Puasa, Jihad dan Jalan Menuju Kemenangan

Puasa, Jihad dan Jalan Menuju Kemenangan

- in Keagamaan
2122
0

Dalam kehidupan ini kita seakan terus dipacu untuk meraih segala apa yang kita anggap sebagai kesuksesan, kesenangan dan kebahagian. Satu tahun manusia bergerak bagaikan mesin. Menjalani aktifitas rutin demi meraih mimpi kesuksesan dan kesenangan. Setelah mimpi itu tercapai, lalu apa selanjutnya?

Seorang yang kaya sudah bisa mengatakan : “sekarang tidak ada yang bisa menggagalkan keinginan saya. Saya bisa menyulap keinginan dengan uang yang berlimpah”.Tetapi setelah segala sesuatu tercapai, tersisa pertanyaan penting: hanya inikah arti kebahagian dan kedamaian?

Pertanyaan ini memang sulit dijawab. Apakah kesenangan duniawi telah (pasti) menetramkan hati. Apakah uang melimpah telah memuaskan segala hasrat dan keinginan manusiawi?

Nampaknya kita harus menengok kembali kata-kata bijak tentang nilai dan arti hidup. Plato mengatakan: kemiskinan itu bukanlah berarti berkurangnya harta milik kita tetapi karena meningkatnya kerakusan kita. Dengan makna yang sama teolog St. Gregorius mengatakan: “biarpun anda dapat memperoleh semua kekayaan dari seluruh dunia, masih banyak lagi yang belum dimiliki karena kekurangan itulah yang menyebabkan anda menjadi miskin”.

Dalam alam kebijaksanaan pengetahuan Timur saya merasa tergugah untuk mengingat kembali ajaran dari Sang Buddha. Secara sederhana dalam ajaran Budhha ada sebuah kata kunci penting bahwa keinginan adalah sumber penderitaan. Keinginan atau tanha merupakan hasrat yang berpusat pada upaya pemenuhan kepentingan diri sendiri. Keinginan untuk memperkaya diri, keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk dimuliakan, keinginan untuk memuaskan syahwat, dan keinginan untuk mencapai kesenangan diri.

Keinginan mementingkan diri sendiri ini yang telah menyebabkan kekacauan dan kerusakan di muka bumi. Semua orang mementingkan diri dan kelompoknya hanya untuk meraih keinginan diri yang tak pernah merasa terpuaskan. Selama orang terjerat dalam keinginan diri tanpa akhir, semakin ia terkungkung dalam penderitaan.

Lalu, bagaimana membebaskan manusia dari tanha dan meraih kebahagian yang sejati. Sang Buddha menawarkan latihan diri yang terangkum dalam 8 jalan menuju kebahagiaan; pengetahuan yang benar, kehendak yang benar, perkataan yang benar, perilaku yang baik, penghidupan yang benar, upaya yang benar, pikiran yang benar dan renungan yang benar.

Depalan jalan kebahagiaan ini sejatinya merupakan cara membebaskan manusia dari jeratan keinginan nafsu egosentrisme. Dalam Islam sebagaimana ditegaskan oleh Nabi membebaskan diri dari nafsu keinginan merupakan jihad terbesar. Agar manusia mampu melakukan jihad besar tersebut, ada momentum latihan yang disediakan dalam Islam untuk melatih diri dengan cara mengendalikan nafsu. Inilah inti puasa yang berasal dari akar kata shiyam, yang berarti menahan diri.

Puasa adalah riyadhah (latihan) yang mengajarkan konsep pengendalian nafsu. Puasa menempa kesiapan seorang hamba untuk berjihad pada medan perang yang amat berat, memerangi hawa nafsu.  Puasa adalah membatasi keinginan (tanha). Dalam konsep yang luas, puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus tetapi pengendalian diri baik secara jasmani dan rohani.

Karena itulah, Imam Ghazali membagi tiga tingkatan model berpuasa. Pertama shaumul umum, atau puasanya orang awam dengan hanya menahan lapar, dahaga dan syahwat dari hal-hal yang mebatalkan puasa. Kedua shaumul khushus, atau puasa spesial dengan menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari perbuatan dosa dan ma’shiyat. Dalam hal ini puasa akan batal dengan perllaku buruk dari aspek tindakan dan perbuatan yang tidak terpuji. Ketiga shaumul khususil khusus, atau puasanya orang istimewa yaitu puasa dengan menahan hati dari keraguan mengenai hal akhirat, dan menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah SWT.  Standard ke-batal-an puasa istimewa ini adalah apabila telah terbersit dalam hati pikiran selain Allah, apalagi memikirkan harta kekayaan yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat kelak.

Semoga pada bulan Ramadhan ini kita dapat memaknai puasa tidak hanya sebagai upaya menahan lapar dan haus, tetapi mampu mengendalikan pikiran buruk, perkataan buruk, sikap buruk, hingga niat buruk yang adalah dalam hati kita. Sebenarnya 8 jalan kebenaran yang ditawarkan oleh Sang Buddha memiliki kesamaan dengan makna puasa agar kitad tidak sekedar jatuh pada apa yang disinyalir oleh Nabi: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani).

Facebook Comments