Puasa dan Pengamalan Pancasila

Puasa dan Pengamalan Pancasila

- in Suara Kita
202
0

Di tengah kekhusyukan pelaksanaan ibadah puasa, ada kelompok yang mengusik ideologi bangsa Indonesia tercinta. Bahwa keislaman dan keindonesiaan adalah dua hal yang berbeda sehingga harus ditolak dan digantikan dengan sistem yang, menurut kelompok ini, sesuai dengan syariat Islam.

Narasi yang dibangun adalah, bahwa sejak dahulu sampai sekarang, Pancasila tidak bisa mengatasi persoalan fundamental berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, jika ingin ada perubahan, maka Pancasila harus diganti. Sekali lagi, Pancasila sudah terbukti gagal.

Namun, kelompok ini sejatinya hanya vocal dalam tataran wacana. Secara kualitas dan kuantitas, mereka sangat sedikit. Akan tetapi fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab sesuatu yang kecil lama-lama akan menjadi ancaman besar.

Mengikuti Pancasila Berarti Ikuti Alquran

Terhadap isu sekaligus narasi diatas, imam besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar mengatakan bahwa: “Mengikuti Pancasila berarti ikut Alquran.” Senada dengan itu, Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin menegaskan bahwa; Pancasila merupakan wujud pengamalan nilai-nilai agama.”

Nah, peringatan hari lahir Pancasila yang bertepatan dengan bulan Ramadhan bukanlah suatu yang kebetulan, sehingga dianggap sesuatu hal yang biasa. Justru inilah keistimewaannya. Bahwa Pancasila yang dianggap sebagai ideologi yang bertentangan dengan nilai Islam semakin terbantahkan. Sebab, Pancasila dan keislaman adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Rikza Chamami (2017 dalam harakatuna.com, 01/6) mampu memotret betapa pesan Pancasila sudah diimplementasikan oleh Walisango. Misalnya, Sunan Ampel mengajarkan moh limo: moh main (tidak berjudi), moh ngombe(tidak mabuk), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak menghisap candu/ganja), moh madon (tidak berzina).

Betapa tidak. Contoh kecil, ada relevansi nilai-nilai Pancasila dengan spirit Ramadhan. Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukankah puasa itu merupakan wujud ibadah kepada Yang Maha Esa? Tengoklah surat Albaqarah ayat 183. Ini tentu sesuai dengan sila pertama. Sebagai bulan yang enuh berkah, Ramadhan atau bulan puasa dengan hadirnya berbagai kegiatan, maka harus dijadikan wahana strategis untuk menyebarkan pesan-pesan damai Islam. Sehingga Islam benar-benar menjadi rahmat lil alamiin (QS al-Anbiya, 107), bahwa agama Islam diturunkan oleh Allah untuk merahmati seluruh alam.

Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.  Sila kedua butir Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. KH. Ahmad Satori Ismail (2017) menegaskan bahwa semua ibadah dalam Islam (termasuk puasa) senantiasa dilandasi dengan nilai kemanusiaan. Bahkan, sayarat orang yang wajib puasa adalah yang mampu dan sehat. Sementara bagi orang yang sakit dan tidak memungkinkan untuk menjalankan puasa di bulan ramadhan, maka diberikompensasi, yaitu membayar fidyah (Albaqarah, 185).

Bulan Puasa lazim digunakan untuk berlomba-lomba beramal shaleh. Anak yatim, orang miskin, dan sejenisnya dimuliakan dalam bulan ini. Hal ini terbukti dari segenap acara pada bulan suci ini, salah satunya santunan anak yatim dan orang kaya mengundang orang miskin untuk berbagi rezeki.

Ketiga, Persatuan Indonesia.  Sangat jelas bahwa Islam sangat mengedepankan persatuan. Bahkan tidak hanya persatuan, melainkan juga persaudaraan. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa muslim dengan muslim lainnya ibarat satu bangunan. Puasa juga mengajarkan kepada segenap Muslim untuk mempererat tali persaudaraan. Hari Raya iduel Fitri, yang dilaksanakan pasca puasa adalalah bukti nyata bahwa bulan Ramadhan sayarat dengan persatuan.

Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmim, dalam kasih saying mereka sesamanya, dalam saling cinta mencintai antara sesame mereka serta dalam tolong-menolong sesamanya adalah bagaikan satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka sekujur tubuh akan merasakan sakitnya,… (HR. Al-Bukhari).

Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.  Berbagai diskusi keislaman mencerminkan betapa permusyawataran begitu kental dalam bulan ini. Sila keempat sungguh sejak lama dikenal dan diamalkan orang Islam secara keseluruhan. Tentu bukan karena apa-apa, melainkan kitab suci agama ini memang menginstruskikan demikian (Asy-Syura, 38).

Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bung Karno, dalam sebuah pidatonya di depan kepala negara anggota PBB mengkritik keras ideologi komunis dan kapitalisme yang digaungkan oleh Bertand Russel. Terinspirasi dari nilai-nilai Alquran, Bung Karno memaparkan Pancasila yang menekankan akan keadilan sosial. Tengok dan kajilah Surat An-Nahl, 90.

Gamblang sudah bahwa puasa saja mengandung spirit pengamalan Pancasila. Jadi, sesungguhnya Muslim tidak erlu khawatir dan ambisius untuk menerakan syariat Islam dalam ranah system negara. Dengan Pancaila, umat Islam memiliki kesempatan luas untuk mengekspresikan dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Facebook Comments