Podcast Lintas-Agama; Potret Kerukunan Beragama di Bulan Ramadan

Podcast Lintas-Agama; Potret Kerukunan Beragama di Bulan Ramadan

- in Kebangsaan
27
0
Podcast Lintas-Agama; Potret Kerukunan Beragama di Bulan Ramadan

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah melatari munculnya sejumlah fenomena budaya populer baru. Salah satunya adalah maraknya konten podcast atau siniar di beragam kanal media digital. Antara lain Spotify, Noice, dan YouTube.

Di bulan Ramadan kala ini, para konten kreator seolah berlomba menyajikan konten menarik yang berhubungan dengan tradisi puasa di Indonesia. Ada yang semata ingin menghibur, ada yang menyuguhkan pengetahuan, dan ada yang merangkum keduanya; menghibur sekaligus mencerahkan.

Salah satu konten Ramadan yang menarik diperbincangkan adalah konten podcast lintas agama. Istilah podcast lintas agama ini merujuk pada konten talkshow yang membincangkan isu sosial-keagamaan namun melibatkan dua atau lebih agama yang berbeda.

Dalam konteks ini, kita bisa menyebut dua kanal YouTube besar yang konsisten memproduksi podcast lintas agama, yakni Kanal YouTube Dedy Corbuzier, dengan nama kontennya adalah Login. Podcast ini dibawakan oleh dua host beda agama, yakni Onadio Leonardo dan Habib Husein bin Jafar.

Keduanya merupakan sosok influencer yang populer di kalangan generasi Z dan milenial. Onad dikenal sebagai host di sejumlah podcast, vokalis band, dan aktor film. Sedangkan Habib Ja’far adalah pendakwah yang dikenal dengan pandangan keislamannya yang inklusif. Ia wara-wiri di banyak kanal YouTube sebagai influencer keragaman yang diidolakan kaum muda.

Selain itu, ada juga kanal Daniel Mananta yang juga konsisten membuat konten keagamaan dengan narasumber yang berbeda latar belakang keagamaannya. Daniel ini dulunya adalah seorang VJ MTV, presenter, MC dan juga pengusaha.

Kini ia membangun kanal YouTube dengan jumlah subscriber mencapai jutaan orang. Ia kerap melakukan wawancara dengan bintang tamu dari kalangan muslim, seperti Ustad Abdul Shomad, Habib Ja’far, Felix Shiaw, Ustad Luqman Hakim, ustad dennis Lim, dan sebagainya.

Selain dua kanal itu sebenarnya masih banyak kanal YouTube lain yang juga rutin mengunggah konten podcast lintas agama. Fenomena ini tentu kian manambah semarak suasana Ramadan secara khusus dan membuat khazanah keislaman Indonesia secara umum kian menarik. Mengapa demikian?

Selama ini, dialog atau diskusi lintas agama yang berkembang umumnya hanya dilakukan di ruang tertutup dan melibatkan kalangan akademik atau tokoh agama saja. Tema yang dibahas pun cenderung lebih spesifik dan berat. Alhasil, kesan dialog keagamaan menjadi elitis, segmented, dan sulit diakses oleh masyarakat awam.

Narasi Tandingan Radikalisasi Online

Kehadiran konten podcast lintas agama di media sosial mengubah citra dialog agama yang kaku dan segmented. Di podcast keagamaan seperti tampak pada konten Login atau kanal Daniel Mananta, Richard Lee dan sebagainya, dialog keagamaan disajikan secara santai, sesekali diselipi humor.

Satu hal yang terpenting, dialog keagamaan di medsos itu jauh dari tendensi mencari siapa yang benar dan salah. Dialog semata didesain sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman spiritual masing-masing.

Jika meminjam istilahnya Azyumardi Azra, model dialog keagamaan yang muncul di media sosial saat ini cenderung mengarah pada “religious experience dialogue“. Yakni dialog dimana setiap peserta menceritakan tentang keimanan dan pengalaman spiritualnya tanpa ada tendensius merasa keimanannya sebagai yang paling benar.

Model dialog ini, menurut Azra berbeda dengan corak “theological dialogue” yang lebih membahas sisi teologis ajaran agama-agama. Model dialog teologis ini kerap terjebak pada kehendak untuk mencari mana agama yang paling benar. Alhasil, dialog kerap berakhir buntu bahkan menimbulkan gesekan antar pemeluk agama yang berbeda.

Podcast lintas agama yang menjadi tren di media sosial saat ini tentu patut diapresiasi. Tren ini membuktikan bahwa dialog agama bisa dilakukan dengan santai, terbuka, dan tanpa tendensi merendahkan.

Di saat yang sama, tren ini juga menandakan bahwa kerukunan agama di Indonesia bukanlah sekadar wacana. Masyarakat Indonesia sebenarnya sangat terbuka pada perbedaan agama. Terutama generasi Z dan milenial yang lebih inklusif dan toleran dalam menyikapi perbedaan agama.

Dan yang terpenting dari itu semua adalah bahwa podcast lintas agama itu mampu memberikan pencerahan bagi umat beragama. Terutama bagi kalangan milenial dan generasi Z sebagai salah satu kelompok yang akrab dengan dunia digital. Mereka menjadikan media sosial sebagai sarana belajar dan mencari informasi. Termasuk informasi dan pengetahuan agama.

Adalah hal yang mengkhawatirkan jika kaum muda lebih banyak mengakses konten keagamaan yang bernuansa radikal ekstrem. Maka, fenomena podcast lintas agama ini tidak hanya mengubah citra dialog keagamaan yang tadinya kaku menjadi cair. Namun juga menjadi semacam narasi tandingan bagi konten keagamaan radikal yang marak di jagad maya belakangan ini.

Facebook Comments