada saat pasangan Capres nomor urut 2 kalah. Tuduhan kecurangan pun dihembuskan dan isu people power digemakan.

Ajakan people power bagi mayoritas khalayak tak lebih sebagai lelucon. Pasalnya, masyarakat sudah muak dengan isu-isu tak berkualitas seperti people power. Karenanya, ajakan people power sebetulnya menjadi senjata makan tuan, alias akan semakin banyak masyarakat yang menilai negatif terhadap tokoh-tokoh yang meneriakkan people power dalam acara yang digelar oleh ormas Megabintang di Gedung Umat Islam Kartopuran Solo.

Bagi umat Islam sendiri, terutama kalangan pesantren yang telah memahami “hukum bughat”, menilai bahwa people power yang digaungkan itu adalah lelucon, opini di luar kewarasan dan hanya biasa dilakukan oleh kelompok Khawarij. Dalam sejarah politik Islam kelompok Khawarij yang memiliki hobi melakukan pemberontakan.

Terhadap Pemerintah yang Jelas-jelas Dhalim Saja Dilarang Memberontak

Syaikh Abdul Qadir Audah dalam al Tasyri’ al Jina’i menulis, adil memang menjadi salah satu syarat seorang pemimpin. Namun pendapat yang unggul dari kalangan empat madhab fikih terkemuka dan madhab Syi’ah Zaidiyah mengharamkan melakukan tindakan makar (mengajak makar) terhadap imam/pemimpin yang fasik lagi curang. Sekalipun ajakan makar itu dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar.

Kenapa demikian? Lanjut Abdul Qadir Audah, sebab makar atau pemberontakan pada biasanya hanya akan menciptakan kondisi yang lebih munkar dari saat ini. Maka, memberontak dengan alasan mencegah kemungkaran tidak diperbolehkan, sebab syarat mencegah kemunkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan, tersesatnya rakyat, lemahnya keamanan dan rusaknya kondisi yang semula stabil.

Ajakan people power oleh tokoh-tokoh tersebut, mereka bisa dibilang wajah-wajah elit yang tak punya nurani kemanusiaan. Sebab pemakzulan presiden misalnya, bisa dilakukan dengan cara yang konstitusional berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Mekanismenya sudah jelas, bukan dengan cara people power alias pengumpulan massa untuk melakukan pemberontakan.

Hal yang sangat disayangkan adalah wajah-wajah tokoh tempo kini banyak yang menanggalkan kemanusiaan. Nurani tergadaikan hanya demi hasrat kekuasaan. Sebagai tokoh dan negarawan, apalagi dari kalangan muslim, sepatutnya menjadi contoh para masyarakat awam yang tidak mengetahui akan pergulatan politik, bukan malah menanggalkan kemanusiaan. Masyarakat di aras rumput jangan sampai menjadi korban fitnah keji dari sebuah nafsu berkuasa dan mereka tertarik dalam arus sebuah pemberontakan.

Dinamika hari ini, salah satunya teriakan people power, merupakan indikasi keindonesiaan kita sedang sakit dan beberapa orang warganya juga sedang tidak sehat. Bukan karena fisik yang lemah karena telah lanjut usia, namun sakit karena didera pikiran dan hasrat kekuasaan sampai melakukan kekejian.

Sebagai kalam penutup, akan lebih baik memperbaiki tatanan yang ada di bangsa kita ini dari pada melakukan aktifitas yang bisa menimbulkan mafsadat atau kerusakan yang lebih besar dari hari ini. Tentu kita, sebagai manusia yang masih manusia, tidak tega melihat sesama kita berdiri berhadapan sebagai musuh dan meregang nyawa karena itu. Meregang nyawa karena sebuah hasrat kekuasaan kelompok tertentu yang menghalalkan pemberontakan.

Facebook Comments