Ramadhan: Membunuh Kebencian, Membangun Persaudaraan Universal

Ramadhan: Membunuh Kebencian, Membangun Persaudaraan Universal

- in Suara Kita
491
0
Ramadhan: Membunuh Kebencian, Membangun Persaudaraan Universal

Secara harfiah ramadhan memiliki arti “panas”, “menyengat”, “membakar”, atau “kekeringan”. Bulan ramadhan juga umumnya dimaknai sebagai “bulan pembakaran dosa” atau pengampunan dan penghapusan dosa. Sesungguhnya ramadhan tak sekadar penghapusan atau pembakaran dosa. Secara substansial, orang-orang yang puasa pada bulan ramadhan adalah orang-orang yang sejatinya telah berlapang dada bersedia melakukan pembakaran terhadap jiwa dan mental binatang yang bersemayam dalam dirinya. Membakar  jiwa egoisme, sadisme, barbarianisme, kanibalisme, pesiminisme, jiwa serakah dan mental midasnisme. Inti ramadhan pada maknanya yang luas adalah membunuh kebencian, membangun etika welas asih dan persaudaraan universal di tengah keberagaman hidup yang diciptakan Tuhan di perut bumi ini.

Pada setiap ibadah yang diperintahkan dalam ajaran Islam, senantiasa memiliki makna pada dimensi sosial-kemanusian. Seringkali Ibadah hanya dipahami secara formalistik-ritualistik serta literalisme kosong. Adalah Roger Garaudy, seorang filsuf Perancis yang telah menyatakan diri masuk Islam, yang agak sedikit memberikan pencerahan sekaligus pandangan kritikal terhadap ritualisme yang kehilangan relevansinya dengan kehidupan, ia mengatakan seharusnya “dihayati makna shalat sebagai penyatuan dengan Allah, zakat sebagai penyatuan dengan kemanusiaan, haji sebagai penyatuan dengan seluruh umat, dan puasa sebagai sarana ingat kepada Allah dan orang kelaparan sekaligus.” Dengan perkataan lain, ibadah yang diperintahkan Tuhan adalah sarana training bagi manusia untuk menjadi yang terbaik memberi manfaat untuk orang banyak dan mencintai kemanusiaan.

Di tengah meriah dan semaraknya ibadah ritual yang kita lakukan, rasa-rasanya ikut pula dimeriahkan oleh perilaku yang sesungguhnya antithesis dari makna ibadah itu sendiri. Semaraknya ujaran kebencian, hasud, provokasi yang tak berdasar, caci maki yang merambah hampir di setiap dinding medsos warga netizen, memasuki mimbar-mimbar ibadah, hingga perilaku kekerasan di berbagai sudut kehidupan sosial kita mengindikasikan seolah hilang relevansinya antara ibadah ritual yang kita jalani dengan laku hidup yang kian bergeser jauh dari nilai-nilai “keadaban” dan “keilahiaan”.

Dari tahun ke tahun, kita menjalani puasa ramadhan sebagai upaya penyucian jiwa, membakar jiwa atau mental animal, membunuh racun kebencian dalam diri kita, tetapi dari tahun ke tahun pula, unjuk kebencian di antara sesama mengalami peningkatan dan kian tak terkendali bersamaan dengan hiruk pikuk dinamika politik nasional maupun lokal. Mengacu pada kasus yang ditangani Polri tahun 2017, setidaknya Polri telah menangani 3.325 kasus kejahatan hate speech atau ujaran kebencian. Dikatakan, angka tersebut naik 44,99% dari tahun sebelumnya, yang berjumlah 1.829 kasus. Hate speech yang paling banyak terjadi adalah kasus penghinaan, yaitu 1.657 kasus, atau naik 73,14% dibanding pada 2016. Kemudian, hate speech dengan kasus perbuatan tidak menyenangkan sebanyak 1.224 kasus. Sedangkan hate speech dengan kasus pencemaran nama baik sebanyak 444 kasus. Lepas dari data ini, unjuk kebencian nampak dengan mudah kita temukan di tengah keterbukaan media sosial saat ini, mulai dari penghinaan kepada tokoh agama, penghinaan kepada penguasa atau badan usaha, pencemaran nama baik, hingga isu berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.

Mengapa rasa benci dan ujaran kebencian bersemayam dalam diri kita? Barangkali diantaranya, kita masih melihat dan berpegang bahwa keberadaan sesama umat manusia dan anak bangsa tidak ditempatkan sebagai pilar yang saling mencintai, menjaga, melindungi, dan menyayangi, tetapi dilihat sebagai “orang lain” (the others) yang harus dimusuhi, dibenci, jika bukan harus dibumihanguskan sekaligus. Padahal, kebhinekaan atau keberagaman yang ada sejatinya dikelola dengan baik yang merupakan rahmat Tuhan sebagai wujud rasa syukur kepadaNya, bukan sebaliknya dilihat sebagai ancaman, jika bukan kotoran yang harus dilenyapakan. Adalah Buya Syafii Maarif yang mengigatkan kita bahwa, “perbedaan dan kebhinekaan, tidak mungkin dan tidak perlu dibunuh, tetapi dikelola dan dikendalikan dengan lapang dada agar pabrik sosial tidak menjadi remuk dan berantakan. Membunuh perbedaan dan kebhinekaan, di samping menentang hokum alam, ongkosnya terlalu mahal dan buahnya adalah penderitaan bagi yang tertindas.”

Semoga ramadhan tahun ini, kita dapat berlapang dada membuka diri secara tulus dan ikhlas agar puasa atau ibadah kita dapat membakar jiwa kebinatangan, membunuh kebencian, dan membangun persaudaraan universal yang merupakan substansi ajaran Islam dengan nilai-nilai profetik yang di bawanya. Akhirnya, cintalah yang membuat kita selamat, bukan kebencian. Kata Jalaluddin Rumi (1207-1373), dalam Mathnawi, jika tiada cinta, dunia akan membeku.

Wallahu’alam.

Facebook Comments