Ramadan, Teror, dan Jihad Umat Islam Indonesia

Ramadan, Teror, dan Jihad Umat Islam Indonesia

- in Suara Kita
219
0

Rasulullah SAW pada suatu waktu kembali dari peperangan, kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apa itu jihad besar?” Nabi menjawab, “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.” (HR. Al-Baihaqi).

Hadits Nabi ini sangat penting untuk direfleksikan semua umat Islam Indonesia. Selepas perang yang penuh kecamuk, Nabi justru menegaskan itu sebagai jihad kecil. Ini disampaikan Nabi ketika perang Badar, padahal umat Islam saat itu sedang berpuasa pertama kali dan jumlahnya masih sedikit. Nabi juga baru saja diperintahkan menjalankan puasa Ramadan pada tahun ke-2 hijriyah, sama dengan peristiwa perang Badar. Walaupun begitu, perang sejati ternyata bukan perang di medan laga, tetapi perang melawan hawa nafsu. Kunci melakukan perang hawa nafsu adalah puasa.

Teror yang terjadi di Kampung Melayu Jakarta membuktikan bahwa jihad dimaknai sangat menyimpang. Menjelang ramadan, yang ditegaskan Nabi bukanlah perang medan laga. Dalam khutbah menjelang Ramadan, Nabi justru mengajak umatnya untuk berlatih bersabar, karena ramadan adalah bulan bersabar. Selain itu, Nabi juga mengajak umatnya untuk memberi buka puasa kepada saudara yang berpuasa. Pahalanya tidak tanggung-tanggung, yakni seperti memerdekakan budak dan diampuni semua dosanya. Kalaupun tidak mempunyai sesuatu yang cukup, bisa memberikan buka puasa dengan segelas susu, atau sebiji kurma, bahkan segelas air putih. Inilah cara Nabi mengajak umatnya berjihad, dengan mengekang nafsu.

Jihad an-nafs ialah memerangi hawa nafsu yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri. Ada nafsu bernama nafs al-ammarah, yaitu nafsu yang selalu mengajak pemiliknya berbuat keburukan. Nafs Al-ammarah disebut ketika al-Qur’an menceritakan perkataan Nabi Yusuf, atau menurut sementara ahli tafsir perkataan tersebut diucapkan oleh wanita yang tergoda oleh ketampanan Nabi Yusuf as. Allah berfirman:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Yusuf [12]:53)

Umat Islam Indonesia

Jaman Nabi Muhammad saja, perang di medan laga dikatakan sebagai jihad kecil. Ini menjadi ibroh buat umat Islam Indonesia, bahwa jihad  akbar sekarang adalah melawan hawa nafsu berupa teror. Menjadi teroris adalah hawa nafsu, karena merasa menjadi yang paling benar, merasa menjadi penghuni surga. Ini nafsu yang sangat berbahaya, karena tidak diajarkan Nabi sedikitpun. Apalagi nafsu ingin mendirikan negara Islam, itu jelas nafsu duniawi yang sangat dikecam oleh Islam. Semua terjebak dalam nafsu, sehingga orang lain dianggap salah.

Jihad akbar melawan teroris bisa dilakukan dengan menguatkan pendidikan di berbagai lembaga pendidikan. Saat ini banyak sekali buku ajar pendidikan yang justru mengajarkan menjadi radikal dan teroris. Ini harus dibenahi bersama, jangan sampai dibiarkan. Pemerintah harus serius menangani ini. khususnya para guru, harus melakukan kajian serius terhadap buku yang menjadi pegangan. Jangan sampai siswa dibiarkan membaca buku yang menyesatkan. Dengan ini, maka bibit teroris akan putus. Lembaga pendidikan harus menjadi aktor pertama yang memutus generasi teroris, sehingga mereka makin mengecil dan minimalis pergerakkannya di Indonesia.

Di samping itu, jihad akbar bisa dilakukan dengan menciptakan kesejahteraan bagi semua warga. Ini ditegaskan Nabi dalam khutbahnya di awal puasa pertama kali. Memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa mengindikasikan bahwa umat Islam harus mampu menciptakan kesejahteraan. Dengan etos membangun kesejahteraan, maka lapangan kerja akan tersebar dengan luas. Masyarakat yang sibuk kerja dan produksi, maka bisa makin jauh dari teror, walaupun tidak mutlak.

Inilah jihad akbar yang mesti dilakukan bersama di bulan ramadan. Jihad akbar ini akan menjadikan umat Islam Indonesia sebagai umat yang menebarkan kedamaian dan kesejahteraan, sekaligus menyudahi terorisme dan kekerasan.

Walaupun jihad sosial, pendidikan, dan ekonomi harus dilakukan, tetapi tetap saja fokus menata hati harus diutamakan. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan tuntunan bagaimana berjihad memerangi hawa nafsu, yaitu dengan memelihara anggota tubuh dan memelihara hati dari kejahatan. 1) Memelihara diri dua macam syahwat, yaitu syahwat perut dan syahwat seksual. 2) Memelihara diri dari penyakit  lidah seperti berdusta, mencela, atau membicarakan keburukan orang laindan sebagainya. 3)  Memelihara diri dari sifat sombong dan membanggakan diri sendiri. 4) Memelihara diri dari tipu daya kehidupan dunia. 5) Memelihara diri dari sifat kikir dan mencintai harta. 6) Memelihara diri dari cinta kepada kedudukan dan pangkat. Yang dimaksud ialah cinta kepada kedudukan dan pangkat yang semata-mata karena menuruti keinginan nafsu, bukan dengan tujuan yang baik, karena Allah.

Facebook Comments