Puasa dan Etos Perjuangan

Puasa dan Etos Perjuangan

- in Suara Kita
179
0

Ibadah puasa adalah suatu bentuk ibadah yang berat. Lebih-lebih jika dilihat dari sudut pandang meterialistis-sekular. Itulah sebabnya, penulis Perancis, Jean de la Fontaine, pernah berkomentar bahwa orang yang lapar tidak dapat menangkap nasihat yang baik (Ali, 2002). Puasa, menurut pandangan materialis ini, akan memberikan dampak negatif kepada kehidupan fisik dan pikirannya.

Apakah itu juga berlaku bagi umat muslim yang menjalankan puasa? Tidak. Ibadah puasa tidaklah berdampak negatif seperti yang dikesankan Fontaine di atas. Sebaliknya, dengan berpuasa, semakin menambah etos kerja dan semangat berjuang. Sejarah mencatat, justru tidak sedikit peristiwa kemenangan dan kesuksesan terjadi di bulan suci Ramadan.

Said Aqiel Siradj (2001) menginventarisir tidak kurang dari sembilan peristiwa yang terukir dalam catatan sejarah, termasuk dalam konteks Indonesia. Pertama, Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu pertama kali pada tanggal pada 17 Ramadan. Kedua, pertempuran perdana antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir dalam perang Badar yang jatuh pada 17 Ramadan 2 H. Dalam pertempuran itu, sungguh pun rasio perbandingannya 1:3, tetapi pasukan Nabi Saw. di pihak yang memperoleh kemenangan. Ketiga, peristiwa fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) dari golongan kuffar pada 10 Ramadan 8 H. Semenjak peristiwa itu, kota Mekkah dihuni kaum muslimin hingga saat ini. Keempat, perang terakhir pada masa Rasulullah, perang Tabuk, juga jatuh pada bulan suci ramadan 9 H.

Kelima, kalahnya Hulaghu Khan setelah menaklukkan Baghdad dari tangan Sultan Qutus ‘Ain Jalut pada tanggal 15 Ramadan 658 H (3 September 1260 M). Keenam, penaklukan Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Panglima Thariq ibn Ziyad pada tanggal 28 Ramadan 92 H (19 Juli 711 M). Ketujuh, pada tanggal 25 Ramadan 479 H, Yusuf ibn Tasyfin dari Dinasti Murabithin menaklukkan pasukan Eropa. Dan kesembilan, kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda bertepatan dengan tanggal 8 Ramadan 1364 H.

Internalsiasi puasa

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah merupakan tonggak sejarah yang tak mungkin terlupakan bagi umat Islam. Apalagi, bulan Ramadan adalah satu-satunya nama bulan yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an. Pengabadian itu, tidak terlepas dari dua pointers, yakni nuzul al-Qur’an dan kewajiban puasa di bulan tersebut. Diturunkannya al-Qur’an yang menjadi simbol kebenaran hakiki Tuhan yang harus dilaksanakan oleh manusia yang ingin meniti jalan lurus (shirat al-mustaqim). Sementara puasa (shiyam atau shaum) diwajibkan Tuhan kepada kaum muslimin, sebagaimana halnya pendahulu-pendahulu mereka, dengan sasaran akhir agar mereka berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran yang telah diturunakn Tuhan (baca, taqwa).

Karena itu, perintah berpuasa sesungguhnya bukan titah biasa. Kata amanu dalam ayat Q.S. 2: 183 merupakan panggilan khusus bagi mereka yang mengaku dirinya beriman. Ini berbeda dengan lafadz lain semisal ayyuha an-nas (wahai manusia), yang merupakan seruan umum kepada semua umat manusia. Karenanya, dengan berpuasa, kita pun sebenarnya telah mengaku diri sekaligus membuktikan sebagai orang yang beriman.

Pertanyaannya, benarkah kita beriman? Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan model demikian ini mungkin dianggap “risih”, tidak sopan, emoh menjawab, atau lain sebagainya, karena dianggap seolah-olah meragukan keimanan seseorang. Namun bagi sebagian yang lain, gugatan dalam bentuk pertanyaan apapun, sebenarnya justru akan semakin memperkuat (quwwa) dan menambah (yazid) keimanan itu sendiri.

Refleksi dari pertanyaan itu setidaknya tercermin ke dalam dua hal. Pertama, kalau ada orang yang berpuasa, merasa diri beriman, tetapi masih melakukan maksiat, korupsi, ingkar janji, tidak memenuhi hak konstitusi, berarti kualitas iman lewat puasanya itu layak dipertanyakan. Seorang beriman sejatinya patuh aturan selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama. Inilah buah iman dan bukti diri seorang muslim sejati.

Kedua, keberhasilan seseorang dalam menjalankan puasa sesunggunya tercermin pasca ia menunaikan ibadah Ramadan. Jika selama sebelas bulan setelahnya tetap berperilaku sama dengan di bulan puasa, berarti ia benar-benar berubah menjadi baik. Begitu pula sebaliknya. Dan ini dapat berlaku pada semua kalangan umat muslim.

Ibadah puasa merupakan “olah jiwa tahunan” (riyadhah as-sanawiyah), yakni proses didik diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduniawian yang secara representatif dilambangkan dalam pantangan makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis. Suatu proses jihad akbar, perjuangan besar seorang muslim untuk memerangi hawa nafsu yang bercokol dalam dirinya.

Jihad yang paling berat (yang sebenarnya-benarnya jihad) tidak dalam arti fisik perang atau angkat senjata, seperti perbuatan konyol bom bunuh diri, tetapi sebagaimana disebutkan oleh sabda Nabi, adalah mereka yang kuat menahan hawa nafsu, dengan tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri dan orang lain. Semoga.

Facebook Comments