Puasa sebagai Perisai Diri dari Rasa Benci dan Intoleransi

Puasa sebagai Perisai Diri dari Rasa Benci dan Intoleransi

- in Narasi
487
0
Puasa sebagai Perisai Diri dari Rasa Benci dan Intoleransi

Hadirnya bulan Ramadan memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk memfitrahkan diri menjadi suci. Fitrah sebagaimana disaat baru terlahir dari rahim ibu, bersih tanpa tanpa dosa.

Satu tanda kedahsyatan manfaat puasa di bulan Ramadan, pada saat berpuasa seseorang terlihat lebih kalem, tidak mudah marah, senang beribadah dan bersedekah. Sebab puasa Ramadan merupakan madrasah atau tempat menempa diri menahan lapar, dahaga dan nafsu.

Puasa melatih untuk tidak mencaci, tidak membenci serta menahan segala penyakit hati. Kondisi jiwa seperti ini membentuk atmosfer kehidupan berada dalam tata ruang yang damai dan indah. Masing-masing menahan amarah dan segala laku yang bisa merusak nilai puasa. Kentalnya semangat untuk berbagi benar-benar menampilkan kehidupan surgawi.

Itulah kenapa Nabi menyebut puasa sebagai tameng atau perisai bagi umat Islam. Artinya, puasa merupakan tameng yang dapat membentengi umat Islam dari segala perbuatan buruk. Terhindar dari prilaku yang anti akan perbedaan, senang mencaci, hobi menyalahkan, dan suka mengkafirkan. Semua itu terjadi karena runtuhnya benteng pertahanan keimanan, disamping lemahnya ilmu pengetahuan agama. Puasa Ramadan mampu menjadi perisai mengatasi semua itu.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i, dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Puasa adalah tameng”. Ibnu Hajar al Haitami dalam karyanya Ithafu Ahli al Islam bi Khushushiyyah al Shiyam, menjelaskan maksud hadits ini. Tulisnya, puasa dapat melindungi dan membentengi seseorang dari api neraka. Pendapat lain mengatakan, membentengi seseorang dari mengikuti nafsu dan syahwat yang membahayakan.

Lebih lanjut, mengutip pendapat Qadhi ‘Iyadh, Ibnu Hajar menjelaskan, puasa Ramadan menjadi perisai dan benteng dari perbuatan maksiat. Segala prilaku negatif serta kemaksiatan terjadi karena seseorang tidak memiliki perisai dan benteng itu.

Perbuatan maksiat dan dosa banyak ragamnya. Diantaranya, berbohong, menggunjing, mencaci, menghina, membenci, intoleran, aksi-aksi kejahatan kemanusiaan seperti terorisme dan sejenisnya. Puasa mampu mengikis semua tabiat buruk tersebut.

Apa yang sering kita saksikan selama ini, sikap umat Islam di Indonesia yang kerap menampilkan sikap membenci dan intoleran terhadap orang atau kelompok lain karena faktor perbedaan, merupakan ciri hilangnya fungsi tameng bulan Ramadan. Suatu gejala sikap beragama yang tidak baik dan menyimpang dari tujuan dan hikmah puasa Ramadan. Suatu indikator hilangnya spirit puasa Ramadan dari pribadi umat Islam, sekalipun telah berulangkali berpuasa.

Sudah Puasa di Bulan Suci Tapi Rasa Benci dan Intoleransi tak mau Pergi

Nabi mengingatkan, tidak sedikit orang yang berpuasa di bulan Ramadan, tapi hanya sebatas kehausan dan kelaparan. Puasa tidak memberikan efek kebaikan dalam hidup berikutnya. Puasa yang demikian, sekalipun sah, tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap keimanan dan ketakwaan.

Dua syarat harus dipenuhi supaya puasa Ramadan tidak kehilangan ruhnya, yakni tidak berbohong dan tidak melakukan ghibah. Seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Utsman bin Abi al ‘Ash, puasa dapat membentengi dari api neraka selayaknya perisai saat perang asalkan seseorang tidak melakukan ghibah dan kebohongan.

Intoleransi termasuk kebohongan karena mengingkari kodrat manusia yang diciptakan beragam. Anehnya, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam justru sering dilingkupi sikap intoleran. Bahkan lebih dari itu, intoleransi sudah menjadi gerakan yang terstruktur dan sistematis. Masyarakat di aras bawah disuguhkan dengan bangunan eksklusifitas yang superior.

Realitas intoleransi adalah fenomena beragama yang kehadirannya diperkuat dengan doktrin teologis menggunakan simbolisasi jargon seperti “bid’ah, sesat dan kafir”. Model beragama yang menghadirkan kengerian dan ketakutan. Tak ayal, aksi-aksi terorisme kerap kali terjadi di Indonesia. Karena telah menjadi pengetahuan bersama, intoleransi merupakan pintu masuk seseorang terpapar ideologi radikal, setelah itu berpotensi melakukan aksi kejahatan terorisme.

Intoleransi meniscayakan suatu realitas yang nalar beragamanya adalah hitam-putih, benar-salah, suci-kafir dan seterusnya. Nilai-nilai humanis menjadi hilang, rasa persaudaraan raib, serta kebencian dan intoleransi menganga lebar. Antar individu atau antar kelompok dibatasi dengan tembok agama, tembok keyakinan dan tembok madhab.

Puasa Ramadan mampu menjadi tameng dari nalar beragama yang menghadirkan kengerian dan ketakutan tersebut. Puasa Ramadan kalau dilakukan secara baik dan sempurna mampu melahirkan proses penanaman cara hidup untuk menghormati, tulus dan toleran terhadap keragaman di tengah masyarakat plural.

Dalam konteks keindonesiaan, puasa Ramadan akan membentuk pribadi yang memahami keagamaan, keindonesiaan dan kemanusiaan menyatu menjadi satu nafas. Puasa Ramadan akan membentuk pribadi muslim yang menampilkan wajah agama yang ramah, toleran dan inklusif dan memberikan solusi bagi bangsa dan negara. Bukan sebaliknya.

Melakukan sebaliknya; menebar kebencian, intoleran dan eksklusif menjadi indikator kegagalan puasa Ramadan. Apalagi, ditambah dengan sikap anti terhadap negara, mengatakan Indonesia negara thagut atau negara kafir sehingga boleh melakukan peperangan dan kekerasan di negeri ini.

Kalau demikian, akan hilang fungsi atau hikmah puasa Ramadan sebagai tameng yang dapat membentengi manusia dari api neraka dan segala perbuatan buruk. Akibat kegagalan itu adalah model beragama yang menghadirkan kengerian dan ketakutan.

Facebook Comments