Puasa, Kebangkitan Nasional dan Kesadaran Bersama di Tengah Pandemi

Puasa, Kebangkitan Nasional dan Kesadaran Bersama di Tengah Pandemi

- in Suara Kita
854
0
Puasa, Kebangkitan Nasional dan Kesadaran Bersama di Tengah Pandemi

Tanggal 20 Mei kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tahun ini, peringatan tersebut harus bertepatan dengan dua momentum penting yang sedang dihadapi umat beragama Islam dan bangsa Indonesia, yaitu bulan Ramadan dan kehadiran pandemi Covid-19.

Dalam konteks ini, pemaknaan terhadap momentum penting ini perlu dilakukan agar kita sebagai warga negara yang relijus dapat belajar bagaimana menempatkan diri dalam menghadapi persoalan kebangsaan yang tengah dihadapi. Mengingat, dua momentum penting sekaligus ini kini bertepatan dengan ujian kebangsaan yang tengah dihadapi, yakni pandemi korona.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, peristiwa Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merujuk pada momentum bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Awalnya, perjuangan kemerdekaan dilakukan secara lokal di daerah sehingga sering menghadapi kegagalan.

Akan tetapi, sejak berdirinya organisasi pergerakan Boedi Oetomo 20 Mei 1908 atau 112 lalu, yang diinisiasi oleh dr. Soetomo dan mahasiswa-mahasiswa STOVIA, awal mula munculnya suatu kesadaran bersama tentang pergerakan memperjuangkan kemerdekaan di atas kemajemukan bangsa. Artinya, pergerakan memperjuangkan kemerdekaan sudah tidak lagi terkotak-kotak oleh sekat perbedaan. Semua bersatu dengan visi yang sama, terbebas dari belenggu penjajahan.

Tanpa menafikan berbagai proses tahapan pergerakan nasional lainnya, momentum kebangkitan nasional pada saat itu merupakan embrio dan titik tolak bangsa ini untuk memiliki kesadaran pentingnya sebuah negara mandiri, pentingnya rasa persatuan, pentingnya perjuangan dan pentingnya kemerdekaan dari penjajahan. Peristiwa ini menandai bangkitnya kesadaran nasional untuk berubah menuju bangsa yang berdaulat, merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.

Baca Juga : Hikmah Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19

Pada konteks yang lebih luas, Kebangkitan Nasional sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah gerakan perjuangan kemerdekaan bangsa, tetapi lebih dari itu adalah munculnya kesadaran pribumi untuk mendefinsiikan identitas nasionalnya. Munculnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme merupakan hasil dari proses pemuda Indonesia merefleksikan bersama tentang kesadaran nasional. Gerakan ini selanjutnya menentukan bagaimana definisi Indonesia dalam imaji para tokoh pejuang kemerdekaan.

Dalam momentum tersebut, ikrar “persatuan” dikumandangkan oleh tokoh-tokoh muda bangsa, dan selanjutnya kini senantiasa menjadi komitmen bersama. Sehingga, yang mengemuka di permukaan bukan hanya gerakan bersama melawan penjajahan, tetapi juga munculnya kesadaran kebinekaan.

Kesadaran dan imaji yang terbayang dalam benak mereka bahwa Indonesia merupakan bangsa dengan ragam bahasa, suku, etnis, kepercayaan dan agama yang harus disatukan dalam sebuah Negara Kesatuan. Akhirnya, dapat dikatakan bahwa Indonesia lahir dari kebulatan tekad pemuda untuk menyatukan ragam perbedaan dalam tujuan yang sama kemerdekaan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Demikian komitmen ini menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini.

Puasa dan Mutual Awareness

Peringatan kebangkitan nasional yang bertepatan dengan hadirnya bulan Ramadan, seyogyanya menjadi momentum penting untuk membangkitkan kesadaran bersama (mutual awareness) dan kepedulian bersama. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, uluran tangan kemanusiaan menjadi sangat berarti agar kita bersama-sama dapat keluar dari pandemi, yang kini menjadi persoalan kebangsaan menyeluruh di setiap provinsi.

Puasa merupakan cara untuk meningkatkan kedisiplinan diri, kesempatan mengatur sikap dan perilaku, serta untuk mengembangkan diri yang lebih baik yang berfokus pada tujuan eksistensi yang lebih besar (Rifai Hasan, 2017). Bulan Ramadan merupakan kesempatan untuk penyegaran spiritual dan peningkatan kesalehan sosial, serta kepedulian kepada sesama manusia. Ramadan menjadi sarana untuk mencapai takwa (kesalehan), yang merupakan puncak kualitas kemanusiaan.

Saat berpuasa, kita jauh lebih sadar akan rasa lapar orang miskin dan penderitaan orang-orang yang tertindas. Apalagi di tengah krisis pandemi, ancaman kekurangan bahan pangan atau kelaparan semakin mengemuka dihadapi oleh fakir miskin dan orang-orang lemah lainnya (mustadl’afin). Ini karena banyak orang yang kehilangan pekerjaannya dan tidak memiliki penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kepekaan sosial dengan berbagi kepada sesama. Perbuatan ini mengajak kita pada tanggung jawab sosial, memberikan perhatian pada kesejahteraan masyarakat, dan mengilhami semangat berbagi yang berkelanjutan.

Dengan demikian, jelas bahwa dalam beribadah kepada Allah Swt. harus selalu memperhatikan aspek kesalehan sosial. Ingat bahwa agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama, seperti halnya Islam, mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan kepedulian terhadap sesama. Nabi Muhammad Saw. berkata, “sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).

Jadi, marilah kita jadikan puasa dan kebangkitan nasional sebagi momentum untuk bangkit dan bergerak bersama untuk membantu sesama agar dapat keluar dari krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Kesadaran bersama ini penting agar upaya segera keluar dari pandemi dapat lebih terorganisir dan terstruktur secara baik. Sehingga, kita dapat lulus  dari ujian kebangsaan pandemi Covid-19 dengan sehat dan selamat. Wallahu a’lam.

Facebook Comments