Pesantren dan Santri sebagai Pilar Bangsa

Pesantren dan Santri sebagai Pilar Bangsa

- in Suara Kita
1249
0

Bangunan bernama Indonesia mungkin tidak akan berdiri tegak tanpa kehadirnya pesantren. Sebab pesantren merupakan salah satu penyokong utama eksistensi bangsa ini. Dari lembaga pendidikan agama tertua di Indonesia inilah kemudian dikenal istilah santri. Kata santri merujuk kepada mereka yang secara khusus belajar agama di pesantren. Dan menariknya, kelahiran Indonesia pun turut dibidani oleh para santri. Meskipun setiap hari ditempa dengan ilmu agama, semangat kebangsaan para santri ini tidak redup. Bahkan menggebu-gebu. Mereka mempercayai bahwa membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan adalah salah satu bentuk jihad yang diperintahkan agama. Sebab ketika suatu bangsa berada dalam penjajahan bangsa lain, niscaya kezaliman akan merajalela dan kebebasan akan ditekan. Dan hal ini bertentangan dengan semangat agama Islam yang ingin melakukan pembebasan dan menekankan spirit humanisme.

Menurut Sulaiman Rasjid, dalam karya fenomenalnya Fiqh Islam, disebutkan bahwa Islam mengizinkan berperang dengan maksud menolak kezaliman, menghormati tempat-tempat ibadah, menjamin kemerdekaan bertanah air, menghilangkan fitnah, dan menjamin kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan agama  (1996: 447). Maka berperang memang diperbolehkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan.

Salah satu bentuk kejadian heroik para santri dan kyai dalam berperang penjajahan terjadi pada 22 Oktober 1945. Pada hari itu, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad. Mbah Hasyim, yang merupakan tokoh NU kharismatik, menyerukan agar seluruh Muslim untuk berperang melawan penjajah Belanda. Resolusi jihad merupakan hasil keputusan wakil-wakil daerah NU seluruh Jawa-Madura yang berkumpul pada 21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Seruan tersebut kemudian disambut gegap gempita seluruh masyarakat. Resolusi jihad tersebut menjadi bahan bakar para santri untuk terus berjuang. Selang tidak beberapa lama kemudian, yaitu tanggal 10 November 1945 (yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan), para kyai kembali mengerahkan santrinya mengusir penjajah dari Surabaya (diantaranya Kyai Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah). Mereka bahu-membahu dengan seluruh komponen masyarakat mengusir bangsa penjajah.

Saat ini, bangsa Indonesia memang tidak lagi menghadapi penjajahan fisik dari bangsa lain. Negeri ini telah merdeka pasca dibacakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Akan tetapi hal tersebut bukan berarti perjuangan bangsa ini telah usai. Masih banyak tantangan dan pekerjaan rumah bangsa ini yang membutuhkan kontribusi jihad para santri. Jihad tidak sekedar bermakna perang. Akan tetapi segala sesuatu yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dapat juga diartikan sebagai jihad. Maka salah satu jihad yang bisa dikerjakan oleh para santri pada masa ini adalah mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI. Sebab makin banyak ancaman yang merongrong eksistensi bangsa ini.

Beberapa ancaman yang kerap menghantui bangsa ini adalah paham radikal bertopeng agama yang akhirnya menodai kesucian agama itu sendiri. Dalam hal ini masih banyak individu dan sekelompok kecil Muslim yang memahami agama dengan cara yang kaku dan sempit. Akibatnya sikap dan pandangan mereka terhadap pihak yang berbeda dan tidak sepaham sering kali bias. Seperti menganggap kelompok lain sesat, menghalalkan kekerasan, mudah menyalahkan, dan sebagainya. Nah disinilah dibutuhkan para santri untuk mengurai kekusutan berpikir dan menjernihkan pemahaman agama yang salah. Sebab santri ini memiliki modal berupa pemahaman agama yang kuat dan komprehensif. Saat belajar agama, para santri tidak sekedar membaca satu kitab referensi saja. Melainkan banyak kitab dengan berbagai sudut pandang dan pendapat. Ayat-ayat perang dibahas dengan lengkap, tetapi juga membahas ayat-ayat damai. Hadist tentang sikap keras nabi kepada umat lain dikaji, tetapi sikap nabi yang lembut kepada pemeluk lain juga didaras. Ada dialektika yang panjang hingga mendapatkan kesimpulan yang lengkap. Sehingga setiap ayat atau hadist dapat ditempatkan sesuai dengan konteks dan kepentingan yang mendasarinya.

Hal ini yang kerap diabaikan oleh mereka yang baru belajar agama. Semangat beragama mereka tinggi, akan tetapi semangat belajar agama mereka rendah. Mereka inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk memutarbalikan ajaran agama dan menggunakan agama untuk kepentingan mereka. Agama dimanfaatkan sebagai justifikasi untuk menyakiti pihak lain. Bahkan melukai sesama anak bangsa hanya dikarenakan perbedaan pandangan dan keyakinan. Dan sekali lagi, disinilah peran santri untuk meluruskan pihak-pihak yang salah dalam memahami agama. Itulah salah satu kontribusi santri untuk mempertahankan NKRI.

Facebook Comments