Proyeksi 2023; Membangun Peradaban yang Bebas dari Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

Proyeksi 2023; Membangun Peradaban yang Bebas dari Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

- in Narasi
416
0
Proyeksi 2023; Membangun Peradaban yang Bebas dari Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

Ledakan kembang api terakhir di malam tahun baru kiranya menjadi tanda dimulainya lembaran anyar yakni tahun 2023. Sehari pasca kita merayakan pergantian tahun, sebagian besar dari kita akan kembali ke rutinitas. Para pekerja akan kembali ke kantor. Anak-anak kembali ke sekolah. Semua kembali menekuni rutinitas.

Euforia perayaan tahun baru lantas menyisakan sebuah pertanyaan filosofis; Apa pelajaran yang kita petik dari tahun 2022? Dan akan seperti apa hidup kita setahun ke depan? Menengok sedikit ke belakang, kita patut berbangga bisa melewati tahun 2022 dengan aman dan damai. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada kecenderungan penurunan angka terorisme di tahun 2022. Temuan itu tentu patut disyukuri. Itu artinya, gerakan radikal-teror kian tidak mendapat tempat di negeri ini.

Namun, kita tentu tidak boleh menepuk dada dan berpuas diri terlalu awal. Tersebab, di tengah menurunnya angka teror itu kita justru dihadapkan pada meningkatnya angka intoleransi keagamaan. Di saat yang sama kita juga menghadapi banjirnya narasi radikalisme-terorisme di dunia maya yang dikemas ke dalam propaganda-propaganda terselubung.

Radikalisme dan terorisme apa pun wujudnya, baik itu serangan fisik maupun propaganda pemikiran sebenarnya sama-sama berbahaya. Teror fisik berakibat pada jatuhnya korban jiwa dan kerugian material. Sedangkan propaganda radikalisme-ekstremisme di ruang-ruang maya berakibat pada kian rapuhnya struktur sosial-kebangsaan kita dari dalam. Narasi kebencian terhadap pemerintah dan kelompok minoritas yang didengungkan oleh kaum radikal di dunia maya telah menyumbang andil pada gejolak sosial yang terjadi selama ini.

Dunia Maya Sebagai Lahan Penyebaran Ideologi Radikal

Jika dilihat dari fenomena setahun belakangan ini, tampaknya memang kaum radikal mulai mengalihkan medan pertempurannya tidak lagi di dunia nyata, melainkan di dunia maya. Mereka memang tidak lagi gencar menebar teror dan kekerasan fisik. Namun, mereka rajin menebar teror di dunia maya dengan menyebarkan narasi kebencian, adu-domba, dan provokasi yang bertujuan merusak tatanan kebangsaan. Kondisi inilah yang sekiranya bisa dijadikan sebagai dasar untuk menyusun proyeksi ke depan selama tahun 2023 ini.

Itu artinya, proyeksi tahun 2023 ini kiranya harus diarahkan para tindakan preventif membendung arus narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme terutama di dunia maya. Arena battle ground kita sekarang ialah perang opini dan wacana di ruang publik. Konsekuensinya kita ditantang untuk memenangkan pertarungan wacana dan merebut kembali ruang publik dari infiltrasi dan dominasi kaum radikal-teroris.

Maka, di tahun 2023 ini kita tidak boleh lagi menjadi kelompok mayoritas yang diam atau pasif alias sileng majority. Kita harus aktif dalam membantah narasi-narasi intoleran-radikal sekaligus aktif dalam mempromosikan paradigma moderat. Jihad terbaik yang bisa kita persembahkan saat ini ialah melawan segala propaganda intoleransi dan radikalisme yang membonceng isu ekonomi dan politik.

Komitmen Melawan Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

Di tahun 2023 ini sudah bisa dipastikan akan banyak narasi sumir dan menyesatkan yang berseliweran di ruang publik digital kita. Media sosial, untuk ke sekian kalinya akan menjadi ajang pertempuran opini sekaligus tempat beredarnya berita palsu dan ujaran kebencian berlatar politik dan agama. Di tengah kesemrawutan itu, kaum radikal akan berselancar dengan menjajakan ideologi yang bertentangan denga falsafah bangsa. Mulai dari khilafahisme, negara Islam, dan sejenisnya.

Membangun peradaban bangsa yang unggul dimulai dengan membersihkan ruang publik kita dari paham dan gerakan intoleran, radikal, serta terorisme. Dan upaya itu harus melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk kelompok masyarakat sipil yang selama ini lebih banyak diam atawa pasif. Kiranya tahun 2023 ini membawa spirit baru. Spirit kebangkitan kelompok sipil agar lebih memiliki kesadaran dan komitmen untuk melawan ideologi dan gerakan yang bertentangan dengan prinsip kebangsaan.

Peradaban yang besar tentu tidak dibangun secara instan. Bangsa-bangsa besar di dunia membutuhkan waktu ratusan tahun untuk membangun peradaban. Dan selama ratusan tahun pula jatuh-bangun mempertahankan peradaban itu. Kita, bangsa Indonesia baru menginjak usia tujuh dekade. Jalan kita membangun peradaban tentu masih panjang. Tahun 2023 yang begitu krusial ini bisa jadi merupakan salah satu titik penting dalam milestone perjalanan bangsa Indonesia membangun peradaban.

Maka, mari kita isi tahun ini dengan optimisme sekaligus komitmen untuk berperan aktif melawan infiltrasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Tiga hal itulah yang selama ini menjadi penghalang bangsa membangun peradaban. Sekaya apa pun negeri kita. Sepintar apa pun penduduknya. Selama masyarakat kita masih dihantui oleh intoleransi, radikalisme, dan terorisme, maka peradaban unggul itu akan selalu menjadi angan-angan belaka.

Facebook Comments